Benyamin S Award 2026 Masuki Penjurian Lapangan: 27 Kelurahan Bersaing, Pemenang Diumumkan Akhir Oktober
Baca dalam 60 detik
- Tim juri Benyamin S Award 2026 mendatangi 27 kelurahan di lima kota administrasi Jakarta plus Kepulauan Seribu untuk menilai inovasi tata kelola wilayah secara langsung.
- Empat pilar penilaian—Bersih, Nyaman, Indah, Sejahtera—menjadi instrumen utama, dengan penekanan pada pengelolaan sampah, penataan kawasan kumuh, dan potensi ruang terbuka hijau.
- Hasil kurasi penjurian akan menentukan 10 besar tingkat kota sebelum final provinsi, dan pemenang dijadwalkan diumumkan pada akhir Oktober 2026.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menuntaskan tahap penjurian lapangan Benyamin S Award 2026 dengan mengunjungi 27 kelurahan yang lolos seleksi awal. Kunjungan tersebut dilakukan tim penilai dari staf ahli Gubernur DKI Jakarta bersama sejumlah organisasi perangkat daerah, mencakup lima wilayah kota administrasi dan Kepulauan Seribu.
Penjurian lapangan ini menjadi babak krusial setelah peserta melewati verifikasi daring. Berbeda dari penilaian berbasis dokumen, tim juri turun langsung untuk memeriksa kondisi riil di tiap wilayah—mulai dari kebersihan lingkungan, penataan permukiman, hingga potensi ekonomi lokal yang bisa dikembangkan. Ajang ini mengambil nama seniman legendaris Betawi, Benyamin Sueb, sekaligus menjadi akronim dari empat pilar: Bersih, Nyaman, Indah, dan Sejahtera.
Juri Benyamin S Award 2026, Nirwono Joga, memaparkan bahwa penilaian tidak sekadar melihat pencapaian administratif. Fokus pertama adalah kemampuan kelurahan mewujudkan lingkungan bebas sampah. Aspek kedua menyangkut kenyamanan warga, termasuk upaya membebaskan wilayah dari kawasan kumuh dan praktik buang air besar sembarangan (BABS).
"Kami juga menemukan potensi ruang terbuka hijau yang bisa dijadikan taman di tengah kepadatan kota. Yang menarik, muncul pula potensi seni budaya dan kuliner yang berpeluang menjadi destinasi wisata," ujar Nirwono.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa Benyamin S Award tidak berhenti pada lomba kebersihan. Ajang ini mulai bergeser menjadi instrumen pemetaan potensi ekonomi kawasan, terutama di kelurahan padat penduduk yang selama ini luput dari perhatian investor pariwisata. Bagi Jakarta, yang tengah mendorong pengembangan wisata berbasis komunitas, data semacam ini bisa menjadi basis kebijakan lanjutan.
Di tingkat kelurahan, persiapan menghadapi ajang ini menuntut kerja kolaboratif antara aparat dan warga. Lurah Kebon Sirih, Henny Mahrojah, mengakui tantangan terbesar adalah menyamakan persepsi antara pemerintah kelurahan dan masyarakat. Meski demikian, setelah koordinasi intensif, dukungan warga mengalir dan proses persiapan berjalan lancar.
Lurah Lagoa, Yuyun Wahyudi, mengandalkan kategori Bersih dan Nyaman dengan program unggulan pengelolaan sampah di RW 6 melalui bank sampah dan pemilahan rutin. Menurutnya, inisiatif itu mengubah sampah dari beban menjadi sumber berkah bagi warga. Sementara Lurah Utan Kayu Selatan, Ria Handayani, optimistis berkat sinergi RT, RW, LMK, dan pegiat seni budaya di wilayahnya.
Kabag Kerja Sama Pihak Ketiga Biro KSD Setda Provinsi DKI Jakarta, Faisal, menyatakan data hasil penjurian masih dikurasi dan direkap. Tim penilai tingkat provinsi akan memilih sejumlah kelurahan untuk mewakili kotanya masuk 10 besar, sebelum melaju ke tingkat provinsi. Kelurahan yang lolos sebagai finalis akan mengikuti verifikasi langsung dan presentasi tatap muka sebagai penentu akhir.
Jika merujuk jadwal, pemenang kelurahan terbaik per kategori akan diumumkan pada akhir Oktober 2026. Pertanyaannya, apakah Benyamin S Award mampu mendorong perubahan tata kelola yang berkelanjutan di tingkat kelurahan, atau hanya menjadi agenda seremonial tahunan yang ramai saat penjurian lalu surut setelah pemenang ditetapkan?



