Pilot Flydubai Diserang Kapak di Kokpit, UAE Sebut Upaya Terorisme
Baca dalam 60 detik
- Kopilot Flydubai FZ1073 menyerang kapten dengan kapak darurat dan berupaya menguasai pesawat, menurut jaksa agung Uni Emirat Arab.
- Pesawat membawa lebih dari 170 orang dan sempat jatuh 16.625 kaki dalam 30 detik sebelum pilot cadangan mendaratkannya di Tabuk, Arab Saudi.
- Investigasi gabungan UAE-Israel tengah menelusuri motif, latar belakang, dan kemungkinan jaringan di balik insiden yang disebut sebagai serangan teroris.

Penerbangan Flydubai FZ1073 dari Uni Emirat Arab menuju Israel berubah menjadi mimpi buruk pada Rabu pekan lalu. Jaksa Agung Uni Emirat Arab, Hamad Saif Al Shamsi, menyatakan bahwa kopilot pesawat tersebut melancarkan serangan yang dikategorikan sebagai upaya terorisme. Ia menyerang kapten di dalam kokpit menggunakan kapak darurat dan berusaha mengambil alih kendali pesawat.
Insiden ini pertama kali diungkap oleh kantor berita negara WAM pada Sabtu. Menurut sumber yang mengetahui langsung, kopilot tersebut adalah Hammam al-Hammami, warga negara Oman. Otoritas UAE belum memberikan konfirmasi resmi mengenai identitasnya. Serangan terjadi di dalam kokpit, tempat kru biasanya menyimpan kapak pemecah kaca untuk situasi darurat seperti kecelakaan.
Data pelacakan penerbangan Flightradar24 menunjukkan pesawat sempat kehilangan ketinggian sekitar 16.625 kaki hanya dalam waktu 30 detik saat melintasi wilayah udara Arab Saudi. Manuver ekstrem itu mengindikasikan adanya perebutan kendali yang berlangsung singkat namun sangat berbahaya. Seorang pilot cadangan Flydubai yang ikut dalam penerbangan tersebut akhirnya berhasil mengambil alih kemudi dan mendaratkan pesawat di Bandara Tabuk, Arab Saudi barat laut. Kopilot pelaku langsung ditahan oleh otoritas Saudi.
Pesawat itu mengangkut lebih dari 170 penumpang dan awak, mayoritas warga negara Israel. Rute penerbangan tersebut memang populer di kalangan pelancong Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat mengatakan bahwa pihaknya tengah menyelidiki apakah kopilot bertindak atas arahan seseorang, dan memperingatkan bahwa siapa pun yang terlibat akan menanggung akibat berat. Sehari sebelumnya, Netanyahu menyebut pelaku telah menjalani indoktrinasi Islam radikal dan tampak memiliki kecenderungan bunuh diri, meski motif pastinya belum ditetapkan.
Investigasi kini melibatkan otoritas Uni Emirat Arab dan Israel. Seorang pejabat pemerintah Israel mengatakan bahwa penyidik Israel akan bergabung dalam penyelidikan yang dipimpin UAE untuk mengusut kejadian, motif, serta latar belakang tersangka. Jaksa Agung UAE menambahkan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan keadaan insiden, motif, dan koneksi terkait, termasuk pemeriksaan bukti fisik dan digital.
"Investigasi sedang berjalan untuk menentukan keadaan insiden, motif, dan koneksi terkait, serta memeriksa bukti fisik dan digital," ujar Jaksa Agung Hamad Saif Al Shamsi.
Flydubai melalui juru bicaranya menyatakan bahwa pihaknya belum dapat berkomentar lebih jauh karena penyelidikan masih berlangsung. Maskapai yang berbasis di Dubai itu menegaskan akan bekerja sama dengan otoritas terkait.
Insiden ini memunculkan pertanyaan serius tentang prosedur keamanan penerbangan komersial, terutama akses awak kokpit terhadap peralatan darurat. Kapak pemecah kaca yang seharusnya hanya digunakan saat keadaan darurat justru menjadi senjata. Para pengamat penerbangan menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap protokol pengamanan kokpit, termasuk latar belakang psikologis awak pesawat.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap penerbangan sipil tidak selalu datang dari luar. Otoritas bandara dan maskapai nasional perlu memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi ancaman dari dalam, termasuk penilaian berkala terhadap kondisi mental dan ideologi kru. Kerja sama intelijen lintas negara juga semakin relevan, mengingat rute-rute internasional kerap menjadi jalur strategis bagi pelaku teror.
Dengan penyelidikan yang masih berjalan, dunia penerbangan menanti apakah insiden ini akan mendorong revisi standar keamanan global. Pertanyaan besarnya: sejauh mana maskapai dan regulator siap mengantisipasi ancaman dari orang dalam yang justru memiliki akses penuh ke ruang kendali pesawat?



