Coleen Rooney Pasang Satu Aturan Keras di Reality Show Keluarganya: Anak Boleh Menolak Syuting
Baca dalam 60 detik
- Coleen Rooney menetapkan aturan tegas bagi kru The Real Rooneys: keempat putranya berhak menolak syuting kapan pun tanpa paksaan.
- Serial Disney+ ini menampilkan kehidupan keluarga Rooney di kediaman Chester, termasuk karier Coleen sebagai desainer Primark dan peran Wayne sebagai komentator usai dipecat dari Plymouth Argyle.
- Pendekatan perlindungan privasi anak ala Rooney berpotensi menjadi standar baru dalam etika produksi reality show keluarga selebritas.

Coleen Rooney menetapkan satu syarat mutlak sebelum membuka pintu rumahnya untuk kamera Disney+ dalam serial realitas terbaru, The Real Rooneys: keempat putranya berhak menolak syuting kapan saja. Aturan itu disampaikannya langsung kepada kru sejak awal produksi, menjadikan persetujuan anak sebagai prinsip non-negosiasi di tengah industri hiburan yang kerap mengorbankan privasi keluarga demi rating.
Serial bergaya fly-on-the-wall ini merekam keseharian keluarga Rooney di kediaman mewah mereka di Chester, Inggris. Selain dinamika rumah tangga, kamera mengikuti perjalanan Coleen merintis karier sebagai desainer fesyen untuk Primark, serta transisi Wayne Rooney ke dunia komentator setelah diberhentikan dari kursi manajer Plymouth Argyle. Keempat putra mereka—Kai (18), Klay (13), Kit (10), dan Cass (8)—menjadi bagian dari narasi, tetapi tidak semua momen melibatkan seluruh anggota keluarga.
Dalam sesi tanya jawab, Coleen mengungkap bahwa kru sempat mengusulkan berbagai aktivitas yang akhirnya ditolak karena dianggap tidak mencerminkan keluarga mereka secara autentik. "Kami ingin tetap setia pada diri sendiri," ujarnya, seraya menambahkan bahwa anak-anak kerap mempertanyakan tujuan pengambilan gambar dan menjawab dengan jujur di depan kamera. Menurutnya, justru dari situlah muncul momen lucu dan spontan yang memperlihatkan karakter masing-masing anak.
Wayne Rooney menegaskan bahwa meski keluarga mereka memiliki kekayaan dari karier sepak bolanya, tayangan ini menunjukkan sisi manusiawi yang sama dengan keluarga lain di Inggris. "Ada banyak momen indah. Memang sedikit gila, tapi menyenangkan dan penuh kasih," katanya. Ia menyebut penonton akan melihat seluruh spektrum emosi—pertengkaran, tawa, dan kasih sayang—seperti yang terjadi di rumah tangga mana pun. Menurutnya, nilai-nilai yang ditanamkan kedua keluarga tetap dipegang teguh, meski harus menyesuaikan diri dengan kamera.
"Kami orang yang sangat membumi dan moral yang kami dapat dari kedua keluarga selalu kami pegang. Tentu saat di TV kami harus sedikit menahan diri, tapi dengan empat anak laki-laki di rumah itu mustahil. Ada pertengkaran, anak-anak berkelahi, semuanya ada," ujar Wayne.
Coleen menambahkan bahwa dirinya dan Wayne bukanlah robot yang hidup tanpa aktivitas normal. Ia berharap penonton menyadari bahwa di balik dunia luar biasa yang mereka jalani, keluarga Rooney tetap melakukan hal-hal biasa seperti keluarga lain. "Kami orang nyata. Orang melihat kami sebagai figur publik dan mengira kami tidak melakukan hal normal. Saat menonton ini, mereka akan melihat kami melakukan hal biasa," tegasnya.
Pendekatan yang diterapkan Coleen—memberi anak-anak kendali penuh atas partisipasi mereka—menjadi sorotan di tengah meningkatnya kritik terhadap eksploitasi anak dalam acara realitas. Beberapa negara bagian di AS dan sejumlah negara Eropa telah memperketat regulasi perlindungan anak di industri hiburan, termasuk hak untuk menarik diri dari kontrak saat dewasa. Langkah Rooney bisa menjadi preseden bagi selebritas lain yang ingin membuka kehidupan pribadi tanpa mengorbankan batas privasi buah hati.
Ke depan, kesuksesan The Real Rooneys tidak hanya diukur dari jumlah penonton, tetapi juga dari bagaimana publik menilai etika produksinya. Jika formula ini diterima, bukan tidak mungkin akan mendorong perubahan standar industri reality show keluarga—di mana suara anak-anak menjadi faktor penentu, bukan sekadar pelengkap. Akankah langkah Coleen menginspirasi selebritas lain untuk menerapkan aturan serupa?



