Serangan Kokpit flydubai: Motif Terorisme atau Bunuh Diri? Ini Pertanyaan yang Belum Terjawab
Baca dalam 60 detik
- Serangan di kokpit pesawat flydubai rute Dubai-Tel Aviv memicu perdebatan sengit soal motif: aksi terorisme atau upaya bunuh diri?
- Pilot berhasil mengirim sinyal darurat dan membuka pintu kokpit sebelum pingsan, sementara penumpang dan pilot off-duty berhasil menaklukkan penyerang.
- Pertanyaan kunci: bagaimana proses radikalisasi co-pilot asal Oman itu, dan apakah ada kaitannya dengan jaringan terorisme internasional?

Seorang kopilot flydubai diduga melakukan serangan brutal terhadap pilot di dalam kokpit pesawat Boeing 737 yang mengangkut 182 penumpang dari Dubai menuju Tel Aviv, Rabu pekan lalu. Insiden yang nyaris berujung tragedi ini memicu perdebatan panas di kalangan pakar keamanan: apakah ini aksi terorisme yang direncanakan, atau upaya bunuh diri yang mengerikan?
Peristiwa bermula ketika Tali Manes, seorang eksekutif bank asal Israel, sedang membawa putrinya yang berusia enam tahun ke toilet. Ia mendengar serangkaian pukulan keras ke pintu kokpit. Merasa ada yang tidak beres, ia berteriak kepada pramugara yang duduk di dekatnya. Beberapa detik kemudian, pintu kokpit terbuka, memperlihatkan pemandangan mengerikan: darah berceceran di dinding, pilot Smit Machchhar berlumuran darah, dan kopilot menyerang dengan senjata tajam. Tidak ada seorang pun yang mengendalikan pesawat.
Pesawat sempat terjun bebas, kehilangan ketinggian 16.000 kaki dalam waktu sekitar satu menit. Sebagian besar penumpang panik, berteriak, dan berdoa. Namun, sekelompok kecil penumpang memberanikan diri menyerbu kokpit dan mengalahkan kopilot. Seorang tukang ledeng bahkan meniru aksi yang pernah dilihatnya di dokumenter untuk menarik pesawat keluar dari jurang. Dua pilot off-duty yang kebetulan berada di pesawat kemudian mengambil alih kemudi dan berhasil mendaratkan pesawat di Tabuk, Arab Saudi, 90 menit kemudian.
Hingga kini, identitas kopilot penyerang belum diungkap secara resmi. Namun, sumber regional menyebutkan ia adalah warga negara Oman yang baru bergabung dengan flydubai—maskapai milik pemerintah Uni Emirat Arab—antara lima hingga sembilan bulan sebelum insiden. Di Israel, keyakinan akan motif terorisme nyaris bulat. Arik Arad, ketua konsultan keamanan penerbangan Cyviation dan mantan kepala keamanan Bandara Ben Gurion, menilai kopilot tersebut adalah teroris yang berusaha membajak atau menjatuhkan pesawat. "Skenario terburuknya adalah ia berusaha masuk ke Israel," ujarnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mengklaim kopilot telah terpapar "indoktrinasi Islam radikal" dan menemukan bukti di media sosial bahwa ia ingin "membunuh orang Yahudi". Dalam wawancara dengan Fox News, Netanyahu menyebut penyerang berteriak "Bunuh aku, bunuh aku" dan menyimpulkan bahwa ia jelas ingin bunuh diri. Namun, klaim Netanyahu ini memicu skeptisisme di kalangan pakar terorisme internasional.
"Kemungkinan seorang pilot memutuskan bunuh diri dan kebetulan sedang menerbangkan pesawat penuh orang Israel sangatlah kecil," kata Colin Clarke, pakar terorisme dari Soufan Center, New York.
Clarke menambahkan bahwa Netanyahu memiliki kepentingan besar untuk menyebut ini sebagai terorisme, tetapi penjelasan paling masuk akal tetaplah terorisme. Pertanyaan kuncinya, menurut dia, apakah kopilot direkrut oleh kelompok tertentu atau radikalisasi diri? Jika radikalisasi diri, apa pemicunya, mengingat ia menerbangkan pesawat penuh orang Israel? Apakah konflik Gaza menjadi faktor?
Pakar terorisme menyoroti bahwa hanya ada segelintir kasus bunuh diri dengan pesawat dalam sejarah penerbangan. Pada 2015, kopilot maskapai Jerman yang menyembunyikan penyakit mentalnya sengaja menabrakkan pesawat dan menewaskan 150 orang. Sementara itu, dugaan bahwa kecelakaan Air India 787 di Ahmedabad tahun lalu disebabkan pilot yang sengaja memotong pasokan bahan bakar masih diperdebatkan keras. Dalam kasus flydubai, para ahli menduga kelompok yang paling mungkin terlibat adalah al-Qaida di Semenanjung Arab (AQAP) yang berbasis di Yaman dan memiliki sejarah upaya menjatuhkan pesawat.
Serangan ini juga membuka pertanyaan besar bagi keamanan penerbangan global. Perubahan desain pesawat pasca-9/11 yang memungkinkan pilot mengunci pintu kokpit dari dalam kini dipertanyakan. Jika upaya Machchhar membuka pintu gagal, bisa dipastikan seluruh penumpang dan kru FZ 1073 tewas. Selain itu, prosedur penyaringan pilot dinilai belum memadai. Arad menegaskan bahwa pilot tidak diskrining dengan cukup ketat. "Banyak yang harus dilakukan," tegasnya. Penyaringan yang lebih ketat memang mahal dan berisiko membuat pilot enggan menerbangkan rute tertentu atau menyembunyikan masalah psikologis mereka.
Bandara Internasional Dubai, bandara tersibuk di dunia untuk lalu lintas penumpang internasional, telah membangun reputasi keamanannya di kawasan yang rawan. Philip Baum, profesor keamanan penerbangan dari Coventry University, menilai UEA sangat sadar bahwa mereka tidak bisa membiarkan serangan teroris terjadi pada penerbangan dari wilayahnya. Jaksa Agung UEA, Hamad Saif al-Shamsi, menyatakan pihaknya telah memerintahkan investigasi menyeluruh untuk menentukan motif dan kemungkinan kaitan dengan kegiatan teroris.
Ke depan, ancaman terhadap penerbangan sipil diprediksi semakin kompleks, termasuk serangan siber dan penyalahgunaan AI yang dapat menargetkan banyak pesawat sekaligus. Namun, Clarke mengingatkan bahwa pelaku teror tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. "Menjaga segala sesuatunya tetap sederhana adalah cara terbaik untuk melakukan serangan, dan ini hampir saja berhasil," pungkasnya. Pertanyaannya kini: apakah industri penerbangan global siap menghadapi era baru di mana ancaman datang dari dalam kokpit itu sendiri?



