Patrik Le Giang Sebut ASEAN Mampu Kejutkan Asia di Piala Asia 2027
Baca dalam 60 detik
- Empat wakil ASEAN dipastikan tampil di Piala Asia 2027 yang berlangsung di Arab Saudi.
- Kiper Vietnam, Patrik Le Giang, menilai turnamen ini sebagai panggung terbesar sepak bola Asia.
- Undian menempatkan Vietnam di Grup E bersama Korea Selatan, UEA, dan Yaman, sementara Indonesia bergabung di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand.

Empat negara ASEAN akan mengirimkan wakilnya ke Piala Asia 2027 di Arab Saudi. Kiper Timnas Vietnam, Patrik Le Giang, menilai kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan peluang nyata untuk menciptakan kejutan di turnamen paling bergengsi Asia tersebut.
Piala Asia 2027 dijadwalkan bergulir pada Januari tahun depan. Sebanyak 24 tim akan bersaing, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, empat wakil dari Asia Tenggara—Indonesia, Singapura, Thailand, dan Vietnam—tampil bersamaan. Ini menandai peningkatan signifikan daya saing sepak bola kawasan, yang biasanya hanya diwakili satu atau dua tim di edisi-edisi sebelumnya.
Le Giang, yang saat ini memperkuat The Golden Star Warriors, mengungkapkan antusiasmenya. "Turnamen ini sangat besar, mungkin yang terbesar di Asia. Kami tak sabar berlaga, tetapi sekarang fokus kami tertuju pada FIFA ASEAN Cup 2026," ujarnya kepada Bola.com di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (2/10/2026) malam.
Bagi Vietnam, undian Grup E menghadirkan tantangan berat. Mereka harus menghadapi Korea Selatan yang selalu menjadi langganan Piala Dunia, Uni Emirat Arab yang memiliki program pembinaan pemain muda solid, serta Yaman yang kerap merepotkan tim-tim besar. Namun, Le Giang menyambut baik ujian tersebut. "Akan ada banyak tim hebat dari Asia dan Australia. Menghadapi mereka adalah pengalaman yang menyenangkan," tambahnya.
Kepercayaan diri Le Giang mencerminkan tren positif sepak bola Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia, misalnya, terus mengejar kualitas melalui naturalisasi dan pembinaan usia muda. Thailand dan Vietnam konsisten menjadi pesaing di level regional, sementara Singapura mulai membangun kembali fondasi timnasnya. Kehadiran empat tim ASEAN di Piala Asia 2027 bisa menjadi indikator bahwa jarak dengan kekuatan tradisional Asia—seperti Jepang, Korea Selatan, dan Iran—mulai menyempit, meski masih cukup lebar.
"Jika bicara soal turnamen ini, akan ada banyak tim hebat dari berbagai negara di Asia dan Australia. Jadi, rasanya menyenangkan bisa menghadapi tim-tim dan lawan-lawan terbaik," ujar Patrik Le Giang.
Dari kacamata Indonesia, Piala Asia 2027 menjadi ujian bagi konsistensi program yang dijalankan PSSI. Berada di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand, Timnas Garuda menghadapi jalan terjal. Jepang adalah langganan juara, Qatar merupakan tuan rumah Piala Dunia 2022 dengan infrastruktur dan pembinaan mumpuni, sedangkan Thailand adalah rival klasik di Asia Tenggara. Lolos dari fase grup akan menjadi prestasi bersejarah, tetapi bukan mustahil jika persiapan berjalan mulus.
Piala Asia 2027 juga menjadi ajang pembuktian bagi pelatih dan pemain ASEAN yang berkarier di luar negeri. Le Giang sendiri adalah contoh pemain diaspora yang memilih memperkuat Vietnam. Fenomena ini menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN semakin agresif dalam memanfaatkan pemain keturunan untuk meningkatkan kualitas tim. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin ASEAN menjadi kekuatan yang diperhitungkan di level Asia dalam satu dekade ke depan.
Meski demikian, optimisme harus dibarengi dengan realisme. Piala Asia 2027 masih menyisakan waktu sekitar satu tahun, dan persiapan menjadi kunci. Le Giang menegaskan bahwa fokusnya saat ini adalah FIFA ASEAN Cup 2026, turnamen yang bisa menjadi batu loncatan sebelum menghadapi lawan-lawan yang lebih berat. "Kami fokus dulu di ASEAN Cup, lalu setelah itu kami siap untuk Piala Asia," pungkasnya.
Pertanyaannya, mampukah wakil ASEAN mengubah kejutan menjadi prestasi konkret, ataukah mereka hanya akan menjadi pelengkap pesta sepak bola Asia? Jawabannya akan terlihat di Arab Saudi awal tahun depan.



