Kabut Asap Karhutla Belum Hilang, PJJ di Palangka Raya Diperpanjang untuk Kedelapan Kali
Baca dalam 60 detik
- Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya kembali memperpanjang pembelajaran jarak jauh hingga 7 Oktober 2026 akibat kabut asap karhutla yang tak kunjung surut.
- Kebijakan ini menjadi perpanjangan kedelapan sejak PJJ pertama kali diterapkan pada awal September, dengan evaluasi yang dilakukan setiap tiga hari.
- Meski mendukung langkah tersebut demi keselamatan anak, orang tua mulai mengeluhkan kejenuhan siswa dan keterbatasan interaksi sosial selama belajar dari rumah.

Kualitas udara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, masih belum aman bagi anak-anak. Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya resmi memperpanjang masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga 7 Oktober 2026โperpanjangan kedelapan sejak kebijakan ini pertama kali diberlakukan pada awal September lalu akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani, menjelaskan bahwa perpanjangan ini merupakan hasil evaluasi rutin setiap tiga hari. "Penetapan PJJ dilakukan setiap tiga hari dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara dan ketebalan kabut asap. Keputusan perpanjangan disampaikan sebelum masa PJJ sebelumnya berakhir," ujarnya, Selasa (6/10).
Sejak pertama kali diterapkan pada 7โ9 September 2026, PJJ telah diperpanjang berulang kali: 14โ16 September, 17โ19 September, 21โ23 September, 24โ26 September, 28โ30 September, 1โ3 Oktober, hingga 5โ7 Oktober 2026. Kebijakan ini berlaku untuk seluruh satuan pendidikan PAUD, SD, dan SMP, baik negeri maupun swasta di Kota Palangka Raya.
Jayani menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama. Aktivitas belajar tatap muka dinilai belum ideal selama kualitas udara dan ketebalan kabut asap masih berisiko bagi anak-anak. Namun, ia juga mengakui bahwa PJJ yang berulang kali diperpanjang mulai menimbulkan tantangan bagi keluarga. "Orang tua harus kembali menyediakan waktu untuk mendampingi anak belajar, sedangkan sebagian siswa menghadapi kendala jaringan internet maupun keterbatasan perangkat," katanya.
Dinas Pendidikan mengimbau orang tua untuk tetap mendampingi anak selama PJJ dengan mengatur waktu belajar secara teratur, membatasi aktivitas di luar rumah, serta memastikan kebutuhan makanan bergizi dan air minum terpenuhi. Jika muncul keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan paparan asap, orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan. Sekolah juga diingatkan agar tidak memberikan beban tugas secara berlebihan dan tetap menjalin komunikasi aktif dengan orang tua.
"Harapannya kondisi udara segera membaik, sehingga anak-anak dapat kembali mengikuti pembelajaran secara normal. Yang paling penting kesehatan dan keselamatan peserta didik tetap menjadi pertimbangan utama," kata Jayani.
Di sisi lain, orang tua murid mulai merasakan dampak sosial dari perpanjangan PJJ. Ika Rustanti, salah satu orang tua siswa SD di Palangka Raya, mengaku mendukung kebijakan tersebut karena risiko paparan asap dinilai lebih mengkhawatirkan. Meski begitu, ia mengakui anaknya mulai merasa jenuh karena terlalu lama belajar dari rumah. "Saya berharap karhutla dan kabut asap segera berakhir sehingga kegiatan belajar dapat kembali normal. Anak-anak pun diharapkan bisa kembali belajar di sekolah, bermain, dan berinteraksi dengan teman dalam kondisi yang aman dan nyaman," ujarnya.
Perpanjangan PJJ yang kesekian kali ini menyoroti persoalan yang lebih mendasar: kualitas udara di Palangka Raya yang belum juga membaik meski upaya pemadaman karhutla terus dilakukan. Kembalinya siswa ke ruang kelas kini sepenuhnya bergantung pada hilangnya kabut asapโbukan pada kalender akademik. Jika kondisi udara tidak segera pulih, bukan hanya proses belajar yang terganggu, tetapi juga kesehatan jangka panjang anak-anak dan beban sosial-ekonomi keluarga yang harus terus beradaptasi.



