Alasan Prabowo Pilih Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri: Generasi Muda dan Rekam Jejak Lintas Lembaga
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Jenderal Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kamis (1/10/2026).
- Faktor usia muda dan pengalaman lengkap di reserse, kewilayahan, serta BNN disebut menjadi pertimbangan utama pemilihan Suyudi.
- Kepemimpinan Suyudi diharapkan membawa gaya baru, namun soliditas internal Polri tetap menjadi kunci.

Presiden Prabowo Subianto menunjuk Jenderal Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026), bersamaan dengan pengangkatan Komjen Pol Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri.
Langkah ini menandai perombakan pertama di kursi Kapolri sejak Prabowo memimpin. Suyudi, perwira tinggi kelahiran 14 Juli 1973, menjadi Kapolri pertama yang benar-benar diusulkan oleh Prabowo, meski pemerintahan sudah berjalan hampir dua tahun. Pertanyaannya, mengapa Suyudi dipilih?
Pemerhati kepolisian dan mantan Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti, menilai faktor usia menjadi salah satu alasan utama. Menurutnya, Prabowo cenderung mendorong pemimpin muda. "Suyudi adalah generasi muda penerus dari Akpol angkatan 94, cerdas, tegas, dan sigap," ujar Poengky kepada Kompas.com, Kamis.
Poengky yang pernah bekerja sama dengan Suyudi dalam Tim Pencari Fakta kasus Novel Baswedan melihat kemampuan komunikasi dan kepemimpinan yang mumpuni. "Beliau baik dalam komunikasi publik, mampu merangkul anggota, dan profesional sebagai pimpinan dan reserse," tambahnya. Ia memperkirakan gaya kepemimpinan Suyudi akan berbeda dari Listyo Sigit, namun menekankan bahwa soliditas Polri tetap terjaga.
Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto, menyoroti kombinasi pengalaman Suyudi di bidang reserse, kewilayahan, dan lintas lembaga. "Rekam jejak Suyudi menawarkan kombinasi pengalaman reserse, kewilayahan, dan lintas lembaga. Ia pernah di fungsi reserse, menjadi Kapolda, dan terakhir memimpin BNN," kata Bambang.
Pengalaman di BNN dinilai menjadi nilai tambah, terutama dalam upaya pemberantasan narkoba yang menjadi prioritas nasional. Selain itu, latar belakang reserse memberi bekal dalam penanganan kasus kriminal kompleks. Kombinasi ini dianggap relevan dengan tantangan Polri ke depan, mulai dari keamanan siber hingga terorisme.
Kursi Kapolri yang diduduki Listyo Sigit selama lima tahun akhirnya berakhir. Listyo yang diangkat pada periode kedua Presiden Joko Widodo kini digantikan oleh Suyudi. Transisi ini terjadi di tengah dinamika politik dan harapan publik akan penegakan hukum yang lebih tegas.
Bagi publik, pertanyaan krusial adalah apakah Suyudi mampu membawa perubahan signifikan, terutama dalam reformasi internal dan peningkatan kepercayaan masyarakat. Gaya kepemimpinannya akan diuji dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk penanganan konflik sosial dan penegakan HAM.
Dengan latar belakang yang mumpuni, Suyudi diharapkan dapat memperkuat profesionalisme Polri. Namun, ekspektasi tinggi juga membawa tekanan. Keberhasilannya akan bergantung pada dukungan internal dan kemampuan beradaptasi dengan cepat.
Ke depan, publik akan mencermati langkah pertama Suyudi sebagai Kapolri, termasuk penunjukan pejabat utama dan arah kebijakan. Mampukah ia mewujudkan Polri yang lebih modern dan dipercaya? Waktu yang akan membuktikan, tetapi harapan besar sudah disematkan pada pundaknya.



