Bank Sampah Malaka Sari Dilirik Juri Benyamin S Award, Warga Kampung Berbenah demi Trofi
Baca dalam 60 detik
- Tim penilai Benyamin S Award menyambangi Bank Sampah ASRI di Perumahan Bumi Malaka Asri I, Duren Sawit, Jakarta Timur, untuk meninjau Festival Pilah dan Olah Sampah yang digelar warga RW 02.
- Keikutsertaan dalam ajang bergengsi tingkat nasional ini menandai pergeseran citra bank sampah: dari sekadar tempat pembuangan terpilah menjadi ruang kreativitas dan pemberdayaan komunitas.
- Jika berhasil membawa pulang trofi, model pengelolaan sampah berbasis RW di Malaka Sari berpeluang direplikasi di kawasan permukiman lain di Jakarta yang masih bergelut dengan persoalan volume sampah harian.

Tim juri Benyamin S Award menyambangi Bank Sampah ASRI yang berlokasi di RW 02, Perumahan Bumi Malaka Asri I, Jakarta Timur, Rabu (7/10/2026). Kunjungan itu dilakukan untuk menilai Festival Pilah dan Olah Sampah, sebuah agenda lingkungan yang digagas warga setempat dan didaftarkan dalam kompetisi bergengsi tersebut.
Kedatangan dewan penilai menjadi penanda bahwa inisiatif tingkat rukun warga kini diperhitungkan dalam peta penghargaan nasional. Selama ini, Bank Sampah ASRI dikenal sebagai sentra pemilahan dan pengolahan limbah rumah tangga di kawasan Malaka Sari, Duren Sawit. Festival yang mereka gelar bukan sekadar seremonial, melainkan puncak dari rutinitas panjang pengelolaan sampah yang melibatkan puluhan kepala keluarga.
Benyamin S Award sendiri lekat dengan apresiasi terhadap tokoh dan komunitas yang memberi dampak sosial nyata. Masuknya bank sampah ke dalam radar juri menunjukkan bahwa kriteria penilaian mulai bergeser: bukan hanya soal popularitas, tetapi juga keberlanjutan program dan keterlibatan warga. Bagi Malaka Sari, ini adalah panggung untuk membuktikan bahwa persoalan sampah bisa ditangani dari tingkat paling bawah, tanpa menunggu intervensi besar dari pemerintah kota.
Pengamat kebijakan lingkungan dari Universitas Indonesia, Rina Herlina, menilai langkah warga Malaka Sari sebagai bentuk partisipasi sipil yang jarang terlihat di kota besar. "Bank sampah yang dikelola konsisten bisa menjadi simpul ekonomi sirkular. Ketika ada festival dan penilaian eksternal, ada tekanan positif untuk terus berbenah," ujarnya saat dihubungi terpisah.
Festival Pilah dan Olah Sampah tidak hanya memamerkan hasil pemilahan, tetapi juga mendorong warga mengolah limbah menjadi produk bernilai. Pola semacam ini sejalan dengan target pengurangan sampah nasional yang menuntut peran aktif masyarakat, bukan hanya tanggung jawab dinas kebersihan. Di banyak kota, bank sampah yang aktif terbukti menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Bagi Jakarta, keberadaan bank sampah seperti ASRI menjadi oase di tengah persoalan sampah yang belum tuntas. Setiap hari, ibu kota menghasilkan ribuan ton sampah, dan sebagian besar masih berakhir di Bantargebang. Inisiatif warga di Malaka Sari menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus menunggu proyek besar; langkah kecil yang konsisten bisa memberi dampak signifikan jika direplikasi.
Yang menarik, kompetisi ini juga membawa dimensi budaya. Nama Benyamin S merujuk pada legenda seni Betawi, sehingga penilaian tidak hanya soal teknis lingkungan, tetapi juga seberapa kuat akar komunitas dan kearifan lokal dalam program yang dijalankan. Bank Sampah ASRI, dengan latar permukiman Betawi, berpotensi menonjol di aspek ini.
Ke depan, hasil penjurian akan menentukan apakah Malaka Sari mampu membawa pulang trofi. Namun, terlepas dari hasilnya, peninjauan ini sudah memberi energi baru bagi warga untuk melanjutkan kerja-kerja lingkungan yang selama ini berjalan tanpa sorotan. Pertanyaannya, akankah model ini menular ke RW lain di Jakarta, atau tetap menjadi cerita tunggal di sudut timur ibu kota?



