Pilot India Lawan Pembajak di Kokpit flydubai: Saya Berjuang Demi Hidup Saya
Baca dalam 60 detik
- Kapten Smit Machchhar mengalami luka serius setelah diserang kopilotnya di dalam kokpit pesawat flydubai rute Dubai-Tel Aviv.
- Meski terluka parah, Machchhar berhasil membuka pintu kokpit sehingga penumpang dapat menahan penyerang saat pesawat Boeing 737 menukik tajam.
- Otoritas Israel menyatakan penyerang berkebangsaan Oman ditangkap di Arab Saudi; motif serangan masih dalam penyelidikan.

Kapten Smit Machchhar, pilot flydubai yang menjadi korban serangan di dalam kokpit, mengungkapkan bahwa ia harus bertahan hidup demi menyelamatkan 182 orang di pesawat. Dalam panggilan video dengan Perdana Menteri India Narendra Modi yang disiarkan langsung televisi, Jumat (2/10/2026), Machchhar yang masih dirawat di rumah sakit Abu Dhabi menceritakan detik-detik mengerikan setelah kopilotnya menusuknya dan pesawat Boeing 737 itu mulai menukik tajam.
“Saya banyak luka. Saya terjatuh,” ujar Machchhar dengan kepala diperban dan selang di hidung, sebelum suaranya tercekat. “Saya berjuang untuk hidup saya. Pada satu titik, saya sadar jika saya tidak bangun … penumpang akan kehilangan nyawa,” katanya kepada Modi.
Insiden yang terjadi Rabu (30/9/2026) itu memaksa pesawat yang membawa 182 orang dari Dubai menuju Tel Aviv dialihkan ke Tabuk, Arab Saudi barat laut, untuk pendaratan darurat. Menurut saksi dan otoritas Israel, Machchhar yang berasal dari Mumbai berhasil membuka pintu kokpit meski terluka parah, memungkinkan penumpang masuk dan melumpuhkan penyerang. Ia pun dipuji sebagai pahlawan karena tindakannya dinilai mencegah bencana.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan penyerang—seorang warga negara Oman—telah ditangkap di Arab Saudi dan sedang menjalani pemeriksaan. Hingga berita ini diturunkan, motif serangan belum diketahui secara pasti. Sejumlah pemimpin dunia menyebut aksi Machchhar berhasil menggagalkan potensi tragedi besar di dunia penerbangan.
“Lord Hanuman memberi saya keberanian,” ujar Machchhar, yang mengaku membaca Hanuman Chalisa—kidung pujian untuk dewa Hanuman—saat menghadapi situasi kritis.
Machchhar, yang telah bekerja sekitar empat tahun di flydubai, sebelumnya menghabiskan 11 tahun di maskapai berbiaya rendah India, SpiceJet, sebagai senior commander dan line training captain. Ia menikah dan memiliki dua anak. Rekam jejak penerbangannya menunjukkan lebih dari 9.750 jam terbang, modal pengalaman yang dinilai krusial dalam mengambil keputusan cepat di bawah tekanan.
Insiden ini menyoroti kerentanan keamanan penerbangan komersial, terutama akses ke kokpit yang seharusnya menjadi area paling terlindungi. Serangan dari dalam oleh awak pesawat sendiri merupakan pelanggaran serius terhadap prosedur keamanan berlapis. Otoritas penerbangan sipil internasional kemungkinan akan meninjau ulang protokol seleksi dan pemantauan kesehatan mental awak pesawat, terutama di maskapai yang beroperasi di kawasan konflik.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan penerbangan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada integritas dan kesiapan psikologis awak. Maskapai nasional dan regulator perlu memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi gangguan perilaku di antara personel. Kerja sama intelijen antarnegara juga menjadi kunci untuk mencegah masuknya individu dengan niat jahat ke dalam ekosistem penerbangan.
Ke depan, penyelidikan atas motif penyerang akan menentukan apakah ini serangan teror atau aksi individual. Apapun hasilnya, dunia penerbangan dituntut untuk terus beradaptasi dengan ancaman yang semakin tidak terduga. Akankah industri penerbangan global memperketat lagi prosedur keamanan kokpit, atau justru sebaliknya, mulai beralih ke sistem otomatisasi yang mengurangi interaksi manusia? Waktu yang akan menjawab, tetapi nyawa 182 orang di atas pesawat itu menjadi bukti bahwa keberanian seorang pilot masih menjadi benteng terakhir.



