Restorasi Rp470 Miliar Selamatkan Koleksi Botani Edinburgh dari Amukan Badai
Baca dalam 60 detik
- Royal Botanic Garden Edinburgh meresmikan kembali Palm House setelah lima tahun renovasi dengan 5.750 panel kaca tempered, melindungi ratusan spesies tropis dari badai musim dingin Skotlandia.
- Investasi £23,5 juta (sekitar Rp470 miliar) mempertahankan struktur asli era Georgian-Victorian, namun puluhan rumah kaca lain masih menunggu perbaikan dan berisiko merusak koleksi langka.
- Tekanan perubahan iklim dan cuaca ekstrem mempercepat kerusakan infrastruktur, memaksa para ahli botani bekerja dengan helm keselamatan saat menyelamatkan tanaman dari pecahan kaca.

Setelah lima tahun tertutup, Royal Botanic Garden Edinburgh (RBGE) kembali membuka Palm House pada Jumat lalu. Restorasi senilai £23,5 juta (sekitar Rp470 miliar) itu mengganti 5.750 panel kaca dengan material tempered yang lebih tahan terhadap terpaan angin kencang—sebuah langkah krusial untuk melindungi koleksi tanaman tropis dan alpin dari musim dingin Skotlandia yang brutal.
RBGE, kebun raya tertua kedua di Inggris setelah Oxford, selama ini menjadi benteng terakhir bagi ratusan spesies tanaman yang terancam punah di habitat aslinya. Namun, infrastruktur rumah kaca yang dibangun pada era Georgian dan Victorian itu telah lama melewati usia pakainya. Pada hari-hari paling berangin, panel-panel kaca tua runtuh dan menghantam tanaman di bawahnya. "Kami pernah kehilangan tanaman yang praktis terpenggal oleh pecahan kaca," ujar Sadie Barber, kurator rumah kaca RBGE, menggambarkan kerusakan yang terjadi.
Data internal kebun raya menunjukkan bahwa pada 2026 ini, staf dilarang masuk ke rumah kaca selama 15 hari akibat kecepatan angin melampaui 30 mph. Tahun sebelumnya, mereka terpaksa absen selama 20 hari. Ketika kembali, mereka sering mengenakan helm dan perlengkapan keselamatan untuk menyingkirkan pecahan kaca yang berserakan. "Rumah kaca adalah satu-satunya hal yang tidak ingin kami rusak. Tanaman di dalamnya yang paling menderita," tambah Barber.
Prof Julia Knights, Regius Keeper RBGE, menyebut ruang yang direstorasi sebagai "katedral bagi tanaman temperate." Ia menunjuk pakis pohon favoritnya yang berasal dari Tasmania, yang di batang kayunya tumbuh lumut hati Skotlandia—simbol adaptasi unik flora di iklim samudra. Restorasi ini tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga mempertahankan sistem pengaturan suhu dan kelembapan asli yang masih menggunakan katrol dan kerekan bersejarah.
Namun, perbaikan Palm House hanyalah sebagian kecil dari persoalan. Sebagian besar rumah kaca riset lainnya telah berumur puluhan tahun dan menunggu peningkatan. Kebocoran air hujan Skotlandia membusukkan akar tanaman, bahkan mematikan spesies langka. Prof Pete Hollingsworth, direktur sains RBGE, menegaskan bahwa koleksi konservasi ini sangat penting karena ancaman di alam liar semakin ekstrem. "Pendorong kerusakan lingkungan sangat kuat, sehingga memiliki lokasi aman ex situ menjadi krusial," ujarnya.
"Kami memiliki tanaman yang pada dasarnya terpenggal oleh pecahan kaca. Sebuah badai bisa benar-benar memusnahkan mereka." — Sadie Barber, kurator rumah kaca RBGE
RBGE bukan sekadar kebun raya biasa. Lembaga ini adalah otoritas global untuk rhododendron dan pakis, rumah bagi spesies yang telah punah di alam liar, dan pelopor teknologi DNA barcoding untuk identifikasi tanaman. Arthur Conan Doyle pernah belajar di sini, dan pengetahuan botani itu memengaruhi novel-novel Sherlock Holmes. Kini, fokus utamanya adalah konservasi.
Bagi Indonesia, kisah RBGE menjadi cermin penting. Negara ini memiliki kekayaan flora tropis luar biasa yang juga rentan terhadap perubahan iklim dan kerusakan habitat. Kebun Raya Bogor, yang berusia lebih dari 200 tahun, menghadapi tantangan serupa: infrastruktur tua, tekanan cuaca ekstrem, dan keterbatasan anggaran perawatan. Pelajaran dari Edinburgh menunjukkan bahwa investasi jangka panjang dalam infrastruktur konservasi bukan pemborosan, melainkan penyelamatan aset biologis yang tak ternilai.
Ke depan, RBGE masih memiliki pekerjaan rumah besar. Restorasi Palm House hanyalah awal; puluhan rumah kaca lain menanti perbaikan. Pertanyaannya, apakah pemerintah Skotlandia dan donor internasional akan mempercepat pendanaan sebelum badai berikutnya merenggut lebih banyak spesies langka? Tanpa tindakan segera, warisan botani 356 tahun ini bisa kehilangan koleksi yang tak tergantikan.


