Pilot Pendamping Flydubai Serang Kapten dengan Kapak Darurat, UAE Sebut Terorisme
Baca dalam 60 detik
- Jaksa Agung Uni Emirat Arab menyatakan kopilot Flydubai FZ1073 melakukan percobaan serangan teroris menggunakan kapak darurat saat pesawat menuju Israel.
- Pelaku sebelumnya dilarang terbang oleh Oman karena indikasi pandangan ekstremis, namun kemudian direkrut oleh maskapai berbasis Dubai itu.
- Investigasi multinasional sedang berjalan untuk mengungkap motif, sementara insiden ini menguji klaim keamanan UAE dan menimbulkan pertanyaan tentang prosedur vetting pilot.

Otoritas Uni Emirat Arab (UAE) mengungkap bahwa kopilot Flydubai penerbangan FZ1073 mencoba melakukan serangan teroris dengan kapak darurat di dalam kokpit saat pesawat menuju Israel, Rabu pekan lalu. Jaksa Agung UAE menyebut pelaku juga berupaya mengambil alih kendali pesawat, sebelum akhirnya dilumpuhkan oleh awak dan penumpang. Insiden ini nyaris mengakibatkan pesawat yang mengangkut 182 orang itu jatuh akibat manuver menukik tajam.
Fakta bahwa pelaku pernah dilarang terbang oleh Oman karena kekhawatiran akan pandangan ekstremis mencuatkan pertanyaan serius tentang proses rekrutmen dan penyaringan awak di Flydubai. Menurut sumber yang mengetahui investigasi, pria tersebut kemudian dipekerjakan oleh maskapai berbasis Dubai itu, meski belum jelas sejauh mana latar belakangnya diverifikasi. Larangan terbang dari Oman pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal.
Investigasi kini melibatkan aparat keamanan dari empat negara kawasan, dibantu oleh Amerika Serikat dan sejumlah pemerintah Barat. Motif pelaku masih menjadi misteri, sementara Israel dan Oman tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Israel mengklaim memiliki perjanjian dengan maskapai asing untuk mencegah pilot dari negara-negara tanpa hubungan diplomatik memasuki wilayah udaranya. Pertanyaan krusialnya: bagaimana pelaku bisa berada di kokpit pesawat yang menuju Israel?
Insiden ini menjadi ujian bagi pemerintah UAE yang selama ini dikenal memiliki langkah efektif melawan aktivitas ekstremis, namun juga pernah tersinggung atas kritik terkait kelalaian keamanan. Penasihat diplomatik senior UAE, Anwar Gargash, menyebut serangan itu sebagai "tindakan teroris yang berbahaya". Pernyataan tersebut mencerminkan upaya UAE untuk menegaskan posisinya di tengah tekanan internasional.
"Kami menilai ini sebagai tindakan teroris yang berbahaya," ujar Anwar Gargash, penasihat diplomatik senior UAE, seperti dikutip kantor berita negara.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat lalu menuding kopilot tersebut telah mengalami "radikalisasi Islam", namun tidak memberikan bukti. Sementara itu, kapten pesawat yang mengalami luka serius mengaku menggunakan sisa tenaganya untuk membuka pintu kokpit meski dalam kondisi tertusuk, memungkinkan orang-orang yang mendengar keributan masuk dan melumpuhkan pelaku. Pesawat kemudian melakukan pendaratan darurat di Arab Saudi.
Kedua pilot kini berada di UAE untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Akun Instagram pelaku aktif hingga hari penerbangan dan kemudian dihapus, menyisakan sedikit petunjuk tentang latar belakangnya. Hingga kini, belum ada informasi rinci mengenai motif atau jaringan yang mungkin terlibat.
Bagi industri penerbangan global, kasus ini menyoroti pentingnya berbagi data intelijen antarnegara dan prosedur vetting yang lebih ketat, terutama untuk awak yang terbang ke wilayah konflik. Maskapai di kawasan Teluk yang mengandalkan tenaga kerja multinasional menghadapi tantangan ekstra dalam memastikan loyalitas dan stabilitas psikologis awak. Ke depan, regulator penerbangan sipil di berbagai negara mungkin akan meninjau ulang mekanisme pertukaran informasi tentang pilot yang pernah dilarang terbang karena alasan keamanan.
Apakah insiden ini akan mendorong reformasi menyeluruh dalam standar keamanan penerbangan di Timur Tengah, atau justru memperdalam ketegangan geopolitik yang sudah ada? Publik menanti hasil investigasi yang transparan.



