Trump Menolak Bicara Peluang Darurat Nasional Sebelum Pemilu, Polling Dinilai 'Palsu'
Baca dalam 60 detik
- Donald Trump menolak menutup kemungkinan menerapkan keadaan darurat nasional menjelang pemilu sela November mendatang.
- Ia mengabaikan hasil survei yang menunjukkan hanya 31% warga AS menyetujui kinerjanya, dan menyebut data itu 'angka palsu'.
- Pernyataan ini memicu kekhawatiran akan potensi penyalahgunaan kekuasaan serta ketidakpastian politik yang lebih luas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah dalam wawancara dengan majalah Time ia menolak menutup pintu bagi kemungkinan pemberlakuan keadaan darurat nasional sebelum pemilihan sela (midterm) November mendatang. Sikap tersebut disampaikan saat ia ditanya langsung mengenai opsi tersebut, dan ia menjawab bahwa dirinya tidak menutup atau membuka opsi apa pun.
Dalam wawancara yang dipublikasikan pekan ini, Trump juga menepis hasil survei yang menunjukkan tingkat persetujuan rendah terhadap kepemimpinannya. Ia menyebut angka-angka tersebut sebagai 'angka palsu' dan menuduh lembaga polling korup. Klaim itu muncul meskipun sejumlah lembaga survei independen secara konsisten mencatat penurunan dukungan terhadap kebijakan ekonominya.
Pernyataan Trump soal keadaan darurat nasional bukan hal baru. Ia sebelumnya pernah menolak menutup kemungkinan mengambil langkah tersebut untuk menerapkan regulasi pemilu yang diinginkannya. Beberapa tokoh Partai Demokrat telah menyuarakan kekhawatiran bahwa Trump dapat kembali melontarkan tuduhan kecurangan pemilu jika kandidat dari partainya kalah, seperti yang terjadi pada 2020.
Dalam wawancara itu, Trump juga menyinggung Undang-Undang Pemberontakan (Insurrection Act), undang-undang abad ke-19 yang memberi presiden wewenang mengerahkan militer di dalam negeri dalam situasi tertentu. Ia menyatakan belum pernah menggunakannya, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk memakainya. 'Banyak orang berpikir saya seharusnya menggunakannya kadang-kadang,' ujarnya.
"Mereka angka palsu. Saya akan mengalahkan siapa pun yang maju saat ini dengan selisih 20 poin. Pollster-poolster itu korup. Hampir sama korupnya dengan para penulis." โ Donald Trump
Pernyataan tersebut kontras dengan realitas di lapangan. Survei AP/NORC menunjukkan bahwa mayoritas warga AS merasa perekonomian tidak berpihak pada mereka, dan banyak yang secara langsung menyalahkan kebijakan Trump. Kondisi ini berpotensi merugikan kandidat Partai Republik pada pemilu sela, terutama mereka yang berhaluan keras dan dekat dengan presiden.
Sejumlah analis politik menilai bahwa retorika Trump yang terus mempertanyakan integritas pemilu dapat mengikis kepercayaan publik terhadap proses demokrasi. Mereka juga mengingatkan bahwa penggunaan keadaan darurat untuk mengubah aturan pemilu bisa memicu krisis konstitusional. Hingga kini, belum ada indikasi bahwa Trump akan benar-benar mengambil langkah tersebut, tetapi pernyataannya telah cukup untuk memicu spekulasi luas.
Bagi Indonesia, dinamika politik di AS memiliki implikasi tidak langsung terhadap stabilitas ekonomi global dan hubungan bilateral. Ketidakpastian kebijakan AS sering kali mempengaruhi arus investasi dan nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, perkembangan politik di AS menjelang pemilu sela perlu dicermati oleh pelaku pasar dan pembuat kebijakan di dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana Trump akan menempuh langkah-langkah kontroversial untuk mempertahankan pengaruhnya, dan bagaimana lembaga-lembaga demokrasi AS merespons. Jika tensi politik terus meningkat, bukan tidak mungkin skenario darurat nasional yang saat ini hanya wacana akan berubah menjadi kenyataan โ sebuah perkembangan yang akan mengguncang tidak hanya AS, tetapi juga tatanan global.



