Fenomena Gen Z Ucapkan 'I Love You' di Ruang Rapat, Sinyal Krisis Profesionalisme?
Baca dalam 60 detik
- Kebiasaan sebagian pekerja muda mengucapkan 'I love you' sebagai salam perpisahan di kantor memicu perdebatan soal batas profesionalisme.
- Survei ResumeBuilder menunjukkan 31 persen manajer menghindari merekrut Gen Z, sementara 30 persen lainnya mengaku pernah memecat mereka dalam sebulan pertama.
- Pandemi Covid-19 dinilai menjadi akar melemahnya keterampilan komunikasi dan adaptasi sosial generasi ini di dunia kerja.

Sebuah pemandangan tak biasa muncul di sejumlah ruang rapat kantor: alih-alih mengucapkan 'selamat tinggal' atau 'terima kasih', sejumlah karyawan muda memilih melontarkan 'I love you' saat berpamitan. Kebiasaan ini pertama kali diangkat oleh seorang penulis anonim di Inc Magazine yang mengaku bingung dengan perilaku rekan kerja barunya di sebuah firma akuntansiโsektor yang dikenal konservatif dan formal.
Dalam tulisannya, sang penulis mengungkapkan keheranannya karena ucapan kasih sayang itu digunakan untuk hal-hal sepele, seperti meninggalkan rapat. "Apakah ini normal? Apakah ada yang melatih mahasiswa untuk mengatakan 'I love you' dengan tujuan memperlihatkan kasih sayang atau apresiasi di tempat kerja?" tulisnya, seperti dikutip dari CNN Indonesia. Unggahan itu pun cepat menyebar dan memicu perdebatan di linimasa.
Pakar dunia kerja Alison Green menilai fenomena tersebut sebagai sinyal adanya kebingungan batas antara kehidupan sosial dan lingkungan profesional. Menurutnya, apa yang lazim di kampus atau lingkaran pertemanan tidak otomatis pantas dilakukan di kantor. "Saya tidak heran jika sebagian besar pelakunya adalah anak muda. Sepertinya mereka belum memahami apa yang boleh dilakukan di sekolah bersama teman, tapi tidak boleh dilakukan di tempat kerja," ujar Green, seperti dilansir Your Tango.
Green menyarankan agar pekerja senior tidak sekadar menghakimi, melainkan memberi arahan. Apresiasi terhadap niat baik Gen Z tetap perlu, namun perusahaan wajib menetapkan rambu-rambu komunikasi yang jelas. Ia menyoroti bahwa perilaku semacam ini kerap menjadi alasan di balik enggannya banyak perusahaan merekrut lulusan baru.
Kepala Penasihat Karier ResumeBuilder, Stacie Haller, mengaitkan persoalan ini dengan dampak pembelajaran daring selama pandemi. Menurutnya, Gen Z kehilangan momen krusial untuk belajar komunikasi tatap muka, menerima kritik konstruktif, dan mengamati dinamika sosial di lingkungan kerja. "Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z menghadapi tantangan unik dalam memperoleh keterampilan dasar di tempat kerja karena pandemi Covid-19," ujar Haller dalam survei tersebut.
Di Indonesia, fenomena serupa mulai terasa di banyak kantor. Konsultan sumber daya manusia mencatat peningkatan keluhan dari manajer soal etika komunikasi karyawan muda, terutama setelah gelombang kerja hybrid pasca-pandemi. Banyak perusahaan teknologi dan startup di Jakarta dan Surabaya yang kemudian mengadakan pelatihan 'professional etiquette' untuk menjembatani perbedaan gaya komunikasi antargenerasi. Namun, tidak sedikit pula yang memilih menyesuaikan budaya perusahaan agar lebih inklusif terhadap ekspresi emosional, selama tidak mengganggu produktivitas.
Terlepas dari pro-kontra, insiden 'I love you' ini membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana dunia kerja berubah. Generasi yang tumbuh dengan budaya digital cenderung mengekspresikan apresiasi secara terbuka, sementara generasi sebelumnya memegang norma formalitas. Perusahaan dihadapkan pada pilihan: memperketat aturan atau melunakkan budaya. Yang jelas, komunikasi lintas generasi menjadi keterampilan manajerial yang semakin mahal harganya.
Ke depan, gelombang karyawan Gen Z akan semakin mendominasi pasar kerja Indonesia. Tanpa jembatan pemahaman yang memadai, gesekan kecil seperti ucapan salam perpisahan bisa berkembang menjadi persoalan retensi dan produktivitas. Akankah perusahaan mampu beradaptasi, atau justru kehilangan talenta muda hanya karena perbedaan cara mengucapkan selamat tinggal?



