Komentar Burnham soal Man City Picu Polemik Politik dan Sepak Bola Inggris
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menuai kritik setelah menyatakan kekhawatiran jika pemilik Manchester City menjual klub di tengah investigasi pelanggaran aturan keuangan.
- Partai Konservatif menuduh Burnham berada di pihak pemilik dan mencurigai adanya tekanan politik, sementara Downing Street menegaskan proses hukum tetap independen.
- Kasus ini berlanjut ke sidang sanksi yang bisa memakan waktu berbulan-bulan, dengan Manchester City masih memiliki hak banding hingga Jumat.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mendapat kecaman keras dari Partai Konservatif setelah menyatakan keprihatinan mendalam jika pemilik Manchester City memutuskan menjual klub di tengah penyelidikan pelanggaran aturan keuangan Premier League. Pernyataan Burnham dinilai "sama sekali tidak peka" terhadap perasaan penggemar dan publik, memicu perdebatan tentang batas antara politik dan olahraga.
Dalam wawancara dengan editor politik BBC, Chris Mason, Burnham mengaku tidak ingin terlibat langsung dalam proses hukum yang sedang berjalan. Namun ia menegaskan bahwa kehilangan pemilik asal Uni Emirat Arab, Sheikh Mansour, akan menjadi pukulan besar bagi Manchester. "Mereka telah menjadi mitra penting dalam pembangunan Manchester modern dan mengubah Manchester City menjadi kekuatan global," ujarnya. Pernyataan ini langsung menuai reaksi dari Partai Konservatif yang menuduh Burnham membela pemilik klub di tengah investigasi yang masih berlangsung.
Menteri Bayangan Olahraga dari Partai Konservatif, Louie French, menuntut agar pemerintah "menjauhkan politik dari sepak bola" dan membiarkan komisi independen bekerja tanpa tekanan eksternal. "Klub menghadapi tuduhan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan penggemar sangat terkejut dengan apa yang mereka baca. Namun Burnham justru membela pemilik di tengah penyelidikan," kata French. Ia juga mempertanyakan apakah ada tekanan politik yang terkait dengan investasi pemilik di Manchester.
"Sepak bola harus diatur secara independen, dengan aturan yang berlaku sama untuk semua. Penggemar berhak yakin bahwa tidak ada klub atau pemilik yang kebal hukum," tegas French.
Menanggapi kontroversi ini, Downing Street menegaskan bahwa Burnham telah menyatakan putusan awal adalah serius dan tidak boleh ada kesan siapa pun berada di atas aturan. Juru bicara pemerintah menambahkan bahwa proses independen harus dibiarkan berjalan dan hasilnya dihormati. "Jika kesalahan terbukti, mereka yang bertanggung jawab harus menghadapi konsekuensi yang pantas," ujarnya.
Kasus ini juga menarik perhatian Komite Treasury DPR Inggris. Ketua komite, Dame Meg Hillier dari Partai Buruh, mengirim surat kepada HMRC untuk memastikan otoritas pajak memahami implikasi potensial dari kasus ini. Sementara itu, Ketua Regulator Sepak Bola Independen (IFR) yang dibentuk pemerintah pada 2025, David Kogan, menyatakan kasus ini memunculkan "isu serius" dan pihaknya memiliki kewenangan untuk menilai kelayakan pemilik, direktur, dan eksekutif klub.
Manchester City sendiri menyatakan kekecewaan dan keterkejutan atas putusan komisi Premier League, dan tetap membantah semua tuduhan. Klub masih dapat mengajukan banding atas putusan bersalah maupun sanksi yang akan dijatuhkan. Sidang sanksi diperkirakan baru akan digelar dalam beberapa bulan ke depan, dengan kemungkinan hukuman berupa denda besar atau pengurangan poin. Ketidakpastian ini meninggalkan klub dan Premier League dalam situasi chaos.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting tentang pentingnya tata kelola keuangan yang transparan dan independensi penegakan aturan di sepak bola. Liga Indonesia sering menghadapi tantangan serupa terkait kepatuhan klub terhadap regulasi finansial dan potensi intervensi politik. Jika Inggris, dengan sistem hukum dan regulasi yang mapan, masih menghadapi tekanan politik dalam penegakan aturan, maka Indonesia perlu memperkuat independensi regulator dan memastikan tidak ada klub yang kebal hukum.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah proses hukum ini akan benar-benar bebas dari tekanan politik, dan bagaimana keputusan akhirnya akan membentuk lanskap kompetisi Premier League. Yang jelas, kasus Manchester City ini bukan hanya tentang satu klub, tetapi tentang integritas sepak bola modern secara keseluruhan.



