Engelbert Humperdinck Ungkap 'Neraka' Casting Couch di Balik Karier Musiknya
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi legendaris Engelbert Humperdinck mengaku menghadapi tekanan seksual dari agen-agen musik pada akhir 1950-an.
- Ia menemukan satu agen, Sydney Myers, yang membantunya dan memberinya tempat tinggal selama enam bulan.
- Perubahan nama dari Gerry Dorsey menjadi Engelbert Humperdinck menjadi titik balik kariernya di industri musik.

Penyanyi senior Engelbert Humperdinck, 90 tahun, membuka pengalaman pahitnya saat merintis karier di London pada akhir dekade 1950-an. Ia mengaku harus melewati masa sulit karena banyak agen musik yang mengajukan permintaan tidak senonoh dengan imbalan representasi.
Dalam acara The Engelbert Humperdinck Show, ia menuturkan bahwa dunia agensi saat itu didominasi oleh pria yang menyukai pria. "Saya dikejar-kejar banyak agen. Saya harus melalui banyak hal," ujarnya. Ia menyebut praktik tersebut sebagai casting couch versi agen, bukan Hollywood. "Setiap agen yang saya datangi melakukan hal yang sama," tambahnya.
Meski demikian, Humperdinck tetap teguh pada prinsipnya dan menolak semua tawaran tidak etis tersebut. Ia bersyukur bisa melewati masa itu tanpa menyerah pada tekanan. "Saya jujur pada diri sendiri saat itu. Saya menghindari semua itu, tapi saya benar-benar melewati neraka," kenangnya.
Titik terang datang ketika ia bertemu Sydney Myers, seorang agen yang bersedia membantunya. Myers, yang sudah berkeluarga, mengizinkan Humperdinck tinggal di apartemennya di London selama enam bulan. "Dia pria yang teliti. Saya sangat menyukainya. Istrinya juga memperlakukan saya dengan baik," ujarnya. Berkat bantuan Myers, Humperdinck mendapatkan pekerjaan di acara varietas musik Song Parade selama 42 minggu dengan nama Gerry Dorsey.
Penampilan di televisi itu menjadi batu loncatan untuk lebih dikenal. Namun, nama Gerry Dorsey dianggap kurang menarik perhatian industri. Manajernya, Gordon Mills, kemudian mengirim lagu ciptaan Humperdinck berjudul "Stay" ke Decca Records dengan nama Gerry Dorsey, tetapi tidak membuahkan hasil. Mills lalu mengganti nama pada rekaman dan membawanya kembali ke eksekutif lain di Decca. "Saya langsung dikontrak dengan nama Engelbert Humperdinck," kenangnya. Nama itu pun melekat, bahkan keluarganya ikut menggunakan nama baru tersebut untuk menjaga persona.
Kisah Humperdinck menyoroti sisi gelap industri hiburan yang kerap menuntut kompromi moral. Praktik casting couch bukan hanya terjadi di Hollywood, tetapi juga di dunia agensi musik. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa banyak artis pendatang harus berjuang ekstra untuk mempertahankan integritas di tengah tekanan.
Di Indonesia, industri musik dan hiburan juga menghadapi tantangan serupa. Meski tidak selalu terungkap ke publik, praktik eksploitasi terhadap artis pendatang masih menjadi isu sensitif. Kasus-kasus pelecehan dan pemaksaan di balik layar sering kali tidak terlaporkan karena takut merusak karier. Kisah Humperdinck bisa menjadi cermin bahwa keteguhan dan dukungan dari figur yang tepat dapat mengubah nasib.
"Saya melalui neraka dengan hal semacam itu. Tapi saya tetap pada prinsip saya." โ Engelbert Humperdinck
Ke depan, industri hiburan global maupun nasional dituntut menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi talenta baru. Perlukah regulasi khusus untuk melindungi artis dari tekanan tidak etis? Ataukah kesadaran kolektif dan solidaritas sesama pekerja seni yang menjadi kunci? Kisah Humperdinck menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, ada perjuangan yang tak terlihat.



