Pompa Panas dan Panel Surya di Inggris Kian Diminati: Mitos vs Fakta di Balik Ledakan Pemasangan
Baca dalam 60 detik
- Pemasangan pompa panas dan panel surya di Inggris melonjak sepanjang tahun ini seiring rumah tangga beralih dari bahan bakar fosil.
- Berbagai anggapan keliru soal kebisingan, kenyamanan, dan biaya masih membuat sebagian orang ragu beralih ke teknologi rendah karbon.
- Dukungan pemerintah dan skema tarif pintar dinilai mempercepat titik balik investasi, meski tantangan adopsi di negara lain seperti Indonesia tetap besar.

Pemasangan pompa panas dan panel surya di Inggris mengalami lonjakan sepanjang tahun ini. Semakin banyak pemilik rumah memilih teknologi pintar rendah karbon untuk menggantikan sistem pemanas berbasis gas, meski keraguan soal biaya, kebisingan, dan kinerja masih menghantui sebagian calon pengguna.
Phil Steele, future technologies evangelist di Octopus Energy, menilai bahwa masih banyak anggapan keliru yang perlu diluruskan. Menurutnya, peralihan ke pompa panas dan panel surya menawarkan kemandirian energi yang lebih besar serta potensi penghematan biaya, tetapi kedua teknologi itu kerap dikelilingi mitos seputar pemasangan dan penggunaannya.
Pompa panas sering dianggap kalah dari boiler gas. Padahal, menurut Steele, cara kerja keduanya berbeda. Boiler gas biasanya menyala dua hingga tiga kali sehari sehingga suhu rumah naik-turun, sedangkan pompa panas dapat beroperasi terus-menerus untuk menjaga suhu tetap stabil. Dari sisi efisiensi, pompa panas mampu menghasilkan energi tiga hingga empat kali lebih besar daripada yang dikonsumsinya, sementara boiler gas nyaris hanya menghasilkan energi setara dengan yang dibakarnya.
Soal kebisingan, pompa panas disebut-sebut berisik. Steele membantahnya. Ia menyamakan suara pompa panas dengan kulkas dapur standar, dan karena unitnya ditempatkan di luar ruangan, suaranya kemungkinan besar tidak terdengar. Pasangan Philip dan Henriette dari Oxfordshire, pelanggan Octopus, mengaku tidak mengalami gangguan suara. Mereka menemukan lokasi ideal berkat bantuan surveyor dan menyatakan unit itu beroperasi senyap tanpa mengganggu tetangga.
Kenyamanan termal juga menjadi kekhawatiran. Steele mengutip survei Octopus yang menunjukkan 93% responden merasa rumah mereka setidaknya sama nyaman, bahkan lebih nyaman, dibanding sebelumnya. Pompa panas bekerja optimal saat dinyalakan terus-menerus pada suhu stabil. Pompa panas udara bahkan diklaim tetap berfungsi pada suhu serendah -20C. Di Norwegia yang udaranya sering membeku, dua pertiga rumah tangga telah menggunakan teknologi ini.
Dari sisi pemasangan, prosesnya tidak sesulit yang dibayangkan. Philip dan Henriette menyelesaikan instalasi dalam empat hari dan terkesan dengan kerapian pengerjaannya. Pompa panas dapat bertahan hingga 20 tahun, lebih lama dari boiler gas biasa, dan produk Octopus Cosy disertai garansi delapan tahun.
Biaya menjadi hambatan utama. Pemerintah Inggris menyediakan hibah melalui Boiler Upgrade Scheme untuk meringankan beban rumah tangga. Setelah subsidi, harga pompa panas Octopus sekitar ยฃ4.459, atau mendekati biaya mengganti boiler gas lama dengan yang baru. Perangkat ini juga menerima pembaruan perangkat lunak jarak jauh agar tetap pintar.
Untuk panel surya, pelanggan Octopus bernama David dari Derbyshire mengaku proses pemasangannya berjalan mulus. Ia memutuskan beralih setelah melihat tetangganya memasang panel dan ingin berkontribusi mengurangi dampak perubahan iklim. Menurut Energy Saving Trust, panel surya dapat balik modal dalam sembilan hingga dua belas tahun, tergantung lokasi dan konfigurasi. Steele menambahkan, kombinasi panel surya, baterai rumah, dan tarif pintar seperti Outgoing Octopus dapat mempercepat pengembalian modal dengan menjual kelebihan listrik ke jaringan saat harga tinggi. David berharap penghematan semakin cepat karena ia juga menggunakan listrik surya untuk mengisi mobil listriknya.
โMitos terbesar adalah anggapan bahwa panel surya tidak bisa bekerja di Inggris karena cuacanya selalu mendung dan hujan. Padahal, panel modern dapat menghasilkan listrik dari cahaya matahari meski langit tertutup awan,โ ujar Steele.
Baterai bukan syarat mutlak, tetapi kehadirannya membuat pemanfaatan energi lebih optimal. Tanpa baterai, kelebihan listrik pada siang hari dijual ke jaringan saat harga rendah, lalu dibeli kembali pada malam hari saat harga puncak. Baterai menahan nilai ekonomi itu tetap di kantong pemilik rumah.
Fenomena di Inggris ini memberikan pelajaran bagi Indonesia. Meski secara geografis dan iklim berbeda, dorongan untuk beralih ke energi terbarukan semakin relevan. Indonesia memiliki potensi surya besar, tetapi adopsi panel surya atap masih terkendala regulasi, biaya awal, dan infrastruktur. Kisah sukses di Inggris menunjukkan bahwa kombinasi insentif pemerintah, inovasi tarif listrik, dan edukasi publik dapat mempercepat transisi energi di tingkat rumah tangga.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi rendah karbon ini mampu bersaing, melainkan seberapa cepat kebijakan dan pasar di berbagai negara, termasuk Indonesia, mampu menciptakan ekosistem yang membuat investasi energi bersih terjangkau bagi masyarakat luas.



