Kapolri Suyudi Rombak 88 Jabatan: Asep Edi Suheri ke Irwasum, Dadang Hartanto Pimpin Polda Metro
Baca dalam 60 detik
- Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menunjuk Komjen Asep Edi Suheri sebagai Irwasum, menggantikan Komjen Wahyu Widada yang pindah ke Kementerian ATR/BPN.
- Irjen Dadang Hartanto, sebelumnya Kapolda Maluku, naik memimpin Polda Metro Jaya, sementara 19 posisi Kapolda lain juga berganti.
- Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026 mencatat 88 personel dimutasi, 70 di antaranya promosi, dan 21 naik pangkat.

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menunjuk Komisaris Jenderal Asep Edi Suheri sebagai Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri, meninggalkan kursi Kapolda Metro Jaya yang ia duduki sebelumnya. Posisi yang ditinggalkan Asep diisi oleh Irjen Dadang Hartanto, yang sebelumnya bertugas sebagai Kapolda Maluku. Rotasi ini tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, menandai perombakan besar di tubuh institusi kepolisian.
Mutasi kali ini tidak hanya menyentuh satu atau dua jabatan. Sebanyak 19 posisi Kapolda mengalami pergantian, termasuk di wilayah strategis seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Metro Jaya. Selain itu, sejumlah jabatan utama di Mabes Polri juga diisi wajah baru: Kabareskrim kini dijabat Irjen Asep Safrudin, Kepala Baharkam diemban Irjen Herry Heryawan, Kabaintelkam dipercayakan kepada Irjen Dedy Kusuma Bakti, dan Kalemdiklat dipimpin Irjen Rudi Darmoko.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir menegaskan bahwa langkah ini merupakan konsekuensi logis dari dinamika organisasi. Menurutnya, penyegaran jabatan bertujuan memastikan kesinambungan tugas sekaligus membuka ruang pengembangan karier bagi personel. "Mutasi dan rotasi jabatan merupakan bagian dari dinamika organisasi Polri. Hal ini dilakukan sesuai kebutuhan organisasi sekaligus sebagai bagian dari pembinaan karier dan penyegaran dalam pelaksanaan tugas kepolisian," ujar Johnny dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (3/10).
Perombakan ini menyasar sejumlah posisi yang selama ini menjadi ujung tombak penegakan hukum dan pengamanan wilayah. Polda Metro Jaya, sebagai satuan yang membawahi ibu kota dan kawasan penyangga, memiliki beban kerja tinggi, mulai dari pengamanan unjuk rasa, penanganan kejahatan jalanan, hingga pengawalan agenda nasional. Kepemimpinan Dadang Hartanto diharapkan mampu menjaga stabilitas keamanan di tengah dinamika politik dan sosial yang terus berkembang.
Selain promosi, mutasi ini juga mencakup kenaikan tingkat kepangkatan bagi 21 personel serta penyesuaian jenjang jabatan bagi sejumlah Perwira Tinggi (Pati) dan Perwira Menengah (Pamen). Johnny berpesan agar para pejabat yang mendapat amanah baru segera menyesuaikan diri dan melanjutkan program yang sudah berjalan. "Setiap personel yang mendapat amanah jabatan baru tentu diharapkan dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, melanjutkan tugas yang sudah berjalan dan memberikan pelayanan kepolisian yang optimal kepada masyarakat," tambahnya.
Bagi publik, rombakan ini menjadi indikator arah kebijakan Kapolri Suyudi Ario Seto. Penempatan Asep Edi Suheri di Irwasum—posisi yang bertanggung jawab mengawasi kinerja internal—menimbulkan ekspektasi tinggi terhadap perbaikan tata kelola dan pengawasan. Sementara itu, sejumlah pengamat kepolisian menilai bahwa mutasi besar-besaran seperti ini lazim dilakukan untuk memperkuat soliditas organisasi, namun efektivitasnya sangat bergantung pada konsistensi pengawasan dan akuntabilitas di lapangan.
Dengan 70 personel yang dipromosikan, Polri tampak berupaya memberikan insentif karier sekaligus merotasi posisi untuk mencegah kejenuhan. Namun, tantangan ke depan tidak ringan: mulai dari penanganan konflik agraria, kejahatan siber, hingga pengamanan Pemilu 2029 yang mulai mendekat. Publik akan mencermati apakah penyegaran ini benar-benar berdampak pada peningkatan pelayanan, atau sekadar formalitas organisasi. Pertanyaan besarnya, mampukah struktur baru ini menjawab ekspektasi masyarakat akan penegakan hukum yang adil dan transparan?



