Gempa M6,1 Guncang Sumba: Sekolah dan Rumah Warga Rusak, Satu Korban Luka
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 6,1 menghantam Kodi, Sumba Barat Daya, NTT, pada Minggu dini hari, merusak dua rumah dan satu SD Islam di Perokonda.
- BMKG mencatat guncangan dirasakan pada skala IVโVI MMI, dengan satu warga mengalami luka ringan; gempa susulan masih berlangsung beberapa jam setelahnya.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan infrastruktur di kawasan timur Indonesia yang berada di zona pertemuan lempeng aktif.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,1 mengguncang Kodi, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (4/10) dini hari, menyebabkan dua rumah warga dan sebuah sekolah dasar Islam di Perokonda mengalami kerusakan. Satu orang dilaporkan menderita luka ringan akibat peristiwa tersebut.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengungkapkan bahwa kerusakan terpusat di wilayah Perokonda. "Kerusakan tersebut ada di wilayah Perokonda, yakni di SD Islam dan dua rumah warga," ujarnya, seraya menambahkan bahwa tingkat kerusakan di beberapa lokasi tergolong sedang.
Menurut BMKG, getaran gempa terasa pada skala IV hingga VI Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada skala IV, guncangan dirasakan banyak orang di dalam rumah, gerabah pecah, dan dinding berderik. Sementara skala VI membuat seluruh penduduk terkejut, plester dinding berjatuhan, dan cerobong asap pabrik rusak ringan. "Gempa dapat dirasakan pada skala IV hingga VI MMI," kata Teguh.
Gempa utama terjadi pada pukul 05.55 WIB, berpusat di 10 kilometer selatan Kodi, Sumba Barat Daya, dengan kedalaman 14 kilometer. Setelah guncangan pertama, serangkaian gempa susulan dengan magnitudo lebih rendah terus terjadi selama beberapa jam. BMKG mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi getaran lanjutan, meski tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan.
Wilayah Sumba dan Nusa Tenggara Timur secara geologis berada di zona pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia, menjadikannya rawan gempa. Infrastruktur di daerah terpencil seperti Perokonda sering kali belum dibangun dengan standar tahan gempa yang memadai, sehingga kerusakan mudah terjadi bahkan pada magnitudo menengah. Kejadian ini kembali menggarisbawahi pentingnya penguatan bangunan publik, terutama sekolah, sebagai upaya mitigasi bencana.
Meski demikian, respons cepat BMKG dalam memetakan dampak dan skala MMI menunjukkan sistem peringatan dini yang berfungsi. Tantangan berikutnya adalah memastikan informasi tersebut menjangkau masyarakat di pelosok dan diikuti dengan tindakan evakuasi yang tepat. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan asesmen menyeluruh terhadap bangunan yang terdampak, sembari menyiapkan bantuan bagi warga yang rumahnya rusak.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana kesiapsiagaan komunitas di kawasan rawan gempa seperti Sumba dapat ditingkatkan. Tanpa edukasi dan penegakan standar bangunan yang konsisten, risiko kerusakan serupa berpotensi terulang saat gempa berikutnya datang tanpa peringatan.



