Populasi Paus Bungkuk Australia Pulih, tapi Ancaman Baling-baling Kapal Meningkat
Baca dalam 60 detik
- Citra mengerikan luka sayatan pada paus bungkuk di pantai timur Australia menunjukkan meningkatnya tabrakan dengan kapal dan baling-baling.
- Populasi paus bungkuk telah pulih dari kurang dari 300 ekor pada 1960-an menjadi 40.000-50.000 ekor, tetapi lalu lintas kapal rekreasi juga melonjak.
- Pemerintah dan organisasi konservasi mendesak pembatasan kecepatan dan pelaporan tabrakan yang lebih baik untuk melindungi mamalia laut.

Luka robek dalam dan potongan ekor yang hilang pada paus bungkuk di sepanjang pantai timur Australia menjadi bukti nyata meningkatnya tabrakan dengan kapal dan baling-baling. Gambar-gambar yang dihimpun WWF Australia dan dibagikan kepada Guardian menunjukkan cedera parah pada paus dewasa dan anak, memicu kekhawatiran para ahli tentang keselamatan spesies yang populasinya sedang booming.
Pada bulan lalu, sebuah foto memperlihatkan luka sayatan lebar di punggung seekor anak paus di Hervey Bay, Queensland—area yang sering dijadikan tempat istirahat bagi induk dan anak paus selama migrasi ke Antartika. Isabel Taylor, naturalis senior dari Pacific Whale Foundation, menyaksikan langsung perubahan suasana di kapal wisata ketika dua induk paus muncul ke permukaan. “Yang lain sangat aktif dan memamerkan diri, tapi induk dan anak ini lebih pendiam,” ujarnya. Luka sayatan dari baling-baling kapal terlihat jelas di punggung anak paus. “Suasana di kapal berubah. Kami mendapat tamu dari seluruh dunia yang mengatakan ini hari terbaik dalam hidup mereka, jadi melihat kontras seperti ini sangat mendalam.”
Citra lain yang diambil dengan drone di lepas pantai Bondi, Sydney, pada Juni menunjukkan paus bungkuk dengan luka terbuka dan daging merah yang tampaknya akibat sabetan berulang bilah baling-baling. Ada pula foto dari 2024 yang menampilkan paus betina di selatan New South Wales yang dijuluki “bladerunner” karena bekas luka sayatan dalam di punggung dan ekornya, diduga sudah berumur lebih dari 20 tahun.
Dr Raphael Mayaud, ekolog kelautan dari Griffith University dan anggota kelompok ahli yang mengadvokasi International Whaling Commission (IWC), menilai gambar-gambar tersebut menunjukkan dampak fisik langsung manusia terhadap hewan sebesar itu. Rebecca Dunlop, ahli paus bungkuk dari University of Queensland, menambahkan bahwa sebagian besar luka berada di punggung dan bagian belakang paus, “menandakan mereka muncul ke permukaan saat baling-baling kapal melintas di atas punggung mereka.” Ia menjelaskan paus yang bermigrasi tidak mampu mengubah perilaku menyelam untuk menghindari jalur tabrakan, terutama jika kapal mendekat dengan cepat.
Larangan perburuan paus bungkuk di belahan bumi selatan pada 1963 menjadi titik balik. Setelah populasi nyaris punah, jumlahnya pulih pesat: dari 7.800 ekor pada 2004, menjadi 25.500 ekor pada 2015, dan kini mencapai puluhan ribu. Namun, kebangkitan ini berbarengan dengan meningkatnya popularitas kapal rekreasi. Dunlop dan Mayaud mengamati bahwa seiring pertumbuhan populasi dan aktivitas air, tabrakan kapal juga makin sering terjadi. Sayangnya, data pasti sulit didapat karena banyak insiden tidak terdeteksi atau tidak dilaporkan.
“Paus bungkuk adalah salah satu kisah sukses konservasi terbesar. Tapi di sepanjang jalur migrasi Australia, risiko tertabrak kapal terus meningkat. Luka-luka itu pasti sangat menyakitkan. Kami melihat buktinya, tetapi kami memiliki lubang informasi yang besar,” ujar Chris Johnson, pemimpin global inisiatif perlindungan paus WWF.
Pada Jumat lalu, IWC mengesahkan resolusi untuk bekerja sama dengan semua pihak mengurangi “tabrakan kapal” yang dianggap sebagai “perhatian prioritas”. Langkah ini disambut baik oleh organisasi konservasi. Para ahli merekomendasikan pembatasan kecepatan kapal di jalur migrasi dan peningkatan kesadaran akan lokasi serta waktu rawan tabrakan. Di California, perusahaan pelayaran bersaing mendapatkan nilai tinggi dalam kartu skor publik yang menilai kepatuhan mereka terhadap batas kecepatan selama periode berisiko. Di Teluk San Francisco, kamera pendeteksi paus berbantuan AI sedang diuji coba untuk memberi peringatan dini kepada nakhoda.
Meskipun hukum Australia mewajibkan pelaporan tabrakan dengan spesies dilindungi, Mayaud menyebut sebagian besar insiden tidak terdeteksi atau tidak terdokumentasi. “Yang terpenting, tabrakan tidak harus mematikan paus untuk menimbulkan dampak serius. Jika paus kehilangan sebagian ekornya, ia mungkin bertahan hidup, tetapi berenang menjadi kurang efisien dan lebih boros energi. Ini berdampak pada migrasi, makan, kondisi tubuh, dan potensi reproduksi. Ada juga trauma langsung—rasa sakit, kehilangan darah, infeksi—dan kemungkinan efek jangka panjang selama bertahun-tahun,” jelasnya.
Kisah paus bungkuk Australia menjadi cermin bagi Indonesia, yang juga memiliki jalur migrasi paus dan lumba-lumba di perairan Nusa Tenggara dan Papua. Dengan meningkatnya lalu lintas kapal wisata dan perikanan, risiko serupa mengintai. Indonesia belum memiliki regulasi ketat tentang kecepatan kapal di area migrasi mamalia laut. Ke depan, kolaborasi regional dan adopsi teknologi pemantauan seperti di California dapat menjadi langkah preventif. Tanpa tindakan nyata, keberhasilan konservasi paus bisa ternoda oleh luka-luka yang tak terlihat.



