Hari Kesaktian Pancasila 2026: Mengapa 1 Oktober Terus Dikenang dan Apa Makna Lubang Buaya?
Baca dalam 60 detik
- Setiap 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila untuk mengenang tujuh perwira TNI AD yang tewas dalam peristiwa G30S 1965.
- Sumur tua di Lubang Buaya menjadi lokasi penemuan jenazah para korban, yang kemudian diangkat pada 4 Oktober 1965.
- Peringatan ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi refleksi atas ideologi negara dan pengorbanan para pahlawan revolusi.

Setiap tanggal 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukan tanpa alasan: tanggal tersebut merujuk pada peristiwa berdarah Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965, yang mengakibatkan gugurnya tujuh anggota TNI Angkatan Darat. Hingga kini, upacara bendera di Monumen Pancasila Sakti, Cipayung, Jakarta Timur, menjadi agenda rutin kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Presiden RI.
Dalam upacara tersebut, dilakukan pembacaan teks Pancasila, ikrar, dan doa. Bendera Merah Putih dikibarkan satu tiang penuh, setelah sehari sebelumnya—30 September—dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung. Monumen ini berdiri di atas lokasi bersejarah yang menyimpan kisah kelam: Sumur Maut Lubang Buaya.
Peristiwa G30S bermula pada malam 30 September 1965, ketika sekelompok orang yang mengaku sebagai pasukan Cakrabirawa—pengawal Presiden Soekarno—mendatangi rumah para perwira tinggi AD. Mereka berdalih membawa surat panggilan dari Presiden. Padahal, tidak ada panggilan resmi. Tujuh perwira menjadi korban: Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean.
Empat dari mereka—Soeprapto, Sutoyo, Parman, dan Tendean—dibawa hidup-hidup ke markas di Pondok Gede, Jakarta Timur, lalu dibunuh. Jenazah mereka dimasukkan ke sumur tua berdiameter 75 sentimeter dan kedalaman 12 meter. Tiga lainnya, yakni Yani, Haryono, dan Panjaitan, ditembak di rumah masing-masing sebelum jasadnya dibuang ke sumur yang sama. Jenazah ketujuh perwira baru diangkat satu per satu pada 4 Oktober 1965.
Menariknya, Jenderal Abdul Haris Nasution (AH Nasution) nyaris menjadi korban kedelapan. Ia berhasil melarikan diri setelah istrinya, Johana Sunarti Nasution, membisikkan agar segera menyelamatkan diri. Sementara itu, Lettu Pierre Tendean yang saat itu berada di rumah Nasution, mengaku sebagai Nasution demi mengalihkan perhatian para penculik. Pengorbanan Tendean membuat Nasution selamat, namun nyawanya sendiri melayang.
Peristiwa ini kemudian menjadi dasar penetapan Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukan sekadar mengenang tragedi, tetapi juga menegaskan komitmen bangsa terhadap Pancasila sebagai ideologi yang tidak tergantikan. Melalui upacara tahunan, pemerintah ingin menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan semangat persatuan, terutama bagi generasi muda yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut.
Di sisi lain, sejarah G30S dan Lubang Buaya kerap menjadi bahan perdebatan dan kajian akademik. Berbagai versi dan interpretasi muncul, namun yang terpenting adalah bagaimana bangsa ini mengambil pelajaran dari masa lalu. Monumen Pancasila Sakti tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga laboratorium sejarah yang mengingatkan akan bahaya konflik ideologi dan pentingnya menjaga stabilitas nasional.
Ke depan, relevansi Hari Kesaktian Pancasila akan terus diuji. Tantangan zaman berubah, dari radikalisme hingga disrupsi digital, namun roh Pancasila sebagai perekat keberagaman tetap menjadi pilar utama. Pertanyaannya, apakah generasi kini mampu memaknai peringatan ini lebih dari sekadar seremonial belaka?



