Burnham Sinyalkan Opsi Gabung Uni Eropa, Brexit Kembali Jadi Garis Pemisah Politik Inggris
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan bahwa bergabung kembali dengan Uni Eropa adalah salah satu opsi yang bisa dikaji untuk memperbaiki hubungan dengan Eropa.
- Pernyataan ini memicu kritik dari Partai Konservatif yang menuduhnya membuka kembali luka lama Brexit dan berpotensi menjadi isu sentral pada pemilu berikutnya.
- Langkah Burnham dapat menandai pergeseran besar dari manifesto Partai Buruh 2024 dan berdampak pada hubungan dagang serta geopolitik Inggris, termasuk bagi Indonesia.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham secara terbuka menyatakan bahwa bergabung kembali dengan Uni Eropa (UE) merupakan salah satu opsi yang perlu dipertimbangkan untuk membentuk ulang hubungan jangka panjang London dengan Brussels. Dalam wawancara dengan BBC Radio 4, ia menilai kesepakatan Brexit saat ini telah membawa "lebih banyak kerugian daripada manfaat" dan menekankan perlunya mengeksplorasi langkah-langkah yang realistis untuk memperbaiki hubungan tersebut.
Pernyataan ini muncul setelah pidato Burnham di konferensi Partai Buruh pada Selasa lalu, di mana ia berjanji akan menjajaki hubungan yang lebih erat dengan blok Eropa pada pertemuan puncak yang tertunda akhir tahun ini. Langkah tersebut berpotensi menciptakan garis pemisah besar pada pemilihan umum berikutnya, dengan Partai Konservatif menuduhnya berusaha "membuka kembali luka lama dengan memulai kembali pertempuran era Brexit".
Burnham sebelumnya, saat berkampanye dalam pemilihan sela Makerfield yang mengantarkannya kembali ke Parlemen, berjanji tidak akan "mengulang" argumen Brexit dan menyatakan tidak mengusulkan agar Inggris mempertimbangkan kembali ke UE. Namun, komentar terbarunya menjadi indikasi paling jelas bahwa ia mungkin akan mengambil sikap berbeda dari manifesto pemilu Partai Buruh 2024 yang berjanji "membuat Brexit berhasil" sekaligus menolak bergabung kembali dengan pasar tunggal atau serikat pabean.
Pendahulunya, Sir Keir Starmer, lebih memilih pendekatan yang terbatas, termasuk menyelaraskan standar pangan dengan UE, kesepakatan visa pemuda, dan menghubungkan kembali industri Inggris ke sistem perdagangan karbon Eropa. Kepergian Sir Keir dari jabatannya menunda pertemuan puncak musim panas dengan UE hingga akhir tahun ini, di mana Burnham juga berencana menerbitkan rencana 10 tahun untuk mentransformasi ekonomi Inggris.
Dalam wawancaranya, Burnham menegaskan tidak ingin membiarkan pertanyaan tentang hubungan dengan UE "menggantung" dan ingin memperjelas "ke mana Inggris akan menuju dalam dekade berikutnya". Ketika ditanya apakah ia ingin Inggris bergabung kembali dengan UE, ia menjawab ingin "melihat opsi yang ada". Ia menambahkan bahwa dirinya pernah mendukung langkah tersebut dalam hidupnya, namun mengakui bahwa "bukan berarti itu yang terjadi sekarang".
"Kita bisa tetap seperti sekarang. Itu jelas sebuah opsi, jika orang berpikir ini tempat yang tepat untuk tetap tinggal. Kita bisa melihat apa yang dikatakan [mantan Menteri Keuangan] George Osborne tentang serikat pabean, kita bisa melihat apa yang dikatakan Partai Liberal Demokrat di konferensi mereka tentang pasar tunggal, atau kita bisa mengambil langkah penuh. Jadi jelas ada opsi yang perlu dipertimbangkan, dan kita harus melihat apa yang bisa dilakukan serta apa pro dan kontra masing-masing," ujar Burnham.
Dalam pidato konferensinya, Burnham menyalahkan Brexit atas hilangnya kendali atas imigrasi dan ekonomi, dan menyatakan hubungan saat ini tidak "cukup baik". Ia berjanji akan menggunakan pertemuan puncak yang dijadwalkan ulang untuk memaparkan "opsi berbeda" bagi hubungan jangka panjang Inggris dengan Eropa, serta mencari konsensus untuk memperjelas posisi Inggris, meski tanpa merinci bagaimana hal itu akan diukur.
Menanggapi pidato tersebut, Wakil Pemimpin Partai Konservatif Alex Burghart mengatakan, "Partai Buruh tidak bisa menyalahkan keputusan ekonomi mereka yang buruk pada pemungutan suara yang terjadi lebih dari satu dekade lalu. Lagipula, mereka sudah menyeret kita ke Uni Eropa melalui pintu belakang dengan reset UE mereka."
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, dinamika politik Inggris ini memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Inggris adalah mitra dagang dan investasi penting, dan setiap perubahan hubungan dengan UE dapat memengaruhi akses pasar serta regulasi perdagangan. Jika Inggris bergerak lebih dekat ke UE, Indonesia mungkin perlu menyesuaikan strategi diplomasi ekonomi, terutama dalam hal standar produk dan kerja sama rantai pasok. Selain itu, ketidakpastian politik di Inggris dapat mempengaruhi nilai tukar poundsterling dan arus investasi global, yang berdampak pada pasar keuangan Indonesia.
Ke depan, pertemuan puncak Inggris-UE akhir tahun ini akan menjadi momen krusial untuk melihat arah kebijakan Burnham. Apakah ia akan berani mengambil langkah berani menuju integrasi kembali, atau hanya melakukan penyesuaian terbatas? Sementara itu, tekanan dari oposisi dan basis pemilih akan terus membayangi, menjadikan Brexit kembali sebagai medan pertempuran politik yang panas menjelang pemilu berikutnya.



