51 Laga Tanpa Gol: Ilia Gruev, Bayangan Piroe yang Mengancam Leeds
Baca dalam 60 detik
- Ilia Gruev belum mencetak gol dalam 51 pertandingan terakhir dan tidak sekalipun turun di Premier League musim ini.
- Kegagalan Gruev beradaptasi dengan intensitas fisik Premier League membuatnya tersingkir dari starting XI Leeds United.
- Manajemen Leeds disebut siap melepas gelandang Bulgaria itu pada bursa transfer berikutnya, mengulang skenario Joel Piroe.

Leeds United menghadapi dilema klasik pasca-promosi: mempertahankan pemain yang bersinar di Championship atau merelakan mereka pergi karena tak sanggup bersaing di Premier League. Kali ini, nama Ilia Gruev berada di pusaran masalah tersebut. Gelandang asal Bulgaria itu telah mencatatkan 51 pertandingan tanpa gol dan belum sekalipun tampil di liga utama musim ini, memicu spekulasi bahwa ia akan menyusul jejak Joel Piroe yang hengkang ke West Ham United dengan status pinjaman.
Gruev bukan sembarang pemain. Pada musim 2024/25, ia menjadi bagian penting skuad asuhan Daniel Farke yang menjuarai Championship dengan koleksi 100 poin. Dari 23 penampilan di kasta kedua, 20 di antaranya sebagai starter, dengan akurasi umpan mencapai 91 persen dan memenangkan 52 persen duel. Statistik itu cukup untuk membawa Leeds kembali ke Premier League, tetapi tidak menjamin tempat di starting XI saat kompetisi bergengsi dimulai.
Kenyataan pahit muncul ketika Gruev diberi kepercayaan tampil di Premier League. Dari 23 laga, ia 15 kali menjadi starter, namun performanya jauh dari memuaskan. Ia kalah dalam 52 persen duel darat dan 59 persen duel udara, memperlihatkan bahwa intensitas dan kekuatan fisik lawan-lawan di Inggris terlalu berat untuknya. Leeds hanya meraih dua kemenangan dari 15 pertandingan yang ia awali, dan sejak Maret lalu ia tidak pernah lagi menjadi pilihan utama di liga.
Fenomena Gruev mengingatkan pada kasus Piroe. Penyerang asal Suriname itu menjadi top skor Championship dengan 19 gol, tetapi gagal total di Premier League karena kalah dalam 67 persen duel darat dan 79 persen duel udara. Piroe hanya dua kali menjadi starter sebelum dipinjamkan ke West Ham. Pola yang sama kini membayangi Gruev: pemain yang bersinar di divisi kedua, tetapi tenggelam ketika dituntut bersaing di level tertinggi.
"Farke mungkin harus melakukan apa yang ia lakukan pada Piroe dan membiarkan Gruev meninggalkan Elland Road pada jendela transfer berikutnya," demikian analisis yang beredar di kalangan pengamat Leeds.
Persaingan di lini tengah Leeds semakin ketat. Nama-nama seperti Ao Tanaka, Sean Longstaff, Ethan Ampadu, dan Anton Stach kini berada di depan Gruev dalam urutan prioritas. Kondisi ini diperparah dengan absennya Gruev selama sebulan di awal musim karena cedera, yang membuatnya semakin sulit merebut tempat. Manajemen klub dikabarkan mulai membuka pintu bagi gelandang berusia 26 tahun itu untuk mencari pengalaman di tempat lain.
Bagi Leeds, keputusan melepas Gruev bukan sekadar soal performa individu. Klub yang baru promosi harus memastikan setiap pemain yang bertahan mampu memberikan kontribusi nyata di Premier League. Kegagalan beradaptasi dengan aspek fisik dan taktik liga bisa berujung pada degradasi, seperti yang menghantui banyak tim promosi. Farke dituntut tegas dalam menilai siapa yang layak dipertahankan dan siapa yang perlu dilepas, meski itu berarti mengorbankan pemain yang pernah menjadi pilar di Championship.
Ke depan, masa depan Gruev di Elland Road akan sangat bergantung pada keputusan Farke dan strategi transfer klub. Jika tidak ada perubahan signifikan dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin ia akan mengikuti langkah Piroe meninggalkan Leeds demi mencari menit bermain. Pertanyaannya, apakah Leeds akan mampu menemukan pengganti yang lebih siap menghadapi kerasnya Premier League, atau justru kembali bergantung pada pemain yang belum teruji di level tertinggi?



