PBNU 2026-2031: 33 Mustasyar Senior, Gus Kikin Pimpin 210 Pengurus
Baca dalam 60 detik
- PBNU resmi mengumumkan struktur kepengurusan masa khidmah 2026-2031 dengan total 210 personel, bertambah 21 orang dari periode sebelumnya.
- Jajaran Mustasyar diisi 33 tokoh nasional, termasuk Gus Mus, Jusuf Kalla, Ma'ruf Amin, Said Aqil Siroj, dan Shinta Nuriyah Wahid.
- Penambahan kursi kepengurusan mengindikasikan strategi konsolidasi organisasi menjelang tantangan kebangsaan lima tahun ke depan.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menuntaskan penyusunan formasi kepengurusan masa khidmah 2026-2031 dengan menempatkan 210 nama, naik 21 orang dibandingkan periode sebelumnya yang berjumlah 189. Pengumuman disampaikan pada Rabu (30/9) malam, bersamaan dengan penetapan 33 figur yang duduk di Majelis Mustasyarโdewan penasihat tertinggi organisasi.
Daftar Mustasyar yang dibacakan Katib Aam M. Nuh, didampingi Ketua Umum KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dan Rais Aam KH Miftachul Achyar, memuat sejumlah nama yang telah lama menjadi rujukan politik dan keagamaan nasional. Di antaranya Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Jusuf Kalla, Ma'ruf Amin, Said Aqil Siroj, Irfan Yusuf, A.S. Hikam, Moh. Mahfud MD, serta Nyai Hj. Shinta Nuriyah A. Wahid, istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid.
Komposisi itu menegaskan posisi Mustasyar bukan sekadar simbol kehormatan. Kehadiran mantan wakil presiden, mantan ketua Mahkamah Konstitusi, dan tokoh lintas generasi menunjukkan PBNU berupaya merawat jaringan pengaruh yang menjembatani pesantren, partai politik, dan lembaga negara. Dalam tradisi NU, Mustasyar berfungsi memberi pertimbangan strategis ketika organisasi menghadapi persoalan besar, termasuk yang bersinggungan dengan kebijakan publik.
Penambahan kursi kepengurusan dapat dibaca sebagai langkah konsolidasi internal. NU kini mengelola jaringan pesantren, lembaga pendidikan, dan badan usaha yang tersebar di hampir seluruh provinsi. Struktur yang lebih gemuk berpotensi mempercepat koordinasi, tetapi juga memunculkan tantangan efisiensi dan tata kelola. Publik menanti bagaimana PBNU menerjemahkan besarnya organisasi menjadi program yang menyentuh persoalan umat, seperti pendidikan, ekonomi kerakyatan, dan moderasi beragama.
"Secara keseluruhan pengurus PBNU masa khidmah 2026-2031 sebanyak 210 orang," ujar Gus Kikin, menggarisbawahi penambahan 21 personel dari kepengurusan sebelumnya.
Dari sisi politik kebangsaan, susunan Mustasyar yang mencakup Jusuf Kalla dan Ma'ruf Amin memberi sinyal bahwa PBNU tetap membuka kanal komunikasi dengan elite eksekutif dan legislatif. Keduanya memiliki pengalaman panjang di pemerintahan, sehingga kehadiran mereka dapat menjadi penyeimbang ketika organisasi bersinggungan dengan isu sensitif, misalnya RUU yang berkaitan dengan ormas keagamaan atau pengelolaan haji.
Yang tak kalah penting, masuknya Shinta Nuriyah mengukuhkan representasi perempuan di lingkaran pengambil keputusan. Meski Mustasyar bukan jabatan eksekutif, kehadiran figur seperti Nyai Shinta memberi pesan bahwa suara perempuan dan kelompok rentan memiliki tempat dalam arsitektur organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Ke depan, efektivitas kepengurusan 2026-2031 akan diuji oleh dinamika koalisi politik menjelang Pemilu 2029 dan tekanan global terhadap organisasi keagamaan. Mampukah 210 pengurus dan 33 Mustasyar menerjemahkan kekuatan jaringan NU menjadi terobosan kebijakan yang terasa di tingkat desa? Publik akan menilai dari langkah pertama yang diambil Gus Kikin dan jajarannya dalam 100 hari mendatang.



