Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Aceh Jaya, Warga Merasakan Getaran hingga Banda Aceh
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Aceh pada Minggu pagi, berpusat di laut 68 kilometer barat daya Calang, Aceh Jaya.
- Getaran dirasakan di sembilan kabupaten/kota, dengan intensitas tertinggi III-IV MMI di Aceh Besar, menurut laporan BMKG.
- Meski tidak berpotensi tsunami, gempa ini menjadi pengingat bahwa Aceh berada di zona rawan gempa sehingga kesiapsiagaan harus terus dijaga.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 mengguncang Provinsi Aceh pada Minggu (4/10) pagi pukul 06.37 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di laut, sekitar 68 kilometer barat daya Calang, Kabupaten Aceh Jaya, pada kedalaman 26 kilometer.
Berdasarkan data BMKG, episentrum gempa terletak di koordinat 4,56 Lintang Utara dan 94,97 Bujur Timur. Getaran dilaporkan dirasakan di sejumlah wilayah, mulai dari Aceh Besar, Banda Aceh, Aceh Barat, Aceh Selatan, Pidie Jaya, Bener Meriah, Nagan Raya, Aceh Tengah, hingga Sigli. Intensitas getaran bervariasi, dengan Aceh Besar mencatat skala III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity), sementara Banda Aceh dan Aceh Barat pada skala III MMI, serta wilayah lain pada skala II MMI.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat gempa tersebut. BMKG juga tidak mengeluarkan peringatan tsunami, karena pusat gempa berada di laut dengan kedalaman menengah dan magnitudo yang tidak cukup besar untuk memicu gelombang besar. Meski demikian, warga diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang biasanya menyertai peristiwa tektonik semacam ini.
"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pastikan struktur bangunan tetap aman dan ikuti arahan dari pihak berwenang," demikian pernyataan yang disampaikan BMKG melalui akun resminya.
Aceh memang terletak di kawasan rawan gempa karena berada di zona pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Aktivitas seismik di wilayah ini cukup tinggi, sehingga gempa dengan magnitudo menengah seperti yang terjadi pada Minggu pagi bukan hal yang jarang. Namun, setiap getaran tetap perlu direspons dengan kewaspadaan, terutama bagi warga yang tinggal di pesisir dan bangunan bertingkat.
Dari sisi kesiapsiagaan, peristiwa ini kembali menguji sistem peringatan dini dan jalur evakuasi yang telah dibangun pascagempa dan tsunami Aceh 2004. Pemerintah daerah dan BMKG terus memperkuat jaringan sensor serta sosialisasi mitigasi bencana. Partisipasi masyarakat dalam simulasi evakuasi dan pemahaman terhadap jalur aman menjadi kunci untuk mengurangi risiko saat gempa besar benar-benar terjadi.
Ke depan, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya seberapa cepat informasi gempa tersebar, tetapi seberapa siap warga dan infrastruktur menghadapi gempa yang lebih kuat. Dengan letak geografis yang berada di ring of fire, Aceh tidak bisa lepas dari ancaman gempa. Karena itu, investasi dalam bangunan tahan gempa dan pendidikan kebencanaan harus menjadi prioritas berkelanjutan, bukan sekadar respons sementara setelah bencana terjadi.



