NEAR Intents Dibobol Rp61 Miliar, Celah di Sistem Deposit Lintas Rantai
Baca dalam 60 detik
- NEAR Intents kehilangan sekitar US$3,8 juta akibat eksploitasi yang menyasar interaksi kontrak pintar dengan sistem setor-tarik Omni.
- Insiden ini memperpanjang daftar peretasan kripto sepanjang tahun, setelah Bitget, Liquid Network, dan Drift mengalami kerugian jauh lebih besar.
- Platform berjanji mengganti seluruh dana korban, namun operasional setor-tarik di belasan jaringan masih terhenti saat perbaikan berlangsung.

Protokol lintas rantai NEAR Intents menghentikan sementara layanan setor dan tarik di sejumlah blockchain setelah sebuah eksploitasi menguras dana sekitar US$3,8 juta (setara Rp61 miliar) pada Kamis. Perusahaan menyatakan celah yang dieksploitasi telah ditambal dan seluruh dana pengguna yang terdampak akan diganti penuh.
Menurut pengungkapan resmi proyek, akar masalahnya bukan pada blockchain NEAR Protocol, melainkan pada cara sistem deposit dan penarikan Omni berinteraksi dengan kontrak pintar NEAR Intents. Kombinasi itu membuka celah yang dimanfaatkan penyerang sebelum tim keamanan menutupnya. Pihak platform menegaskan telah melaporkan insiden ini ke aparat penegak hukum dan menggandeng firma analitik blockchain untuk melacak aliran dana.
NEAR Intents selama ini memosisikan diri sebagai jembatan yang menyederhanakan perdagangan antar-rantai. Alih-alih memilih bridge, bursa, atau rute sendiri, pengguna cukup menentukan swap yang diinginkan, lalu sejumlah market maker independen—disebut solver—berlomba mengeksekusinya di belakang layar. Situs resmi platform mencatat volume transaksi melampaui US$30 miliar yang tersebar di 35 jaringan.
Investigasi awal dari peneliti blockchain ZachXBT menyebut eksploitasi bermula dari penarikan tidak wajar di hot wallet yang terhubung dengan NEAR Intents di BNB Chain. Dana curian kemudian dikirim ke bursa KuCoin dan dikonversi menjadi bitcoin. Temuan ini menggarisbawahi pola serangan yang kian menyasar infrastruktur perantara, bukan hanya bursa besar.
"Celah kontrak telah ditambal dan dana yang terdampak akan diganti sepenuhnya," demikian pernyataan NEAR Intents, seraya menambahkan bahwa layanan inti ditargetkan pulih cepat.
Meski demikian, laman status platform menunjukkan gangguan setor-tarik masih berlanjut di sejumlah jaringan, mencakup BNB Smart Chain, Polygon, TON, Optimism, Avalanche, Stellar, Monad, X Layer, ADI, Scroll, dan Plasma. Artinya, pemulihan penuh belum bisa dipastikan dalam waktu dekat.
Insiden ini menambah panjang daftar buruk keamanan kripto tahun ini. Pekan sebelumnya, bursa Bitget kehilangan lebih dari US$350 juta. Data DefiLlama mencatat kerugian serupa di Liquid Network (sekitar US$320 juta), Drift (US$295 juta), dan Kelp (US$293 juta). Pola ini menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber semakin terampil membidik titik lemah pada lapisan interoperabilitas.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini layak dicermati. Sejumlah investor ritel domestik mulai melirik aset lintas rantai dan produk DeFi sebagai diversifikasi, seiring tumbuhnya adopsi kripto di dalam negeri. Namun, kejadian semacam ini menegaskan bahwa risiko teknis pada protokol jembatan belum sepenuhnya terpetakan, bahkan pada platform dengan volume besar. Otoritas seperti Bappebti dan pelaku industri dalam negeri perlu memperkuat literasi risiko, terutama soal custodial dan smart contract, agar eksposur investor tidak menumpuk di satu titik rawan.
Pertanyaan besarnya kini: apakah model solver dan lintas rantai yang mengandalkan kontrak kompleks bisa benar-benar aman, atau justru menjadi target empuk berikutnya? Jawabannya akan menentukan arah kepercayaan pasar terhadap infrastruktur DeFi dalam beberapa kuartal mendatang.



