CFTC Ajukan Dua Aturan Baru untuk Kontrak Event, Tantang Regulasi Judi Negara Bagian
Baca dalam 60 detik
- CFTC mengajukan dua rancangan aturan ke OMB yang mengklasifikasikan kontrak event sebagai swap dan mengecualikannya dari produk judi.
- Langkah ini memperkuat posisi CFTC dalam sengketa hukum dengan negara bagian yang mengklaim yurisdiksi atas platform prediksi seperti Kalshi.
- Jika disetujui, aturan ini dapat mengubah lanskap regulasi prediksi pasar di AS dan berimplikasi pada industri kripto global, termasuk Indonesia.

Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas Amerika Serikat (CFTC) kembali mengajukan dua rancangan aturan ke Kantor Manajemen dan Anggaran (OMB) Gedung Putih, sebuah langkah yang berpotensi mengubah secara fundamental status hukum kontrak event di pasar prediksi. Aturan pertama akan memasukkan kontrak event ke dalam definisi swap yang diatur secara federal, sementara aturan kedua menegaskan bahwa produk tersebut bukan termasuk kategori perjudian. Manuver ini menjadi babak terbaru dalam pertarungan yurisdiksi antara regulator federal dan sejumlah negara bagian yang bersikeras memiliki wewenang mengawasi kontrak semacam itu sebagai bentuk judi.
CFTC selama ini konsisten memposisikan diri sebagai regulator tunggal untuk pasar prediksi dan kontrak event—instrumen biner yang memungkinkan taruhan ya atau tidak atas hasil suatu peristiwa terukur, mulai dari pertandingan olahraga hingga pemilu. Ketua CFTC, Mike Selig, berulang kali menegaskan bahwa pihaknya memiliki yurisdiksi eksklusif atas produk-produk ini. Namun, sejumlah negara bagian menolak pandangan tersebut dan menuntut platform seperti Kalshi karena dianggap mengoperasikan perjudian ilegal di wilayah mereka.
Keputusan pengadilan federal terbaru justru memperuncing perbedaan tafsir. Pengadilan Banding Sirkuit Keenam AS memutuskan bahwa kontrak terkait olahraga di Kalshi bukanlah swap dan tunduk pada regulasi judi negara bagian. Putusan serupa juga dikeluarkan Sirkuit Kedelapan. Sebaliknya, Sirkuit Ketiga sebelumnya menegaskan bahwa CFTC memiliki yurisdiksi yang sah atas pasar prediksi. Fragmentasi putusan di tingkat banding ini membuka peluang besar bagi Mahkamah Agung AS untuk turun tangan menyelesaikan sengketa.
Langkah CFTC kali ini secara implisit membantah putusan pengadilan yang menyamakan kontrak event dengan judi. Dengan memperluas definisi swap—instrumen keuangan yang diatur agensi—untuk mencakup kontrak event, CFTC berupaya menempatkan produk ini di bawah payung regulasi derivatif. Sementara itu, aturan final sementara yang menghapus "produk judi bergaya kasino" dari definisi swap berpotensi melemahkan argumen negara bagian bahwa kontrak event adalah perjudian. Jika kedua aturan ini berlaku, posisi negara bagian dalam puluhan gugatan terhadap platform prediksi akan terancam.
Namun, prosesnya tidak sederhana. Review OMB biasanya merupakan tahap akhir sebelum aturan diajukan untuk komentar publik. Untuk aturan final sementara, aturan dapat langsung berlaku efektif sembari tetap membuka ruang masukan dan revisi. CFTC juga menyatakan bahwa kedua aturan tersebut tidak tergolong "signifikan secara ekonomi", meski teks lengkapnya belum dipublikasikan.
"CFTC memiliki yurisdiksi tunggal atas pasar prediksi," tegas Chairman Mike Selig dalam berbagai kesempatan, seperti dikutip dari pernyataan resmi agensi.
Menariknya, CFTC saat ini hanya diisi oleh Selig sebagai satu-satunya komisioner. Presiden Donald Trump belum menominasikan anggota lain untuk mengisi kursi yang kosong, sehingga Selig bertindak secara unilateral dalam mengambil keputusan regulasi dan kebijakan. Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang legitimasi dan stabilitas arah kebijakan CFTC ke depan.
Selain dua aturan tersebut, OMB juga mencatat adanya "prerule" yang diajukan CFTC terkait regulasi kripto, meski rinciannya belum diungkap. Langkah ini menandakan bahwa CFTC semakin agresif memperluas cakupan pengawasan di ranah aset digital dan instrumen turunannya.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Pasar prediksi dan kontrak event belum memiliki padanan regulasi yang jelas di tanah air, namun industri kripto dan derivatif lokal terus tumbuh. Jika CFTC berhasil menegaskan yurisdiksinya, hal ini dapat menjadi preseden internasional bahwa kontrak event adalah instrumen keuangan, bukan judi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti mungkin perlu mengkaji ulang kerangka pengawasan aset kripto dan produk derivatif untuk mengantisipasi masuknya platform global semacam ini. Selain itu, kepastian hukum di AS dapat mempengaruhi arus modal dan inovasi di sektor keuangan digital regional, termasuk Indonesia yang sedang mendorong pengembangan ekosistem kripto dan blockchain.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Mahkamah Agung AS akan menerima kasus ini dan memberikan putusan final yang menyeragamkan tafsir hukum di seluruh negeri. Jika ya, keputusan tersebut tidak hanya akan menentukan nasib platform prediksi di AS, tetapi juga membentuk ulang batas antara regulasi keuangan dan perjudian di era ekonomi digital. Indonesia sebaiknya tidak menunggu terlalu lama untuk mempersiapkan kerangka regulasi yang adaptif.



