Beto Goncalves Wanti-wanti Timnas Indonesia: Thailand Bukan Lawan Sembarangan di Final ASEAN Cup 2026
Baca dalam 60 detik
- Beto Goncalves menegaskan dukungannya untuk Timnas Indonesia di final FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand, namun mengingatkan bahwa lawan memiliki kekompakan dan chemistry yang sudah terbangun lama.
- Laga puncak dijadwalkan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2026) pukul 20.00 WIB, menjadi ujian bagi skuad Garuda yang diperkuat pemain naturalisasi.
- Rekor pertemuan kedua tim menunjukkan Thailand masih lebih unggul dengan 37 kemenangan berbanding 25 milik Indonesia dari 78 pertemuan, menambah bobot rivalitas di partai final.

Jelang partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026, mantan penyerang Timnas Indonesia, Beto Goncalves, menyuarakan dukungannya kepada skuad Garuda yang akan menjamu Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2026) pukul 20.00 WIB. Namun ia tidak menutup mata pada kualitas lawan yang disebutnya telah memiliki modal kekompakan mumpuni.
Beto, yang kini memperkuat Persekabpas Pasuruan, menilai Thailand bukan tim yang bisa diremehkan. Menurutnya, pemain-pemain Gajah Perang sudah lama bermain bersama sehingga memiliki chemistry yang solidโsebuah keunggulan yang terlihat jelas dalam laga-laga sebelumnya. "Kita harus akui Thailand sangat kuat dan kompak," ujar Beto saat dihubungi awak media, Sabtu (3/10/2026).
Meski demikian, pria kelahiran Brasil yang telah menjadi warga negara Indonesia itu tetap optimistis. Ia menyoroti kualitas skuad Merah-Putih yang dinilai semakin matang, terutama dengan kehadiran sejumlah pemain naturalisasi berpengalaman di level internasional. Keberadaan mereka, kata Beto, menjadi salah satu pilar kekuatan tim asuhan pelatih saat ini.
Perjalanan Indonesia ke final tidak lepas dari performa konsisten di fase grup. Mengoleksi tujuh poin dari tiga pertandingan, tim asuhan pelatih ini tampil sebagai juara Grup A meski harus bersaing ketat dengan Malaysia yang memiliki nilai sama. Produktivitas gol menjadi pembeda yang mengantar langkah mereka ke babak puncak.
Di sisi lain, Thailand melaju sebagai juara Grup B dengan enam poin, sama seperti Vietnam. Namun Gajah Perang berhak atas tiket final berkat keunggulan head-to-head dan selisih gol. Fakta ini menegaskan bahwa Thailand bukan hanya mengandalkan kualitas individu, tetapi juga efektivitas dalam momen-momen krusial.
"Saya sebagai orang Indonesia tentu mendukung penuh. Harapan saya tim nasional kita bisa juara. Tapi kita juga harus objektif, Thailand punya kekuatan yang nyata," kata Beto, yang juga pernah membela Sriwijaya FC.
Rivalitas Indonesia dan Thailand di pentas sepak bola Asia Tenggara memang sudah terjalin panjang. Berdasarkan data 11v11, kedua tim telah bertemu 78 kali. Thailand masih memimpin dengan 37 kemenangan, sementara Indonesia mengoleksi 25 kemenangan, dan 16 laga lainnya berakhir imbang. Catatan ini menjadi pengingat bahwa laga final nanti bukan sekadar adu taktik, melainkan juga pertarungan mental dan sejarah.
Beto berharap dukungan penuh dari publik di Stadion Utama Gelora Bung Karno dapat menjadi energi tambahan bagi para pemain. Ia menyadari tekanan di partai final berbeda, tetapi ia yakin pengalaman bertanding di level internasional yang dimiliki sejumlah pemain naturalisasi bisa menjadi penyeimbang.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Indonesia memanfaatkan status tuan rumah dan memutus dominasi Thailand di laga puncak? Jawabannya akan tersaji di atas rumput SUGBK, dan seluruh mata sepak bola Asia Tenggara akan tertuju ke Jakarta.



