Eskalator Stasiun Duri Berbalik Arah, 12 Penumpang Terluka
Baca dalam 60 detik
- Insiden eskalator di Stasiun Duri menyebabkan 12 orang cedera ringan pada Sabtu pagi.
- KAI Commuter menyatakan permohonan maaf dan mengevakuasi korban ke pos kesehatan serta rumah sakit.
- Penyebab teknis masih diselidiki, sementara eskalator dihentikan operasionalnya untuk pemeriksaan.

Sebanyak 12 penumpang mengalami luka ringan setelah eskalator di Stasiun Duri, Jakarta Barat, tiba-tiba berbalik arah dari naik menjadi turun pada Sabtu (3/10) sekitar pukul 07.45 WIB. Insiden ini terekam dalam video yang beredar di media sosial, memperlihatkan sejumlah orang terjatuh terduduk saat tangga berjalan itu bergerak berlawanan dengan seharusnya.
Menurut keterangan VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, petugas keamanan yang sedang bertugas langsung menghentikan operasional eskalator begitu mengetahui adanya gangguan. Mereka juga sigap mengevakuasi para pengguna yang terjatuh dan memberikan pertolongan pertama. "Seluruh pengguna yang mengalami luka-luka dibantu ke Pos Kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan awal," ujar Karina dalam pernyataan resminya.
Dari 12 korban, sepuluh orang merupakan penumpang dewasa dan dua lainnya anak-anak. Lima orang dilaporkan telah melanjutkan perjalanan setelah mendapat perawatan, lima orang dirujuk ke Rumah Sakit Duta Indah, dan dua orang masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut. KAI Commuter memastikan akan terus memantau kondisi seluruh korban serta memberikan bantuan yang diperlukan.
Insiden ini menambah daftar panjang persoalan keselamatan infrastruktur transportasi publik di Jabodetabek. Eskalator sebagai fasilitas vital di stasiun kereta commuter seharusnya menjalani perawatan rutin dan pengujian berkala. Namun, kejadian seperti ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas protokol pemeliharaan, terutama di stasiun dengan mobilitas penumpang tinggi seperti Duri yang melayani rute Commuter Line dan juga terintegrasi dengan layanan kereta bandara.
Pengamat transportasi menilai bahwa insiden semacam ini dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi umum. "Keselamatan adalah fondasi utama. Jika fasilitas dasar seperti eskalator tidak terjamin, bagaimana penumpang bisa yakin pada sistem yang lebih kompleks?" ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa regulator perlu memperketat audit keselamatan secara berkala, bukan hanya setelah terjadi kecelakaan.
"Sekali lagi kami sampaikan permohonan maaf kepada seluruh pengguna yang terdampak. Untuk kondisi dan penyebab gangguan eskalator, saat ini masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut oleh tim teknis," kata Karina.
KAI Commuter belum dapat memastikan penyebab pasti malfungsi tersebut. Tim teknis masih melakukan investigasi untuk mengetahui apakah ada kegagalan mekanis, kelalaian perawatan, atau faktor lain. Sementara itu, area eskalator telah diamankan dan diberi pembatas untuk mencegah akses penumpang.
Insiden di Stasiun Duri ini juga menjadi sorotan di media sosial, dengan warganet ramai-ramai mengunggah video detik-detik kejadian. Banyak yang mengeluhkan kurangnya pengawasan terhadap kondisi fasilitas di stasiun-stasiun commuter. Beberapa bahkan menuntut transparansi hasil investigasi dan perbaikan menyeluruh.
Ke depan, kasus ini bisa menjadi ujian bagi KAI Commuter dalam memperbaiki standar keselamatan dan komunikasi krisis. Jika investigasi menemukan kelalaian, bukan tidak mungkin akan ada tuntutan hukum dari korban. Publik akan menantikan langkah konkret apa yang diambil untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, sekaligus memastikan bahwa transportasi publik benar-benar aman bagi semua pengguna.



