Taktik John Herdman Disorot: Timnas Indonesia Wajib Kalahkan Bangladesh demi Tiket Final
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan Malaysia, membuat posisi di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 belum aman.
- Pengamat menilai formasi 5-4-1 yang diterapkan Herdman kurang efektif karena transisi dari bertahan ke menyerang lambat dan kontrol lini tengah mudah hilang.
- Laga melawan Bangladesh pada 1 Oktober 2026 menjadi penentu: kemenangan wajib diraih untuk mengunci tiket final.

Timnas Indonesia gagal memaksimalkan laga krusial melawan Malaysia setelah bermain imbang 0-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (28/9/2026). Hasil ini membuat persaingan di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 semakin ketat dan menempatkan skuad Garuda di posisi kedua dengan koleksi empat poin, setara Malaysia namun kalah selisih gol. Pelatih John Herdman pun mendapat sorotan tajam terkait pilihan taktiknya.
Dalam pertandingan tersebut, Herdman menurunkan komposisi pemain naturalisasi. Namun, alih-alih mendominasi, Indonesia justru kesulitan menciptakan peluang bersih. Pengamat sepak bola nasional, Luciano Leandro, menilai persoalan bukan pada status pemain, melainkan pada struktur dan chemistry tim. "Sepak bola tidak ditentukan oleh paspor pemain, tetapi oleh struktur, chemistry, peran dan cara tim bermain sebagai satu kesatuan," ujarnya kepada Bola.com, Selasa (29/9/2026).
Luciano menyoroti pilihan formasi 5-4-1 yang dinilai terlalu defensif. Menurutnya, sistem itu memang bisa menjaga keseimbangan, tetapi menuntut koordinasi transisi bertahan-menyerang yang sangat baik. Faktanya, Indonesia kerap kehilangan kontrol di lini tengah dan lambat mengubah penguasaan bola menjadi ancaman. "Masalah utama adalah Indonesia terlalu mudah kehilangan kontrol di lini tengah dan tidak cukup cepat mengubah possession menjadi peluang," jelas mantan pemain Persija Jakarta itu.
Situasi semakin rumit ketika Indonesia harus bermain dengan 10 pemain akibat kartu merah. Dalam kondisi tersebut, Herdman dituntut cepat beradaptasi. Luciano menilai pelatih perlu memperkecil ruang, menjaga struktur, namun tetap menyediakan opsi serangan balik. "Setelah kartu merah, situasinya tentu makin berat. Dalam kondisi seperti itu pelatih harus melakukan adaptasi secara cepat," katanya.
Meski tidak menyalahkan Herdman secara total, Luciano menegaskan ada beberapa keputusan taktis yang perlu dievaluasi, terutama cara membangun serangan, dukungan gelandang terhadap striker, dan reaksi tim saat lawan menguasai permainan. "Materi pemain Indonesia sangat bagus. Sekarang tantangannya adalah mengubah kualitas individu menjadi kekuatan kolektif. Nama besar pemain tidak cukup. Indonesia membutuhkan struktur permainan yang jelas, koneksi antarlini dan keberanian untuk bermain lebih progresif," imbuhnya.
"Saya tidak akan mengatakan Herdman salah total. Tetapi, ada beberapa keputusan taktis yang perlu dievaluasi, terutama bagaimana Indonesia membangun serangan, bagaimana gelandang mendukung striker dan bagaimana tim bereaksi ketika lawan berhasil menguasai pertandingan." โ Luciano Leandro, pengamat sepak bola nasional.
Di sisi lain, Sekjen FIFA Mattias Grafstrรถm memuji persiapan Indonesia sebagai tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026. Ia menyoroti antusiasme terhadap sepak bola, dukungan PSSI dan pemerintah, serta kesiapan infrastruktur. Pujian ini menjadi modal positif, namun juga menambah tekanan karena publik berharap tim nasional tampil lebih baik di kandang sendiri.
Laga melawan Bangladesh pada Kamis (1/10/2026) malam WIB di SUGBK akan menjadi penentu. Kemenangan wajib diraih Indonesia untuk mengamankan tiket final tanpa bergantung pada hasil pertandingan lain. Jika kembali gagal, bukan hanya tiket final yang melayang, tetapi juga sorotan terhadap taktik Herdman akan semakin deras. Mampukah Garuda bangkit dan membuktikan kualitas individu menjadi kekuatan kolektif?



