Film Vichy 'Notre Salut' Mengguncang Prancis di Tengah Bayang-Bayang Pemilu 2027
Baca dalam 60 detik
- Film Notre Salut yang mengangkat peran birokrat biasa dalam rezim Vichy kolaborator Nazi sukses secara komersial di Prancis, terutama di kalangan penonton muda.
- Kisah ini diangkat dari surat-surat keluarga sutradara Emmanuel Marre, menyoroti bagaimana orang biasa menjadi roda penggerak mesin kekejaman negara.
- Kemunculan film ini bertepatan dengan menguatnya posisi partai sayap kanan National Rally menjelang pemilu presiden Prancis 2027, memicu refleksi kolektif tentang sejarah kolaborasi.

Sebuah film Prancis berjudul Notre Salut (Our Salvation) tengah menyita perhatian publik negeri itu, bukan karena efek visualnya yang megah, melainkan karena mengangkat kisah kelam seorang administrator negara biasa yang tanpa sadar menjadi bagian dari mesin pembunuh rezim Vichy. Film yang memenangkan skenario terbaik di Festival Cannes ini mencatat pembukaan yang kuat di bioskop Prancis pekan ini, terutama di kalangan generasi muda, di saat negara tersebut sedang melakukan introspeksi menjelang pemilihan presiden musim semi mendatang.
Berbeda dari drama sejarah konvensional, Notre Salut menyoroti peran orang-orang biasa dalam rezim boneka Vichy di bawah Marsekal Philippe Pétain, yang bertanggung jawab atas deportasi 76.000 orang Yahudi ke kamp konsentrasi Nazi. Film ini diilhami oleh tumpukan surat keluarga yang ditemukan oleh penulis-sutradara Emmanuel Marre, yang mengungkap kehidupan kakek buyutnya, Henri Marre, seorang administrator di rezim otoriter tersebut. "Ada tokoh-tokoh besar yang membuat sejarah, tetapi sejarah juga dibuat oleh pemain pendukung, akar rumput yang bertindak di lapangan, dan itulah yang menarik dari film ini," ujar Marc Olivier Baruch, sejarawan spesialis administrator negara pada rezim Vichy.
Kemunculan film ini tidak bisa dilepaskan dari konteks politik Prancis saat ini. Partai sayap kanan anti-imigrasi National Rally (RN) yang dipimpin Marine Le Pen terus memuncaki jajak pendapat untuk pemilu presiden, meskipun ada skandal yang menimpa pemimpin partainya, Jordan Bardella, terkait dugaan komentar antisemit yang ia bantah. Baruch menilai film ini resonan karena Prancis sedang berada dalam "masa ketidakpastian besar" dengan kepercayaan publik yang rendah terhadap elite dan negara. "Diktator Pétain adalah satu-satunya momen ketika sayap kanan berkuasa sejak 1820. Empat tahun di jantung abad ke-20 itu jelas menarik bagi orang Prancis pada 2026 dan 2027," ujarnya.
Kritikus film menilai penonton modern ingin memahami kebangkitan sayap kanan di Eropa dan Prancis. Henry Rousso, sejarawan yang mempelajari memori kolektif rezim Vichy, menulis di Le Monde bahwa RN bukanlah fasisme tahun 1930-an atau kebangkitan rezim Pétain, tetapi mengetahui sejarah ini memungkinkan pemahaman tentang warisan mereka dan bagaimana mekanisme pelepasan nilai-nilai demokrasi secara bertahap menyebabkan bencana. Film ini juga menjadi bagian dari gelombang film tentang Prancis era Perang Dunia II, termasuk biopik dua bagian Charles de Gaulle yang meraup lebih dari 5 juta penonton, serta film kontroversial Les Rayons et les Ombres tentang kolaborator Nazi Jean Luchaire.
"Ada laci-laci serupa di seluruh Prancis... ada memori hantu kolaborasi. Dengan film ini, kami ingin membuka laci-laci itu dan membiarkan semua keluarga melihatnya—bukan sebagai cambuk, tetapi karena setelah perang Prancis menyembunyikan banyak hal untuk bertahan," kata Emmanuel Marre kepada France Inter.
Marre menekankan pentingnya melihat nuansa yang membuat orang berkolaborasi atau mengambil sikap. "Di antara perlawanan dan kolaborasi, ada seluruh rentang emosi manusia, bahkan yang paling ambigu," ujarnya. Film ini tidak hanya menyoroti kekejaman, tetapi juga kompleksitas moral individu yang terjebak dalam sistem birokrasi otoriter. Adegan paling mencekam menurut Baruch adalah perdebatan birokratis tentang biaya jerami dan pispot bagi orang Yahudi di gerbong ternak, sementara karakter utama Henri Marre "tidak pernah memilih untuk merenung atau melihat apa yang dilakukannya, untuk bertanya tentang ruang geraknya."
Bagi Indonesia, film ini menawarkan cermin tentang bagaimana masyarakat menghadapi sejarah kelam dan peran orang biasa dalam kekejaman sistemik. Diskusi tentang kolaborasi, birokrasi yang tidak berpikir kritis, dan pengaruh politik identitas menjadi relevan di tengah dinamika demokrasi Tanah Air. Pertanyaannya, apakah kita juga berani membuka "laci-laci" yang tersembunyi untuk memahami bagaimana kekuasaan otoriter dapat merasuki kehidupan sehari-hari tanpa disadari?



