Peringatan dari Essex: Menanam 500 Ribu Pohon Tak Cukup, Tanpa Sistem Penyiraman 80% Mati
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Inggris berkomitmen menanam setengah juta pohon dalam tiga tahun, tetapi tanpa manajemen penyiraman yang memadai, sekitar 80% bibit dilaporkan mati.
- Kegagalan ini tidak hanya memboroskan anggaran, tetapi juga menghilangkan manfaat iklim, naungan, dan penyimpanan air yang seharusnya dinikmati masyarakat.
- Pelajaran bagi Indonesia: program penghijauan besar-besaran harus disertai sistem perawatan berkelanjutan, bukan sekadar seremoni penanaman.

Janji politik untuk menanam setengah juta pohon di Inggris dalam tiga tahun ke depan mendapat sorotan tajam. Seorang warga Essex, Diana Lowry, mengingatkan bahwa tanpa sistem penyiraman rutin hingga pohon benar-benar tumbuh mandiri, upaya itu berisiko menjadi kesia-siaan. Ia mengamati banyak area di negaranya yang bibit tanamannya mati sekitar 80% akibat manajemen yang buruk.
Angka kematian 80% itu bukan sekadar statistik. Lowry menekankan bahwa dampak yang hilang pun sebanding: kemampuan pohon menyerap karbon, memberikan naungan, dan menyimpan air berkurang drastis. Artinya, investasi publik untuk penghijauan bisa menguap tanpa jejak manfaat yang nyata.
Kritik ini bukan hal baru di dunia kehutanan. Program penghijauan sering kali dinilai dari jumlah pohon yang ditanam, bukan dari jumlah yang bertahan hidup. Padahal, pohon muda membutuhkan perhatian intensif pada tahun-tahun pertama, terutama di musim kemarau. Tanpa irigasi dan pemantauan, bibit mudah stres dan mati.
Di Indonesia, persoalan serupa kerap muncul. Berbagai program nasional seperti Gerakan Indonesia Menanam atau rehabilitasi hutan dan lahan sering menargetkan jutaan bibit. Namun, laporan dari lapangan menunjukkan banyak bibit yang tidak terawat setelah penanaman seremonial. Akibatnya, angka keberhasilan hidup (survival rate) rendah, dan manfaat lingkungan tidak maksimal.
Pakar kehutanan menilai bahwa keberhasilan penghijauan ditentukan oleh perencanaan pasca-tanam. Diperlukan anggaran untuk penyiraman, penyiangan, dan perlindungan dari hama. Tanpa itu, program hanya menjadi proyek simbolis. Lowry menegaskan, “Sangat penting ada sistem penyiraman teratur sampai pohon benar-benar mapan.”
“Di seluruh negeri, ada hamparan bibit yang baru ditanam, dan sekitar 80% mati karena kurangnya manajemen yang tepat. Dampaknya pada iklim, naungan, dan penyimpanan air juga berkurang 80%.” — Diana Lowry, warga Epping, Essex.
Selain soal pohon, surat pembaca di The Guardian juga menyoroti isu referendum keanggotaan Uni Eropa dan larangan sementara kacamata pintar di Norwegia. Namun, pesan tentang pohon tetap yang paling relevan dengan krisis iklim. Pemerintah Inggris diminta tidak hanya mengejar target kuantitas, tetapi juga kualitas perawatan.
Ke depan, pertanyaannya: akankah pemerintah Inggris mengalokasikan dana perawatan yang memadai, ataukah program ini akan berakhir sebagai catatan angka tanpa hasil? Bagi Indonesia, pelajaran ini menjadi cermin bahwa menanam pohon hanyalah langkah awal—merawatnya adalah kunci.



