Brian May Pensiun dari Tur, Queen Siapkan Pertunjukan Imersif Tanpa AI
Baca dalam 60 detik
- Brian May menegaskan tidak akan kembali tur bersama Queen setelah memutuskan berhenti sejak 18 bulan lalu.
- Ia dan Roger Taylor berencana membuat pertunjukan imersif bergaya ABBA, namun terganjal kekhawatiran terhadap peran AI.
- May mengkritik keras dampak AI terhadap industri kreatif dan menyebutnya mengancam masa depan seni.

Gitaris legendaris Queen, Brian May, menutup pintu untuk tur kembali bersama band yang membesarkan namanya. Keputusan itu ia ambil setelah merenungkan prioritas hidup di usia senja, memilih waktu bersama keluarga ketimbang menghabiskan berbulan-bulan di jalan.
Dalam wawancara dengan The Times, May mengungkapkan bahwa keputusan tersebut sudah ia bulatkan sekitar 18 bulan lalu. Pemicunya adalah peristiwa kehilangan sahabat dekat keluarga saat Queen tengah menggelar tur di Amerika Serikat. Ia sempat berencana pulang sebentar, namun manajer turnya mengingatkan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan di tengah jadwal padat. "Saya mencintai panggung dan perjalanan, tetapi ada harga yang harus dibayar: kehilangan kebebasan," ujarnya, seraya menyebut keinginan menekuni astrofisika dan menikmati waktu bersama istri, Anita Dobson, serta cucu-cucunya.
Meski begitu, penggemar tidak perlu sepenuhnya berputus asa. May dan rekannya, drummer Roger Taylor, tengah menjajaki konsep pertunjukan imersif yang disebut-sebut akan merevolusi cara penonton menikmati musik Queen. Taylor menyatakan mereka ingin melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda, tidak persis seperti yang dilakukan ABBA dengan konser avatar mereka, tetapi berada di jalur yang sama.
Ide pertunjukan imersif ini muncul setelah May mengunjungi Sphere di Las Vegas tahun lalu. Ia mengaku inspirasinya mengalir dan langsung membuat sketsa untuk pertunjukan Queen. Namun, ia menghadapi dilema besar: teknologi saat ini menuntut penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mewujudkan konsep tersebut, sementara ia memiliki keberatan serius terhadap AI. "AI menghancurkan masa depan kita. Memang membantu menulis email, bahkan menyelamatkan nyawa, tetapi kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar," tegasnya.
"Kami menghadapi dilema moral: Anda tidak bisa menghindar dari teknologi ini, tetapi itu mengubah peradaban kita secara drastis. Saya pribadi merasa ngeri. Para miliarder teknologi ini tidak memiliki kepentingan kita di hati." โ Brian May
Kekhawatiran May bukan sekadar retorika. Ia baru-baru ini membatalkan video untuk singel terbarunya, "My Angels Are Calling", karena sutradara menggunakan AI. Menurutnya, AI akan mencuri malaikat dari seorang seniman, sehingga video itu harus dibatalkan. Sikap ini mencerminkan posisinya yang vokal menentang eksploitasi AI di industri kreatif, sebuah isu yang semakin hangat di tengah pesatnya perkembangan teknologi generatif.
Perjalanan Queen setelah kepergian vokalis Freddie Mercury pada 1991 memang penuh kejutan. Saat itu, para personelnya mengira band akan bubar. Namun, album Made in Heaven yang berisi rekaman belum dirilis muncul pada 1995, membuka jalan bagi Queen untuk kembali tampil live. Paul Rodgers dari Free sempat mengisi posisi vokalis, sebelum Adam Lambert bergabung pada 2011. May mengenang, "Kami berada di tempat yang tidak pernah kami bayangkan lagi: menggelar konser di arena. Rasanya seperti menaklukkan dunia, meski sebenarnya kita hanya sedang tampil di sana."
Dengan pensiunnya May dari tur, masa depan Queen sebagai band live memang di ujung tanduk. Namun, warisan musik mereka tampaknya akan terus hidup melalui format baru yang lebih teknologis. Pertanyaannya, akankah proyek imersif itu benar-benar terwujud tanpa mengorbankan prinsip May? Atau justru AI akan menjadi batu sandungan yang membuat rencana tersebut tak pernah terwujud? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Brian May tidak akan berkompromi dengan nilai-nilainya.



