Rubio Sebut Iran Lewatkan Peluang Nuklir, Harga Minyak Tembus US$101
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Teheran telah menyia-nyiakan sejumlah kesempatan untuk mencapai kesepakatan nuklir.
- Kebuntuan perundingan memicu eskalasi serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dikawal militer AS.
- Harga minyak mentah Brent naik ke US$101,23 per barel, menambah tekanan pada ekonomi negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan Iran telah melewatkan sejumlah peluang untuk mencapai kesepakatan atas program nuklirnya. Pernyataan itu disampaikan saat ia berkunjung ke Yunani, menandai kebuntuan yang kian dalam antara Washington dan Teheran setelah tujuh bulan konflik bersenjata yang dipimpin AS.
Menurut Rubio, Teheran tidak memanfaatkan momen-momen krusial yang tersedia untuk bernegosiasi. Sikap itu mempertegas posisi Washington yang menuntut pembatasan ambisi nuklir Iran sebagai syarat utama gencatan senjata permanen. Sebelumnya, Wakil Presiden J.D. Vance menegaskan bahwa kesepakatan apa pun harus memuat komitmen Iran untuk mengurangi pengayaan uranium secara signifikan.
Presiden Donald Trump pekan lalu membantah laporan yang menyebut dirinya menawarkan keringanan sanksi sebagai imbalan konsesi nuklir. Bantahan itu justru memperlebar jarak antara kedua pihak, sekaligus memupus harapan akan terobosan diplomatik dalam waktu dekat.
Ketegangan di lapangan semakin nyata. Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Kapal-kapal di kawasan itu kini mengandalkan pengawalan militer AS untuk bisa melintas dengan aman.
Eskalasi tersebut diperparah oleh serangan terpisah yang dilancarkan Houthi—kelompok yang didukung Iran—terhadap dua bandara di Arab Saudi. Insiden ini langsung mendorong harga minyak mentah Brent ke level US$101,23 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus US$89,63. Pasar energi merespons setiap gangguan pasokan di Timur Tengah dengan volatilitas tinggi, dan kali ini tidak berbeda.
“Iran telah gagal memanfaatkan berbagai peluang untuk mencapai kesepakatan dengan kami soal program nuklir,” ujar Rubio, seperti dikutip dari pernyataannya di Yunani.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak bukan sekadar angka di layar bursa. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, kenaikan Brent dan WTI akan menekan anggaran subsidi energi, memperlebar defisit transaksi berjalan, dan pada akhirnya mengancam stabilitas nilai tukar rupiah. Pemerintah mungkin perlu menyesuaikan asumsi harga minyak dalam APBN jika ketegangan berlanjut hingga kuartal berikutnya.
Di sisi lain, ketidakpastian ini juga membuka peluang bagi negara produsen seperti anggota OPEC+ untuk menaikkan produksi guna meredam harga. Namun, dengan konflik yang masih berlarut, intervensi pasokan tidak akan cukup jika jalur Hormuz benar-benar terganggu secara signifikan.
Pertanyaannya, berapa lama Washington dan Teheran akan terus saling mengunci dalam posisi masing-masing? Tanpa kompromi, harga minyak berpotensi terus melambung, dan negara-negara berkembang—termasuk Indonesia—akan menanggung beban terberat dari ketegangan yang tidak mereka ciptakan.



