Rover Eropa Uji Coba di Gurun Spanyol, Siap Bor Mars 2030 demi Jejak Kehidupan
Baca dalam 60 detik
- Rover ExoMars Rosalind Franklin menjalani uji navigasi di Gurun Tabernas, Spanyol, sebelum misi peluncuran 2028 dan pendaratan 2030.
- Misi ini akan menjadi yang pertama mengebor dua meter di bawah permukaan Mars, jauh lebih dalam dari penjelajah sebelumnya, untuk mencari biomarker yang terlindung dari radiasi.
- Jika ditemukan bukti kehidupan, teori panspermia—kehidupan yang menyebar antarplanet—bisa mengubah total pemahaman manusia tentang asal-usul kehidupan di Bumi.

Rover ExoMars Rosalind Franklin, yang dibangun oleh Airbus di Stevenage untuk Badan Antariksa Eropa (ESA), tengah menjalani serangkaian uji navigasi di Gurun Tabernas dekat Almería, Spanyol. Gurun itu dipilih karena lanskapnya menyerupai permukaan Mars. Uji ini menjadi tahap krusial sebelum rover diluncurkan pada 2028 dan mendarat di Mars pada 2030.
Berbeda dari pendahulunya, Rosalind Franklin akan menjadi penjelajah pertama yang mengebor hingga kedalaman dua meter di bawah permukaan Mars. Sejauh ini, rover seperti Curiosity dan Perseverance hanya mampu menggores beberapa senti teratas. Lapisan permukaan Mars telah disterilkan radiasi kosmik selama miliaran tahun, sehingga jejak kehidupan—jika pernah ada—hanya mungkin bertahan di lapisan yang lebih dalam.
Misi ini menyimpan harapan besar bagi komunitas ilmiah. Susanne Schwenzer, profesor mineralogi planet dari Open University yang terlibat dalam misi, menilai bahwa temuan kehidupan di Mars akan menjadi lompatan besar. "Jika kehidupan muncul begitu ada kesempatan, mungkin kehidupan muncul di sana lalu datang ke sini. Jika kehidupan di sana sama, bisa jadi kita semua berasal dari nenek moyang yang sama," ujarnya, seraya menambahkan bahwa kemungkinan panspermia—perpindahan kehidupan antarplanet—masih menjadi pertanyaan terbuka yang harus dijawab.
Mars sekitar empat miliar tahun lalu memang jauh lebih ramah. Planet itu memiliki danau, sungai, lautan luas, atmosfer, serta medan magnet yang melindungi permukaannya dari radiasi mematikan. Kondisi ini bertepatan dengan periode late heavy bombardment, sekitar 4,1 hingga 3,8 miliar tahun lalu, ketika banyak asteroid dan komet menghantam planet-planet dan berpotensi membawa bahan pembentuk kehidupan seperti asam amino dan komponen DNA.
Namun, Mars mendingin lebih cepat dari Bumi. Inti cairnya membeku, medan magnetnya melemah, dan angin matahari menggerus atmosfer serta airnya. Sekitar 3,7 miliar tahun lalu, Mars menjadi tidak layak huni. Radiasi matahari yang menghantam permukaan selama miliaran tahun membuat lapisan atas planet ini steril, sehingga satu-satunya peluang menemukan bukti kehidupan adalah dengan mengebor lebih dalam.
Nicolas Oudart, profesor dari Universitas Versailles yang tergabung dalam tim radar Wisdom, menjelaskan bahwa di Bumi lempeng tektonik terus mendaur ulang permukaan, sementara di Mars kondisi permukaan relatif tidak berubah selama miliaran tahun. "Alasan kita tidak menemukan jejak kehidupan di permukaan Mars mungkin karena radiasi telah menghancurkannya. Dengan mengebor dua meter, sampel itu terlindungi, dan mungkin kita akan menemukan biomarker seperti awal kehidupan di Bumi," katanya.
Rover ini akan mendarat di Oxia Planum, wilayah kaya endapan sedimen lempung yang terbentuk saat air melimpah. Kamera panorama buatan University College London dan spektrometer inframerah dari Aberystwyth University akan memindai lokasi pengeboran yang potensial, sebelum radar penembus tanah memeriksa struktur bawah permukaan. Setelah titik pengeboran ditentukan, rover bergerak lambat dan mengebor batuan. Sampel kemudian dimasukkan ke laboratorium mini untuk dihancurkan dan dianalisis kandungan organiknya.
Karena sinyal radio dari Bumi ke Mars membutuhkan waktu 4 hingga 21 menit, rover harus mampu beroperasi secara mandiri. Pusat kendali misi di Turin, Italia, mengirimkan instruksi harian dan juga mengawasi uji gurun melalui satelit. Vincent Schaeffer, yang memimpin tim uji lapangan Airbus, menekankan pentingnya detail: "Kami harus memastikan tidak ada alat yang tertinggal atau jejak kaki, agar tim benar-benar merasakan mengemudikan rover di Mars."
"Saya percaya kehidupan mungkin pernah ada di Mars. Generasi berikutnya tidak akan melihat realitas yang sama. Jika kita menemukan bukti kehidupan di masa lalu, di wilayah lain tata surya kita, itu berarti kehidupan ada di mana-mana. Cara kita membayangkan alam semesta akan berubah selamanya." — Benoît Pouffary, ESA
Misi ini sempat tertunda akibat invasi Rusia ke Ukraina. Peluncuran yang semula dijadwalkan 2022 batal setelah ESA memutus kerja sama dengan Roscosmos, badan antariksa Rusia, yang memasok beberapa komponen. NASA dan Badan Antariksa Inggris kemudian mengambil alih penyediaan suku cadang pengganti. Rover ini dinamai Rosalind Franklin, kimiawan Inggris yang berperan mengungkap struktur heliks ganda DNA.
Pada 2013, rover Curiosity NASA sempat mendeteksi semburan metana yang memicu harapan akan kehidupan. Kini para ilmuwan menduga gas itu berasal dari aktivitas geologis, meski kemungkinan adanya organisme hidup belum sepenuhnya tertutup. Jika Rosalind Franklin berhasil menemukan biomarker, dampaknya tidak hanya pada astrobiologi, tetapi juga pada cara manusia memandang posisinya di alam semesta. Akankah misi ini menjadi titik balik yang membuktikan bahwa Bumi bukan satu-satunya rumah bagi kehidupan?



