ALMA Abadikan 'USG' Planet Kembar WISPIT 2, Ungkap Proses Pembentukan Tata Surya
Baca dalam 60 detik
- Teleskop ALMA berhasil memotret dua planet ekstrasurya yang sedang tumbuh di sekitar bintang muda WISPIT 2, 437 tahun cahaya dari Bumi.
- Citra ini pertama kali menangkap secara bersamaan cakram protoplanet, planet, dan aliran gas yang berinteraksi langsung dengan planet.
- Temuan ini membuka jalan bagi observasi lebih detail dengan Extremely Large Telescope (ELT) yang sedang dibangun di Chile.

Astronom berhasil mengabadikan momen langka pembentukan dua planet ekstrasurya yang mengorbit bintang muda WISPIT 2, sekitar 437 tahun cahaya dari Bumi. Citra yang dihasilkan teleskop radio ALMA (Atacama Large Millimeter/submillimeter Array) ini disebut sebagai 'USG' planet paling jelas hingga saat ini, memperlihatkan dua dunia gas raksasa yang sedang tumbuh di dalam cakram gas dan debu.
Bintang WISPIT 2 yang masih berusia sekitar 5,4 juta tahun—bayi jika dibandingkan Matahari yang berumur 4,6 miliar tahun—dikelilingi cakram protoplanet yang menjadi inkubator bagi WISPIT 2b dan WISPIT 2c. WISPIT 2b telah memiliki massa lima kali Jupiter dan tengah menyedot materi dari sekelilingnya, sementara WISPIT 2c sedikit tertinggal dalam perkembangan namun tetap meninggalkan jejak berupa rongga di cakram.
Yang membuat pengamatan ini istimewa, ALMA untuk pertama kalinya menangkap secara serentak tiga elemen kunci pembentukan planet: cakram protoplanet, planet itu sendiri, dan bukti akresi materi yang masih berlangsung. Sebelumnya, elemen-elemen ini pernah terlihat terpisah di sistem lain seperti PDS 70, tetapi tidak pernah dalam satu gambar utuh.
"Kami melihat dengan jelas kedua planet membentuk lingkungannya. WISPIT 2c mengukir rongga, dan WISPIT 2b menciptakan celah," ujar Myriam Benisty dari Max Planck Institute for Astronomy, Jerman, dalam pernyataannya. "Di sekitar WISPIT 2b, kami menemukan pusaran gas yang selama ini hanya diprediksi simulasi, belum pernah terlihat nyata. Kini ada gambarnya!"
Selain itu, jarak orbit WISPIT 2b yang sangat lebar—57 satuan astronomi—menjadikannya salah satu eksoplanet dengan orbit terluas yang diketahui. Fakta ini menantang teori pembentukan planet yang biasanya menggambarkan raksasa gas terbentuk lebih dekat ke bintang induknya.
Tim peneliti dari University of Milan dan Max Planck Institute menekankan bahwa teknik observasi yang mereka kembangkan akan sangat berguna bagi generasi teleskop berikutnya. Upgrades pada ALMA dan Extremely Large Telescope (ELT) yang sedang dibangun di Gurun Atacama, Chile, diharapkan dapat memberikan citra lebih tajam dari sistem WISPIT 2 dan sistem serupa.
"Semoga observasi seperti ini mengajarkan astronom untuk membedakan fitur cakram yang menandakan keberadaan protoplanet dan yang bukan," kata Stefano Facchini, pemimpin tim dari University of Milan.
Bagi Indonesia, pencapaian ini bukan sekadar berita sains internasional. Pengembangan instrumen astronomi seperti ALMA dan ELT membuka peluang kolaborasi riset bagi ilmuwan Indonesia, terutama dalam analisis data dan pemodelan teoretis. Beberapa universitas dalam negeri telah aktif dalam jaringan observasi global, dan ke depan, keterlibatan dalam proyek teleskop generasi baru bisa menjadi batu loncatan bagi pengembangan teknologi dirgantara nasional.
Dengan semakin banyaknya planet yang terdeteksi, pertanyaan besar berikutnya adalah seberapa umum proses pembentukan seperti WISPIT 2 terjadi di alam semesta. Apakah tata surya kita juga mengalami fase serupa miliaran tahun lalu? Observasi lanjutan dengan ELT diharapkan menjawabnya dalam dekade ini.



