Russell Keberatan Vest Pendingin Dilarang, Mercedes Pilih Kembangkan Mobil di Bawah Cost Cap
Baca dalam 60 detik
- George Russell menolak memakai cooling vest di GP Malaysia meski FIA mengizinkan, karena Mercedes tak punya dana tambahan di luar batas anggaran.
- Suhu lintasan Sepang menembus 60 derajat Celsius, memaksa pembalap berlomba dengan perlengkapan tahan api penuh tanpa pendingin tubuh.
- Russell mendesak FIA mengecualikan pengembangan perangkat keselamatan dari cost cap, sementara Mercedes justru membawa paket upgrade tujuh komponen.

George Russell memilih tidak mengenakan rompi pendingin saat Grand Prix Malaysia digelar di Sirkuit Sepang, meskipun FIA telah menetapkan status bahaya panas yang memungkinkan pembalap memakai perangkat tersebut. Pembalap Mercedes itu menuding batas anggaran atau cost cap sebagai penyebab timnya tidak mengembangkan teknologi yang sudah dimiliki sejumlah rival.
Keputusan ini muncul ketika suhu udara di Sepang diprediksi melampaui 31 derajat Celsius, sementara suhu aspal pada sesi latihan bebas kedua Jumat lalu menyentuh angka 60 derajat Celsius. Pembalap harus bertahan dengan pakaian dalam tahan api, sarung tangan, helm, dan balaclava yang menutup hampir seluruh tubuh. Tanpa sirkulasi pendingin, kokpit berubah menjadi tungku berjalan.
Russell mengaku sudah merasakan ketidaknyamanan itu bahkan sebelum masuk mobil. "Saya berkeringat hanya dengan duduk di pantai memakai celana pendek dan sandal jepit," ujarnya kepada Daily Mail, seraya menambahkan bahwa kondisi di dalam kokpit akan terasa seperti berada di dalam oven.
Yang membuat Russell geram, tim-tim lain di grid telah mengadopsi rompi pendingin. Perangkat ini bekerja dengan mengalirkan cairan melalui selang kecil di dalam rompi untuk menurunkan suhu tubuh. Namun, tidak semua pembalap memilihnya. Sebagian lebih memilih ballast tambahan seberat 5 kilogram karena menilai rompi tersebut tidak memberi perbedaan signifikan, bahkan bisa ikut memanas ketika cairan di dalamnya bersirkulasi.
Biaya integrasi sistem pendingin ke dalam mobil F1 masuk dalam penghitungan cost cap yang tahun ini ditetapkan sebesar 215 juta dolar AS. Mercedes, menurut Russell, memilih mengalokasikan dana tersebut untuk pengembangan performa mobil W17. Tim asal Brackley itu membawa paket upgrade besar yang tersebar di tujuh komponen, dengan proyeksi peningkatan waktu putaran sekitar tiga persepuluh detik.
Russell mengungkapkan bahwa timnya sempat menawarkan opsi pengembangan rompi pendingin, tetapi dengan konsekuensi mengorbankan sebagian anggaran pengembangan mobil. "Tim bertanya, kami bisa mengembangkannya, tetapi ada harga yang harus dibayar ketika kami sedang berusaha mengembangkan mobil di dalam batas anggaran," tuturnya.
Ia pun mendesak FIA turun tangan. Menurutnya, perangkat keselamatan pembalap seharusnya tidak dihitung dalam cost cap. "Kami semua seharusnya memakai rompi itu. Ketika berfungsi, hasilnya sangat baik. FIA harus mengizinkan kami mengembangkannya di luar batas anggaran," tegas Russell.
Sikap Russell mencerminkan dilema yang lebih luas di paddock: regulasi penghematan biaya yang bertujuan menyeimbangkan kompetisi kerap berbenturan dengan kebutuhan perlindungan pembalap. Di satu sisi, cost cap mencegah tim besar mendominasi lewat belanja besar-besaran. Di sisi lain, inovasi yang menyangkut keselamatan—seperti pendingin tubuh—menjadi korban efisiensi anggaran.
Rekan setim Russell, Kimi Antonelli, juga dipastikan menghadapi kondisi serupa. Sementara Max Verstappen memilih pendekatan berbeda: ia mengaku telah menjalani persiapan mental intensif selama empat hingga lima bulan untuk menghadapi panas ekstrem, tanpa memakai rompi pendingin.
Bagi Russell, pengalaman pahit di sesi sebelumnya menjadi pelajaran. Ia mengaku sempat syok saat berpindah dari panas ekstrem ke bak es. "Mungkin saya sudah belajar dari itu dan akan baik-baik saja," ujarnya.
Jika FIA tidak mengubah aturan, para pembalap yang tidak memakai rompi pendingin akan terus menanggung risiko dehidrasi dan kelelahan di balapan bertemperatur tinggi. Pertanyaannya, apakah keselamatan pembalap akan tetap menjadi prioritas ketika dana pengembangan harus bersaing dengan performa mobil di bawah bayang-bayang cost cap?



