Hidrogen Putih: Peluang Baru Dekarbonisasi di Tengah Kegagalan Hidrogen Hijau
Baca dalam 60 detik
- Hidrogen geologis yang terbentuk alami di kerak bumi menawarkan sumber energi bersih tanpa proses produksi mahal.
- Sekitar 93% proyek hidrogen hijau gagal terealisasi sesuai jadwal karena biaya tinggi dan efisiensi rendah.
- Sejumlah startup global berlomba menemukan metode ekstraksi komersial pertama, dengan potensi besar bagi industri berat seperti baja dan transportasi.

Hidrogen putih, atau hidrogen geologis yang terbentuk secara alami di dalam kerak bumi, muncul sebagai alternatif yang menjanjikan untuk mendekarbonisasi sektor industri berat setelah hidrogen hijau dinilai lambat berkembang. Berbeda dengan hidrogen hijau yang memerlukan proses elektrolisis menggunakan energi terbarukan, hidrogen putih dapat diekstraksi langsung dari deposit bawah tanah, berpotensi memangkas biaya dan jejak karbon secara signifikan.
Selama bertahun-tahun, hidrogen hijau dipromosikan sebagai solusi utama untuk menggantikan bahan bakar fosil di industri baja dan transportasi. Namun, realisasinya jauh dari harapan. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature Energy pada 2023 mengungkapkan bahwa hanya 7% dari kapasitas global yang diumumkan berhasil diselesaikan sesuai jadwal. Penyebab utamanya adalah biaya produksi yang tetap tinggi dan ketidakmampuan bersaing dengan bahan bakar konvensional. Selain itu, energi bersih yang dialokasikan untuk produksi hidrogen hijau sering kali lebih efisien jika digunakan langsung untuk kebutuhan listrik.
Di sisi lain, hidrogen putih menawarkan potensi yang belum tergarap. Riset dari University of Oxford, Durham University, dan University of Toronto memperkirakan bahwa hidrogen yang terbentuk di kerak benua selama periode geologis mengandung energi setara dengan sekitar 170.000 tahun konsumsi minyak global saat ini. Meskipun jumlah pasti yang dapat diambil masih belum jelas, temuan ini memicu minat sejumlah perusahaan rintisan untuk mengembangkan teknologi ekstraksi yang ekonomis dan ramah lingkungan.
Menurut Pierre Levin, CEO startup hidrogen geologis asal Kanada, Vema, potensi sumber daya ini sangat besar. "Anda dapat menemukan batuan seperti ini di seluruh dunia, cukup untuk memproduksi miliaran ton hidrogen," ujarnya kepada The New York Times awal tahun ini. Namun, tantangan teknis tetap signifikan. Chris Ballentine, peneliti utama dari Oxford, menganalogikan proses penemuan hidrogen akumulatif seperti membuat soufflé—diperlukan kombinasi bahan, jumlah, waktu, dan suhu yang tepat. "Satu resep eksplorasi yang berhasil dan dapat diulang akan membuka sumber hidrogen rendah karbon yang kompetitif secara komersial," katanya.
Ekstraksi hidrogen dari kerak bumi memerlukan pemahaman menyeluruh tentang sistem geologi yang kompleks, mencakup sumber produksi, jalur migrasi, pembentukan reservoir, dan perangkap geologis yang mampu mengakumulasi H2 dalam jumlah besar. Laporan terbaru dari Futura menekankan bahwa eksploitasi industri skala besar baru dapat dipertimbangkan setelah sistem ini dipahami sepenuhnya, yang memiliki kemiripan sekaligus perbedaan mendasar dengan sistem minyak bumi.
"Kombinasi bahan untuk menemukan hidrogen akumulatif di setting mana pun bisa diibaratkan seperti memasak soufflé—salah satu bahan, jumlah, waktu, atau suhu, maka hasilnya akan mengecewakan," ujar Chris Ballentine, penulis utama studi Oxford.
Meski masih dalam tahap awal, geliat riset dan investasi di sektor ini menunjukkan bahwa hidrogen putih bisa menjadi kunci transisi energi. Berbagai perusahaan rintisan dari Eropa hingga Filipina berupaya menyempurnakan metode ekstraksi yang ramah lingkungan dan efisien secara biaya. Jika berhasil, hidrogen putih tidak hanya melengkapi hidrogen hijau, tetapi juga mempercepat dekarbonisasi sektor-sektor yang sulit diturunkan emisinya, seperti produksi baja dan transportasi berat.
Bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan geologi dan sedang mendorong transisi energi, hidrogen putih bisa menjadi peluang strategis. Negara ini memiliki formasi batuan yang berpotensi mengandung hidrogen alami, terutama di wilayah timur seperti Papua dan Sulawesi. Pengembangan sumber daya ini membutuhkan investasi dalam eksplorasi dan teknologi, tetapi dapat mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil sekaligus mengejar target nol emisi. Pemerintah dan pelaku industri perlu mulai memetakan potensi ini, termasuk menjalin kerja sama dengan pusat riset global yang telah memulai penelitian.
Pertanyaannya kini, apakah hidrogen putih akan benar-benar menjadi terobosan yang selama ini dinanti, atau hanya menjadi babak baru dalam daftar panjang janji energi bersih yang belum terwujud? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi langkah awal telah dimulai.



