ACC: Pola Makan Keseluruhan Lebih Menentukan Kesehatan Jantung daripada Nutrisi Tunggal
Baca dalam 60 detik
- American College of Cardiology menegaskan bahwa kualitas pola makan secara menyeluruh, bukan eliminasi satu jenis nutrisi, menjadi kunci pencegahan penyakit jantung.
- Pendekatan berbasis pola makan seperti Mediterania dan DASH dinilai lebih efektif karena menekankan makanan minim proses dan kaya serat.
- Faktor sosial-ekonomi dan akses pangan sehat turut menentukan keberhasilan perubahan gaya makan, sehingga intervensi klinis perlu mempertimbangkannya.

Pola makan secara keseluruhan dinilai lebih penting dalam upaya pencegahan dan pengelolaan penyakit kardiovaskular dibandingkan fokus pada satu jenis nutrisi tertentu. Kesimpulan itu tertuang dalam pernyataan ilmiah terbaru American College of Cardiology (ACC) yang dipublikasikan di Journal of the American College of Cardiology (JACC). Dokumen ini meninjau bukti terkini seputar nutrisi dan penyakit jantung, lalu merumuskan rekomendasi agar pendekatan gizi lebih konsisten diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan.
Alih-alih memperdebatkan berapa persen karbohidrat, lemak, atau protein yang ideal, para penulis menekankan pentingnya kualitas makanan secara umum, sumber bahan pangan, serta tingkat pengolahannya. Pesan utamanya: makan sehat untuk jantung tidak mengharuskan seseorang mengikuti satu pola diet kaku atau menyingkirkan nutrisi tertentu, misalnya lemak atau karbohidrat. Yang lebih krusial adalah konsistensi menjalankan pola makan yang bertumpu pada pangan bergizi dan minim proses, yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Pergeseran paradigma ini bukan tanpa alasan. Pendekatan gizi berbasis nutrisi tunggal perlahan ditinggalkan karena tidak cukup menggambarkan interaksi kompleks antara makanan dan kesehatan kardiometabolik. Pola makan yang buruk berkontribusi pada hipertensi, kolesterol tinggi, dan resistensi insulin—tiga kondisi yang saling terkait dan memperbesar risiko serangan jantung serta stroke. Karena itu, ACC mendorong strategi berbasis pangan dan pola makan yang lebih mencerminkan realitas konsumsi sehari-hari.
Dalam pernyataannya, ACC merekomendasikan penekanan pada makanan nabati yang minim proses, sekaligus membatasi asupan pati olahan, gula tambahan, natrium, dan lemak tidak sehat. Mereka secara khusus mendukung penggantian lemak jenuh dengan lemak tak jenuh, seperti yang terdapat pada minyak nabati cair, kacang-kacangan, biji-bijian, dan ikan. Biji-bijian utuh serta pangan kaya serat juga diprioritaskan. Air dan minuman tanpa pemanis menjadi pilihan utama dibandingkan minuman berpemanis gula, sementara konsumsi kopi atau teh dalam jumlah moderat dinilai masih dapat masuk dalam pola makan sehat. Alkohol justru disarankan untuk dibatasi atau dihindari.
Isu makanan ultraproses mendapat perhatian khusus. ACC tidak menyerukan penghapusan total semua makanan olahan, melainkan menekankan kualitas gizi dan derajat pengolahan. Pengolahan pada tingkat tertentu dapat meningkatkan keamanan, daya simpan, atau kepraktisan pangan. Yang menjadi sorotan adalah produk yang sangat diproses dan miskin nutrisi, serta tinggi karbohidrat olahan, gula tambahan, natrium, dan lemak tidak sehat. Pembeda ini penting agar pesan kesehatan tidak disalahartikan sebagai larangan menyeluruh terhadap makanan kemasan.
Pernyataan ACC juga menempatkan nutrisi dalam kerangka kesehatan kardiovaskular-ginjal-metabolik (CKM). Pada Juni 2026, ACC bersama American Heart Association (AHA) menerbitkan pedoman klinis pertama untuk sindrom CKM—gangguan kompleks yang menghubungkan penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal kronis, serta gangguan metabolik seperti diabetes tipe 2 dan obesitas. Pendekatan makan nabati, pengurangan natrium, dan pembatasan makanan ultraproses berkualitas rendah menjadi prioritas karena berpotensi memberi manfaat lintas kondisi tersebut.
