The Beyond: Mahakarya Horor Lucio Fulci yang Kembali Menghantui Layar Lebar
Baca dalam 60 detik
- Film horor ikonik tahun 1981, The Beyond, kembali menarik perhatian penonton modern berkat adegan gore yang berani dan atmosfer surealis.
- Sutradara Lucio Fulci sengaja membangun narasi tanpa plot rumit, mengutamakan kekuatan gambar dan efek praktis untuk menyampaikan teror eksistensial.
- Meski sempat ditolak kritikus, karya ini kini diakui sebagai salah satu pencapaian puncak sinema horor Italia dan menginspirasi generasi pembuat film.

Film horor klasik The Beyond (1981) karya sutradara Italia Lucio Fulci kembali menjadi bahan perbincangan di kalangan penggemar sinema. Karya yang sempat menuai kontroversi ini menawarkan pengalaman menonton yang tidak biasa: bukan sekadar cerita hantu, melainkan eksplorasi visual tentang kengerian yang bersemayam dalam tubuh dan realitas.
Fulci, yang dikenal sebagai maestro gore, membangun adegan-adegan penuh darah secara berlebihanโsebuah pilihan estetika yang menurutnya perlu untuk menggambarkan teror secara mentah. Dalam film ini, tubuh manusia tidak lagi sakral; ia menjadi kanvas bagi efek khusus yang mempertontonkan daging meleleh, bola mata terlepas, dan mayat membusuk. Pendekatan ini membuat The Beyond menuai pujian sekaligus cemoohan, termasuk dari kritikus legendaris Roger Ebert yang secara terang-terangan membencinya.
Meski demikian, Fulci memiliki visi yang jelas. Dalam wawancaranya dengan majalah Starburst pada 1982, ia menyatakan bahwa film ini sengaja dibuat tanpa plot konvensional. "Ide saya adalah membuat film absolut, dengan semua horor dunia kita. Ini film tanpa plot: sebuah rumah, orang-orang, dan orang mati yang datang dari The Beyond. Tidak ada logika, hanya rangkaian gambar," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa Fulci tidak berusaha menceritakan kisah linear, melainkan menyusun mimpi buruk surealis.
Kisahnya berpusat pada Liza (Katherine MacColl), seorang perempuan dari New York yang pindah ke New Orleans untuk merenovasi Hotel Seven Doors. Tanpa disadari, hotel itu berdiri di atas salah satu dari tujuh gerbang neraka. Premis sederhana ini menjadi pijakan bagi serangkaian adegan mengerikan yang menguji batas toleransi penonton. Fulci tidak tertarik pada pengembangan karakter mendalam; ia lebih fokus pada citraan yang membekas, seperti mayat yang muncul dari bak mandi berlumur darah atau laba-laba tarantula yang memakan bibir manusia.
Yang membedakan The Beyond dari film horor sejenis adalah lapisan tematiknya. Meski penuh adegan gore, film ini sarat dengan simbolisme religius dan psikologis. Fulci sendiri mengakui bahwa neraka adalah proyeksi dari dosa-dosa tersembunyi manusia. "Saya tidak takut neraka, karena neraka sudah ada di dalam diri kita," katanya. Pandangan ini sejalan dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud tentang alam bawah sadar, di mana kengerian muncul dari represi internal.
Pada masanya, The Beyond dianggap sebagai "video nasty"โfilm eksploitasi yang dianggap merusak moral. Namun, seiring waktu, reputasinya berubah. Para kritikus modern melihatnya sebagai karya avant-garde yang berani, sejajar dengan surealisme David Lynch. Adegan Liza mengemudi di jembatan sepi dan bertemu wanita buta bersama anjingnya menjadi salah satu momen paling ikonik yang menggabungkan horor dengan keanehan mimpi.
"Imajinasi jauh lebih kuat ketika ditekan oleh teror neraka." โ Lucio Fulci
Di Indonesia, film-film horor dengan efek praktis dan narasi non-linear seperti The Beyond mungkin belum sepopuler di kalangan penonton arus utama. Namun, bagi sinefil dan pembuat film independen, karya Fulci menawarkan pelajaran berharga tentang keberanian bereksperimen dengan bentuk. Beberapa festival film horor di Jakarta dan Bali dalam beberapa tahun terakhir mulai menampilkan karya-karya klasik Italia, menandakan minat yang tumbuh terhadap estetika giallo dan splatter.
Kehadiran The Beyond di platform streaming dan pemutaran retrospektif menunjukkan bahwa horor bukan sekadar hiburan sesaat. Film ini mengingatkan bahwa rasa takut dapat diolah menjadi seni yang menggugah, bahkan ketika ia menjijikkan. Apakah penonton masa kini siap menerima teror yang tidak masuk akal dan tidak nyaman? The Beyond mungkin jawabannya.



