Tiga Tahun 7 Oktober: Luka yang Tak Kunjung Kering dan Bayang-bayang Perang
Baca dalam 60 detik
- Tiga tahun setelah serangan Hamas, para penyintas di Israel masih bergulat dengan trauma mendalam dan kehilangan yang tak tersembuhkan.
- Peringatan tiga tahun berlangsung beberapa pekan sebelum pemilu Israel, memicu perdebatan sengit soal tanggung jawab atas kegagalan keamanan dan jalannya perang.
- Di Kibbutz Nir Oz, komunitas yang hancur, muncul dilema antara membangun kembali kehidupan atau mengabadikan reruntuhan sebagai monumen peringatan.

Tiga tahun berlalu sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, namun bagi para penyintas di Israel, luka itu masih terasa segar. Keith Siegel, yang menghabiskan 484 hari dalam penawanan di Gaza, mengaku hidup dalam dua dunia sekaligus—secara fisik bebas, tetapi pikirannya terus terperangkap di tempat ia disandera. "Saya hidup dalam semacam kehidupan ganda," ujarnya dalam wawancara di Tel Aviv. "Saya di sini untuk sementara waktu, dan saya di Gaza untuk sementara waktu. Sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata."
Serangan pada 7 Oktober 2023 merupakan hari paling mematikan dalam sejarah Israel. Menurut catatan surat kabar Haaretz, 1.209 orang tewas, mayoritas warga sipil, termasuk 36 anak-anak. Sebanyak 251 orang disandera ke Gaza, termasuk Keith dan istrinya, Aviva, yang saat itu berusia 64 dan 62 tahun. Pasangan itu tinggal di Kibbutz Kfar Aza, salah satu komunitas yang paling parah terkena dampak.
Di Kibbutz Nir Oz, pemakaman setempat menyimpan dua baris nisan baru yang menandai kehidupan yang berakhir pada tanggal yang sama. Caretaker Shlomo Margalit, yang akan berusia 89 tahun, merawat makam tiga sahabat lamanya—pendiri kibbutz yang datang bersamanya dari Haifa pada 1950-an. "Ini adalah proyek hidup saya, sekaligus rumah saya," kata Margalit. Ia kini tinggal di bekas rumah Gadi Moses, 82 tahun, yang selamat setelah 482 hari disandera.
Kegagalan keamanan pada hari itu menjadi sorotan utama. Margalit menuturkan bahwa pasukan pertahanan sukarela yang terdiri dari lima orang mampu menahan Hamas selama setidaknya dua jam. Namun setelah mereka semua ditembak, kibbutz dikuasai dan dijarah, rumah-rumah dibakar, keluarga dibantai dan diculik. "Nir Oz dilupakan oleh tentara dan dihancurkan tanpa militer melepaskan satu tembakan pun untuk membelanya," kenangnya.
Di tengah upaya membangun kembali kehidupan, muncul dilema sulit: antara menghidupkan kembali kibbutz sebagai komunitas yang hidup dan melestarikan bukti fisik serangan. Di satu sisi, pembangunan rumah baru terus berjalan dan keluarga-keluarga telah pindah. Di sisi lain, jalan-jalan masih membentang di antara reruntuhan menghitam dan monumen untuk para korban. "Ada keluarga yang tidak tahan tinggal di sini, tetapi ingin tempat peringatan untuk dikunjungi," kata Margalit. "Di sisi lain, bisakah Anda membangun kibbutz baru tempat anak-anak tumbuh bermain di antara rumah-rumah yang terbakar?"
Bagi pasangan Siegel, keputusan untuk tidak kembali ke Kfar Aza diambil demi pemulihan mental dan fisik. Aviva mengaku trauma itu terus menghantui. "Apa yang terjadi pada saya di Gaza, apa yang terjadi pada Keith di Gaza, itu selalu ada," ujarnya. Menjelang peringatan tahun ini, ia merasakan kembali luka yang masih mentah. "Dua minggu terakhir ini yang ingin saya lakukan hanyalah menangis. Sekarang saya merasakan hal-hal yang tidak saya rasakan sebelumnya."
"Ketika saya mendengar cucu saya mengatakan dia takut diculik di tengah malam, hati saya hancur." — Aviva Siegel
Keith Siegel menekankan perlunya penyelidikan independen untuk memahami bagaimana serangan itu bisa terjadi. "Perlu ada investigasi untuk memahami bagaimana ini terjadi, agar kita bisa melakukan segala upaya agar tidak terulang lagi. Begitu banyak orang tewas, terluka, trauma," tegasnya. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan keras menolak pembentukan komisi penyelidikan negara independen. Para kritikus menilai ia takut penyelidikan itu akan mengungkap kegagalannya sendiri.
Peringatan tiga tahun ini berlangsung beberapa pekan sebelum pemilu nasional, dan sebagian besar negara terlibat dalam debat sengit tentang tanggung jawab atas hari paling mematikan dalam sejarah Israel. Para penyintas dan keluarga korban berusaha menghindari kancah politik, masih bergulat dengan trauma dan upaya membangun kembali normalitas. Namun, bagi banyak orang, pemilu kali ini dianggap yang paling kritis sejak berdirinya Israel pada 1948.
Margalit, yang tinggal di komunitas yang berakar pada gerakan Zionis sayap kiri, melihat penderitaan sebagai bukti pahit bahwa perang saja tidak dapat menawarkan keamanan jangka panjang. "Saya tidak percaya kita bisa mengabaikan fakta bahwa orang Palestina tinggal di sini," ujarnya. "Kita harus menemukan cara untuk hidup bersama mereka dan tetap aman. Saya tidak punya jawabannya, saya hanya tahu kita akan tetap di sini dan mereka juga akan tetap di sini. Mungkin kita butuh seseorang dari luar."
Ketika Israel bersiap menuju pemilu dan masa depan yang belum pasti, pertanyaan mendasar tetap menggantung: akankah negara itu mampu mengatasi luka-luka yang belum sembuh, atau akankah bayang-bayang 7 Oktober terus menghantui setiap langkah menuju perdamaian?



