Brundle Bantah Isu Horner ke Ferrari: Itu Hanya Kesopanan
Baca dalam 60 detik
- Martin Brundle memastikan Christian Horner tidak sedang menuju Ferrari setelah berbicara langsung dengan pria Inggris tersebut.
- Spekulasi muncul dari pernyataan Horner yang menyebut Ferrari sebagai satu-satunya tim yang mau ia masuki tanpa kepemilikan saham.
- Brundle mengingatkan Ferrari agar berhenti mengganti personel kunci dan fokus mendukung Fred Vasseur yang tengah membangun tim.

Mantan pembalap Formula 1 yang kini menjadi komentator Sky Sports, Martin Brundle, membantah keras rumor yang mengaitkan Christian Horner dengan kursi manajemen di Scuderia Ferrari. Bantahan itu disampaikan setelah Brundle menghubungi Horner secara langsung untuk mengklarifikasi pernyataan yang ramai diperbincangkan di paddock.
Isu ini mencuat setelah Horner, dalam wawancara dengan The Times, menyatakan bahwa Ferrari adalah satu-satunya tim yang bersedia ia masuki tanpa harus memiliki saham. Kalimat itu memicu spekulasi luas bahwa pria yang lama memimpin Red Bull Racing tersebut sedang menjajaki peluang di Maranello. Namun, menurut Brundle, pernyataan tersebut hanyalah bentuk kesopanan dan rasa hormat terhadap tim legendaris Italia itu.
“Saya menelepon dia, dan dia bilang, ‘Saya hanya bersikap sopan dan hormat kepada Ferrari dalam wawancara, tapi kemudian berkembang jadi banyak hal’,” ujar Brundle menirukan Horner, seperti dikutip dari siaran Sky Sports F1. Brundle menambahkan bahwa menjadi pembalap atau principal Ferrari adalah pekerjaan terbaik sekaligus terburuk di F1 karena tekanan yang ekstrem. “Kurva hero-zero bisa sangat vertikal, apakah Anda dianggap hebat atau tidak berguna. Anda harus bisa menavigasi itu,” lanjutnya.
Spekulasi soal Horner ke Ferrari sebenarnya menyimpan daya tarik tersendiri. Jika benar terjadi, ia akan bekerja sama dengan Lewis Hamilton, juara dunia tujuh kali yang bergabung dengan Ferrari pada 2025. Kombinasi itu dianggap menarik mengingat sejarah rivalitas sengit antara Horner dan Hamilton, terutama setelah musim 2021 yang penuh kontroversi. “Bayangkan Lewis dan Christian bekerja bersama setelah 2021? Itu akan menjadi dinamika yang menarik,” kata Brundle.
Brundle juga menyoroti pentingnya stabilitas di tubuh Ferrari. Ia mengingatkan bahwa pergantian personel kunci secara terus-menerus tidak akan menyelesaikan masalah. “Tidak ada gunanya terus mengganti personel kunci; Anda melihat itu di sepak bola. Peran team principal juga sudah berubah cukup drastis. Mereka hanya perlu tetap tenang dan saling mendukung,” tegasnya.
Saat ini, posisi team principal Ferrari dipegang oleh Fred Vasseur. Baik Hamilton maupun rekan setimnya, Charles Leclerc, telah menyatakan dukungan publik kepada Vasseur. Manajemen Ferrari pun dikabarkan solid di belakangnya. Dukungan ini menjadi sinyal bahwa tim sedang berusaha membangun fondasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar hasil instan.
“Menjadi pembalap atau principal Ferrari adalah pekerjaan terbaik dan terburuk di F1 pada saat yang sama. Tekanannya luar biasa, dan Anda harus bisa melewatinya.” — Martin Brundle
Bagi penggemar F1 di Indonesia, dinamika di Ferrari selalu menjadi tontonan menarik. Tim ini memiliki basis penggemar besar di Tanah Air, dan setiap perubahan di kursi manajemen atau pembalap selalu memicu diskusi hangat. Isu Horner ke Ferrari, meski telah dibantah, menunjukkan betapa sensitifnya posisi principal di tim sebesar Ferrari. Stabilitas menjadi kata kunci yang sering diabaikan ketika tekanan hasil datang bertubi-tubi.
Ke depan, fokus Ferrari seharusnya tertuju pada performa di lintasan. Dengan Mercedes masih memimpin klasemen, Ferrari perlu memaksimalkan sisa musim untuk mengejar ketertinggalan. Spekulasi soal Horner hanyalah gangguan yang, menurut Brundle, tidak perlu direspons berlebihan. Pertanyaannya sekarang: apakah Ferrari mampu menjaga ketenangan dan membuktikan bahwa dukungan kepada Vasseur adalah keputusan yang tepat?



