Blast Tutup, Keruntuhan Layer-2 Ethereum: Dari $2 Miliar ke $32 Juta
Baca dalam 60 detik
- Blast resmi menghentikan operasional karena pendapatan jaringan tak lagi menutup biaya infrastruktur dan keamanan.
- Total nilai terkunci anjlok dari puncak $2 miliar menjadi $32 juta, sementara pendapatan bulanan hanya $1.793.
- Pengguna diberi tenggat hingga 26 Oktober untuk menarik aset ke Ethereum sebelum akses melalui bridge langsung.

Jaringan layer-2 Ethereum, Blast, mengumumkan penutupan operasionalnya pada Jumat (2/10/2026), menandai berakhirnya salah satu proyek paling ambisius di ekosistem layer-2 yang pernah menarik lebih dari $1 miliar sebelum jaringan itu sendiri diluncurkan. Keputusan ini diambil setelah pendapatan jaringan tidak lagi mampu menutup biaya operasional yang terus berjalan.
Dalam pernyataan resminya, tim Blast menyebut bahwa biaya pemeliharaan rantai jauh melampaui pemasukan yang dihasilkan. "Kami tidak melihat jalur yang kredibel untuk membuat rantai ini berkelanjutan secara ekonomi," tulis mereka. Token native BLAST langsung merosot 19% pasca-pengumuman, memperpanjang penurunan yang telah mencapai sekitar 98% sejak debutnya.
Blast pertama kali mencuri perhatian pada 2024 ketika pengguna menyetor lebih dari $1,1 miliar bahkan sebelum mainnet aktif, sebagian besar didorong ekspektasi airdrop token. Total value locked (TVL) mencapai puncak di atas $2 miliar pada Juni 2024. Namun, data DeFiLlama menunjukkan TVL kini hanya tersisa $32 juta. Pendapatan dari penggunaan jaringan pun merosot tajam: dari sekitar $3,5 juta per bulan pada Juni 2024 menjadi hanya $1.793 pada bulan lalu.
Kejatuhan Blast bukan sekadar kisah satu proyek. Ini mencerminkan fase seleksi alam di industri blockchain, di mana menjalankan rantai berarti harus menanggung biaya pengembangan, infrastruktur, dan keamanan bahkan ketika aktivitas pengguna mengering. Gelombang eksploitasi kripto belakangan ini juga meningkatkan tekanan pada anggaran keamanan, sementara alat berbasis AI mempermudah penyerang mencari celah kode.
Di sisi lain, platform konsumen besar dengan distribusi bawaan mulai menguasai pasar. Coinbase meluncurkan Base dan mengubah basis pengguna exchange menjadi sumber aktivitas, sedangkan Robinhood merilis jaringan layer-2 Ethereum sendiri tahun ini dengan aktivitas on-chain yang masif. Akibatnya, rantai-rantai kecil semakin sulit bersaing memperebutkan developer, pengguna, dan biaya transaksi.
"Biaya operasional Blast melebihi pendapatan yang dihasilkan L2, dan kami tidak melihat jalur yang kredibel untuk membuat rantai ini berkelanjutan secara ekonomi." โ Tim Blast
Bagi pengguna, tim Blast memberikan tenggat hingga 26 Oktober 2026 untuk menarik aset ke Ethereum melalui antarmuka resmi. Setelah tanggal tersebut, penarikan hanya bisa dilakukan dengan berinteraksi langsung dengan kontrak bridge, yang berisiko lebih tinggi dan kurang ramah pengguna.
Dalam konteks Indonesia, penutupan Blast menjadi peringatan bagi investor kripto lokal yang kerap mengejar imbal hasil tinggi dari proyek layer-2 baru. Banyak dari mereka tergiur janji airdrop dan biaya transaksi murah tanpa memperhitungkan risiko keberlanjutan jangka panjang. Kejadian ini menegaskan bahwa tidak semua jaringan memiliki fundamental yang kuat, dan diversifikasi serta pemantauan metrik on-chain menjadi semakin penting.
Ke depan, konsolidasi di sektor layer-2 diperkirakan berlanjut. Hanya rantai dengan ekosistem aplikasi yang solid, dukungan pengguna setia, dan model bisnis yang jelas yang mampu bertahan. Blast mungkin bukan yang terakhir. Pertanyaannya, apakah investor dan pengguna akan lebih selektif dalam memilih proyek, atau justru kembali terjebak dalam siklus euforia yang sama?



