Kim Sang-sik Akui Vietnam Main di Bawah Standar, Soroti Cuaca Panas Jakarta Usai Tekuk Pakistan 4-2
Baca dalam 60 detik
- Vietnam menutup fase grup FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan comeback 4-2 atas Pakistan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
- Pelatih Kim Sang-sik menilai konsentrasi pemain buyar pada babak pertama akibat suhu udara yang menyengat, sebelum pergantian personel mengubah jalannya pertandingan.
- Vietnam selanjutnya menghadapi Malaysia pada perebutan tempat ketiga, sementara Kim memasang target jangka panjang lolos ke Piala Dunia.

Timnas Vietnam harus puas menutup laga pamungkas Grup B FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan yang tidak sepenuhnya meyakinkan. Menghadapi Pakistan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (2/10/2026) sore, The Golden Star Warriors menang 4-2, tetapi sempat tertinggal lebih dulu sebelum bangkit di paruh kedua.
Pelatih Kim Sang-sik tidak menutup mata terhadap penampilan timnya. Menurutnya, faktor nonteknis berupa cuaca terik di Jakarta menjadi penyebab utama hilangnya fokus pemain pada 45 menit pertama. Kondisi itu membuat Vietnam kehilangan kendali permainan dan harus kebobolan pada menit ke-31 akibat kelalaian di lini belakang.
Hasil ini memastikan Vietnam melaju ke perebutan tempat ketiga. Mereka akan berhadapan dengan Malaysia di venue yang sama pada Senin (5/10/2026) sore WIB. Laga tersebut menjadi ujian berikutnya bagi Kim untuk membuktikan bahwa performa timnya tidak sekadar bergantung pada momentum pergantian pemain.
Kim mengungkapkan bahwa perubahan personel di babak kedua menjadi kunci kebangkitan. Pemain yang masuk dari bangku cadangan memberi energi baru dan mengubah arah pertandingan. "Di babak kedua, kami melakukan beberapa perubahan personel. Para pemain yang masuk dari bangku cadangan tampil luar biasa dan membawa energi baru," ujar Kim dalam konferensi pers selepas laga, seperti dikutip dari Bola.com.
"Harus diakui, cuaca hari ini sangat panas. Konsentrasi pemain di babak pertama cukup terganggu karena kondisi tersebut, dan itulah yang membuat kami harus kebobolan." โ Kim Sang-sik
Pernyataan Kim menyoroti satu persoalan yang kerap diabaikan dalam sepak bola Asia Tenggara: kesiapan fisik dan mental menghadapi kondisi iklim tropis. Jakarta pada awal Oktober berada di puncak musim kemarau, dengan suhu siang hari yang bisa menembus 34 derajat Celsius. Bagi tim yang terbiasa bermain di iklim lebih sejuk atau pada malam hari, jadwal sore menjadi beban tambahan yang tidak bisa diatasi hanya dengan taktik.
Dari sisi Vietnam, kemenangan ini tetap menjaga momentum mereka di turnamen. Namun, catatan Kim tentang performa di bawah standar menunjukkan bahwa timnya belum berada di level yang diinginkan. Pakistan, yang secara peringkat jauh di bawah Vietnam, mampu merepotkan lini belakang dan memaksa Kim menguras opsi dari bangku cadangan. Ini menjadi sinyal bahwa kedalaman skuad dan adaptasi terhadap lingkungan akan menjadi faktor penentu di laga perebutan tempat ketiga melawan Malaysia.
Malaysia sendiri bukan lawan yang bisa diremehkan. Dalam beberapa edisi terakhir, pertemuan Vietnam dan Malaysia selalu berlangsung ketat, sering kali ditentukan oleh detail kecil seperti eksekusi bola mati atau kesalahan individu. Kim perlu memastikan bahwa masalah konsentrasi yang muncul di babak pertama tidak terulang, terutama karena laga perebutan tempat ketiga biasanya berlangsung dengan tensi tinggi dan ruang gerak yang minim.
Yang lebih menarik, Kim menegaskan bahwa gelar Piala AFF bukanlah tujuan akhir. Pelatih asal Korea Selatan itu kini membidik target yang jauh lebih besar: membawa Vietnam lolos ke Piala Dunia. Ambisi ini menandai pergeseran cara pandang federasi dan pelatih terhadap turnamen regional. ASEAN Cup tidak lagi dipandang sebagai puncak prestasi, melainkan sebagai batu loncatan menuju kompetisi yang lebih bergengsi.
Pertanyaannya, apakah Vietnam memiliki fondasi yang cukup untuk bersaing di level global? Kualitas pemain muda seperti Hai Long dan Dinh Bac memberi harapan, tetapi lolos ke Piala Dunia membutuhkan lebih dari sekadar bakat individu. Diperlukan pembinaan berkelanjutan, kompetisi domestik yang kompetitif, dan pengalaman melawan tim-tim di luar Asia Tenggara. Laga melawan Malaysia pada Senin nanti bisa menjadi indikator kecil seberapa siap Vietnam melangkah ke tahap berikutnya.



