Studi: Ilmuwan 'Techno-Optimist' Kurang Terlibat Aksi Iklim, Ini Dampaknya
Baca dalam 60 detik
- Survei London School of Economics terhadap 9.000 ilmuwan di 115 negara menemukan keyakinan bahwa teknologi akan menyelesaikan krisis iklim berkorelasi dengan rendahnya partisipasi dalam aksi iklim.
- Ilmuwan dengan pandangan techno-optimist 23% lebih jarang menandatangani petisi dan 18% lebih enggan mengubah gaya hidup ramah lingkungan.
- Temuan ini memicu kritik bahwa solusi teknologi sering dijadikan alasan menunda transformasi sosial-ekonomi yang mendesak.

Sebuah studi terbaru dari London School of Economics (LSE) mengungkap bahwa ilmuwan yang meyakini teknologi akan menyelesaikan krisis iklim cenderung kurang terlibat dalam aksi iklim. Survei terhadap lebih dari 9.000 ilmuwan di 115 negara itu menemukan kelompok yang disebut techno-optimist ini 23% lebih jarang menandatangani petisi atau mengikuti protes dibandingkan rekan mereka yang meragukan peran teknologi. Mereka juga 18% lebih enggan mengubah gaya hidup berdampak tinggi, seperti mengurangi penerbangan atau beralih ke pola makan vegan/vegetarian.
Fabian Dablander, penulis utama studi yang dipublikasikan di Environmental Research Letters, menilai bahwa kepercayaan berlebihan pada solusi teknologi dapat mengalihkan perhatian dari transformasi sosial-ekonomi yang jauh lebih mendesak. "Solusi teknologi seringkali menarik secara politik karena menjanjikan penyelesaian krisis iklim tanpa mengubah cara hidup dan konsumsi masyarakat," ujarnya. "Namun teknologi tidak bisa menggantikan perubahan sosial yang lebih luas dan pergeseran besar dalam pola konsumsi yang juga dibutuhkan."
Dari total responden, 27% setuju bahwa teknologi akan menyelesaikan masalah iklim, sementara 44% tidak setuju, dan 29% netral. Studi ini juga menemukan bahwa techno-optimism lebih umum di kalangan ilmuwan dengan pandangan politik kanan dan mereka yang bekerja di bidang ilmu terapan dan alam.
Prof Kevin Anderson dari Tyndall Centre for Climate Change Research, University of Manchester, yang tidak terlibat dalam studi, mengkritik fenomena ini. Menurutnya, banyak akademisi iklim berpenghasilan tinggi dan bergengsi cenderung memilih "pil biru"—menghindari tanggung jawab pribadi dan mempertahankan fiksi bahwa mereka peduli lingkungan sambil tetap menjalani hidup yang berkontribusi besar pada masalah. "Keyakinan pada keselamatan teknologi di masa depan menjadi kruk untuk menunda pilihan sulit hari ini," tambahnya. Ia menyoroti bahwa dasar bukti dari janji-janji teknologi seringkali jauh dari standar ketat yang mereka tuntut dari penelitian orang lain.
"Semakin tidak nyaman implikasi bukti, semakin besar semangat untuk percaya pada masa depan yang tidak didukung bukti." – Prof Kevin Anderson
Meski studi ini berfokus pada ilmuwan, implikasinya terasa global, termasuk di Indonesia. Negara ini menghadapi dilema serupa: di satu sisi mendorong transisi energi dengan teknologi seperti kendaraan listrik dan pembangkit terbarukan, di sisi lain masih bergantung pada batu bara dan deforestasi. Jika keyakinan pada teknologi justru melemahkan advokasi dan perubahan perilaku, upaya mitigasi iklim bisa melambat. Padahal, Indonesia termasuk 10 besar emitor gas rumah kaca dunia dan sangat rentan terhadap dampak iklim.
Pertanyaannya, akankah temuan ini mengguncang komunitas ilmiah untuk lebih vokal dan bertindak? Atau justru memperkuat perpecahan antara mereka yang percaya pada inovasi dan yang menuntut perubahan sistemik? Yang jelas, krisis iklim tidak bisa diselesaikan dengan teknologi semata tanpa perubahan perilaku kolektif.