Namun, ACC mengingatkan bahwa kemampuan seseorang mengikuti pola makan sehat tidak sepenuhnya berada dalam kendali individu. Akses terhadap pangan bergizi dipengaruhi oleh ketersediaan, keterjangkauan, aksesibilitas, serta keterampilan mengolah makanan. Karena itu, konseling gizi perlu mempertimbangkan keamanan pangan dan determinan sosial kesehatan. Artinya, rekomendasi makanan harus realistis dan terjangkau, bukan berasumsi semua orang memiliki akses setara terhadap pilihan sehat.
Area yang tengah berkembang adalah program "Food Is Medicine", yang menyediakan pangan bergizi sebagai bagian dari perawatan klinis, bukan sekadar anjuran gaya hidup. Bukti yang tumbuh menunjukkan intervensi semacam ini dapat memperbaiki kualitas diet dan berpotensi memperbaiki luaran klinis. Untuk implementasi lebih luas, sistem kesehatan dituntut mengintegrasikannya ke dalam perawatan rutin dengan pendekatan yang berkelanjutan dan sesuai kebutuhan populasi.
Pernyataan ini juga menyoroti meningkatnya penggunaan agonis reseptor GLP-1, yang dapat menurunkan berat badan secara signifikan dan memberi manfaat kardiovaskular pada pasien yang tepat. Meski demikian, perbaikan kualitas diet tetap penting selama pengobatan. Pasien yang menggunakan obat ini tetap memerlukan asupan protein, serat, vitamin, dan mineral yang cukup untuk mencegah defisiensi nutrisi.
"Diet sehat untuk jantung bukan tentang satu 'superfood', melainkan tentang apa yang rutin ada di piring Anda untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan menjaga semua metrik kardiometabolik dalam rentang optimal," ujar Michelle Routhenstein, ahli diet kardiologi preventif dari EntirelyNourished, kepada Medical News Today.
Routhenstein menyarankan agar setiap kali makan dibangun dari beragam sayur dan buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan atau lentil, serta biji-bijian, sambil menyertakan protein tanpa lemak sesuai kebutuhan. Tujuannya adalah memperbanyak konsumsi pangan tersebut dan mengurangi daging olahan, biji-bijian olahan, gula rafinasi, serta makanan tinggi natrium atau lemak jenuh. "Tidak harus semua atau tidak sama sekali, tetapi konsistensi jangka panjang penting untuk pencegahan penyakit jantung," tegasnya.
Ia menyarankan memulai dari satu kali makan, dengan fokus pada penggantian bahan ketimbang penghapusan total. Contohnya, jika biasa mengonsumsi daging merah, coba ganti dengan ikan kaya omega-3 untuk menurunkan lemak jenuh sekaligus meningkatkan lemak tak jenuh. Jika tidak menyukai ikan, campurkan kacang-kacangan ke dalam hidangan berbasis daging untuk menambah protein nabati dan serat. "Perubahan kecil yang konsisten jauh lebih bermakna daripada diet 'sempurna' dalam waktu singkat," ujarnya.
Menurut Routhenstein, baik pola Mediterania maupun DASH menekankan pangan kardioprotektif seperti sayur, buah, kacang-kacangan, lentil, biji-bijian utuh, dan lemak tak jenuh yang lebih sehat, sambil membatasi lemak jenuh, gula tambahan, dan natrium. DASH secara khusus menekankan pengurangan natrium untuk mendukung tekanan darah sehat. Namun, ia mengingatkan bahwa label "Mediterania" atau "DASH" tidak otomatis berhasil jika tidak disesuaikan dengan preferensi pangan, budaya, tradisi, anggaran, keterampilan memasak, dan gaya hidup individu.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat beban penyakit jantung yang terus meningkat dan pola konsumsi yang bergeser ke makanan ultraproses. Kebijakan pangan dan gizi nasional dapat mempertimbangkan pendekatan berbasis pola makan, bukan sekadar kampanye pengurangan satu nutrisi. Pertanyaannya, mampukah sistem kesehatan dan kebijakan pangan Indonesia mengadopsi prinsip serupa—terjangkau, sesuai budaya, dan berkelanjutan—sebelum beban kardiovaskular semakin berat?



