Pieter Huistra dan Misi Kebangkitan PSS Sleman di BRI Super League: Fokus Laga Terdekat, Benahi Kekurangan
Baca dalam 60 detik
- PSS Sleman akan menjamu PSM Makassar pada pekan keempat BRI Super League 2026/2027 di Stadion Maguwoharjo, Minggu (11/10/2026).
- Tiga kekalahan beruntun membuat PSS terpuruk di peringkat ke-15, hanya satu tingkat di atas zona degradasi.
- Pelatih Pieter Huistra menegaskan timnya tidak boleh terbebani posisi klasemen dan harus fokus pada perbaikan permainan di setiap laga.

PSS Sleman kembali ke kompetisi BRI Super League 2026/2027 dengan tekanan besar. Menghadapi PSM Makassar di Stadion Maguwoharjo, Minggu (11/10/2026) sore WIB, Super Elja dituntut bangkit setelah menelan tiga kekalahan beruntun di pekan-pekan awal.
Kekalahan dari Bali United (1-2), Madura United (1-3), dan Dewa United (1-2) menempatkan PSS di peringkat ke-15 klasemen sementara, hanya unggul satu tingkat dari zona degradasi. Posisi itu menjadi alarm bagi tim asuhan Pieter Huistra, terlebih kompetisi baru berjalan tiga pekan.
Jeda tiga pekan akibat FIFA Matchday seharusnya menjadi waktu pemulihan. Namun, PSS hanya memiliki kurang dari sepekan untuk mempersiapkan diri menghadapi PSM. Mengembalikan sentuhan dan ritme permainan menjadi pekerjaan rumah utama. Pelatih asal Belanda itu menegaskan bahwa timnya tidak boleh larut dalam beban klasemen.
"Untuk saat ini, kami hanya melihat satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Kami selalu berusaha memenangkan laga berikutnya. Itu yang selalu kami lakukan," ujar Huistra, Selasa (6/10/2026).
Huistra menilai tiga laga awal bukan tolok ukur final karena lawan yang dihadapi tergolong berat. Ia berharap saat menghadapi tim yang secara teori lebih terbuka, PSS mampu memaksimalkan peluang meraih poin. "Sejauh ini, kami sudah menghadapi tiga lawan yang cukup berat. Ketika lawan yang lebih ringan datang, kami harus mendapatkan poin," tambahnya.
Bagi PSS, laga melawan PSM bukan sekadar upaya meraih tiga poin. Ini adalah kesempatan untuk membangun kembali kepercayaan diri dan membuktikan bahwa evaluasi yang dilakukan selama jeda berjalan efektif. Huistra menekankan pentingnya fokus pada tindakan yang bisa dikendalikan ketimbang memikirkan target jangka panjang.
"Kalau kita terlalu jauh melihat ke depan, itu tidak akan memberikan kekuatan atau energi. Satu-satunya hal yang bisa kami pengaruhi adalah tindakan berikutnya," tegasnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan filosofi banyak pelatih Eropa yang menganut prinsip game by game. Namun, di liga dengan tekanan suporter sebesar Indonesia, menjaga stabilitas mental pemain menjadi tantangan tersendiri. PSS memiliki basis suporter fanatik yang menuntut hasil instan, sehingga manajemen dan tim pelatih perlu meredam ekspektasi berlebihan.
Dari sisi taktik, Huistra dituntut membenahi lini pertahanan yang kebobolan enam gol dalam tiga laga. Efektivitas serangan juga menjadi sorotan; meski mampu mencetak gol di setiap pertandingan, PSS belum mampu mengamankan poin. Evaluasi menyeluruh terhadap organisasi permainan, transisi bertahan, dan penyelesaian akhir menjadi prioritas.
PSM Makassar bukan lawan yang mudah. Klub berjuluk Juku Eja itu memiliki pengalaman dan kualitas skuad yang mumpuni. Namun, bermain di kandang sendiri bisa menjadi modal berharga bagi PSS untuk memetik hasil positif. Dukungan langsung dari suporter di Stadion Maguwoharjo diharapkan menjadi energi tambahan.
Jika PSS kembali gagal meraih poin, tekanan terhadap Huistra dipastikan meningkat. Manajemen mungkin akan mengevaluasi kinerja pelatih, meski kompetisi masih panjang. Sebaliknya, kemenangan atas PSM bisa menjadi titik balik kebangkitan Super Elja untuk mengarungi sisa musim.
Pertanyaannya, mampukah PSS memanfaatkan momentum jeda untuk bangkit, atau justru semakin terbenam di dasar klasemen? Jawabannya akan terlihat di lapangan, Minggu sore nanti.



