Studi Temukan Senyawa Gula di Daging Merah Berkaitan dengan Risiko Diabetes Tipe 2
Baca dalam 60 detik
- Penelitian awal dari Prancis mengaitkan asupan tinggi Neu5Gc, senyawa gula alami dalam daging merah, dengan kenaikan risiko diabetes tipe 2 hingga 63 persen.
- Mekanisme diduga melalui peradangan kronis akibat respons imun terhadap Neu5Gc yang dianggap benda asing oleh tubuh manusia.
- Temuan ini belum melalui telaah sejawat dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat, sehingga pola makan seimbang tetap menjadi kunci pencegahan.

Sebuah studi observasional terbaru yang dipresentasikan pada Pertemuan Tahunan European Association for the Study of Diabetes (EASD) di Milan, Italia, mengungkap bahwa konsumsi tinggi senyawa gula alami bernama N-glycolylneuraminic acid (Neu5Gc) — yang banyak terdapat pada daging merah seperti sapi dan kambing — berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 hingga 63 persen. Temuan ini menyoroti potensi bahaya tersembunyi dari pola makan tinggi daging merah, meski para peneliti menegaskan hasilnya masih bersifat awal dan belum melalui telaah sejawat.
Penelitian yang dipimpin oleh Leopold Fezeu, MD, PhD, dari Université Sorbonne Paris Nord, Prancis, menganalisis data 89.953 partisipan dari studi NutriNet-Santé. Selama rata-rata 7,2 tahun pemantauan, sebanyak 966 partisipan mengembangkan diabetes tipe 2. Mereka yang berada di kelompok dengan estimasi asupan Neu5Gc dari daging tertinggi memiliki risiko 63 persen lebih besar dibandingkan kelompok terendah, sementara kelompok tertinggi kedua mencatat risiko 41 persen lebih tinggi. Hubungan ini terlihat pada pria dan wanita, meski studi tidak dirancang untuk membandingkan perbedaan risiko antarjenis kelamin.
Neu5Gc adalah molekul yang diproduksi secara alami oleh sebagian besar mamalia, tetapi tidak oleh manusia. Ketika masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi daging merah, sistem imun mengenalinya sebagai zat asing dan memicu produksi antibodi. Respons ini dapat menimbulkan peradangan kronis tingkat rendah, yang oleh para peneliti disebut xenosialitis. Peradangan semacam itu diduga mengganggu kerja insulin dan sel-sel penghasil insulin di pankreas, sehingga berkontribusi pada resistensi insulin — akar dari diabetes tipe 2.
“Ini adalah risiko relatif: orang di kuintil teratas asupan Neu5Gc dari daging memiliki risiko 63 persen lebih tinggi dibandingkan kuintil terbawah, setelah memperhitungkan berbagai faktor lain. Namun, ini tidak berarti 63 persen konsumen tinggi akan mengembangkan diabetes. Dalam kohort kami, diabetes tipe 2 tetap jarang terjadi selama sekitar tujuh tahun, sehingga perbedaan risiko absolut bagi individu jauh lebih kecil,” jelas Fezeu.
Meski mekanisme peradangan terdengar masuk akal, Fezeu menekankan bahwa itu masih hipotesis. “Kami tidak mengukur antibodi anti-Neu5Gc dalam studi ini, jadi kami tidak bisa menguji mekanisme secara langsung. Ini adalah langkah selanjutnya yang penting,” tambahnya. Studi juga menemukan bahwa setelah peneliti menyesuaikan dengan total konsumsi daging merah, hubungan tersebut melemah dan tidak lagi signifikan secara statistik. Artinya, Neu5Gc bukan satu-satunya faktor; komponen lain dalam daging merah seperti haem iron dan nutrisi lain juga berpotensi memengaruhi risiko diabetes.
Studi ini juga mencatat bahwa asupan Neu5Gc dari semua sumber makanan (termasuk susu) meningkatkan risiko sebesar 37 persen, namun sebagian besar didorong oleh konsumsi daging. Temuan ini memperkuat bukti bahwa daging merah, terutama sapi dan kambing, merupakan sumber utama Neu5Gc. Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini tidak menunjukkan bahwa jumlah tertentu daging merah pasti menyebabkan diabetes. “Angka-angka ini menggambarkan pola makan kelompok studi dan tidak boleh diartikan sebagai ambang batas aman atau berbahaya,” tegas Fezeu.
Keterbatasan lain termasuk sifat observasional yang tidak dapat menetapkan sebab-akibat, kemungkinan faktor perancu yang tidak terukur, serta estimasi asupan makanan yang hanya berdasarkan catatan diet sesekali. Peneliti juga belum mengukur antibodi anti-Neu5Gc secara langsung. Rencana ke depan adalah menyelidiki interaksi Neu5Gc dengan komponen daging merah lain seperti haem iron, serta mengukur antibodi tersebut pada populasi lain. “Jika temuan kami terkonfirmasi, mengganti daging sapi dan kambing dengan unggas atau protein nabati yang rendah Neu5Gc adalah hipotesis logis untuk diuji,” ujar Fezeu.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat konsumsi daging merah, terutama sapi dan kambing, cukup tinggi pada momen tertentu seperti Idul Adha dan perayaan lainnya. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi diabetes tipe 2 di Indonesia mencapai 8,5 persen, dan angka ini diprediksi terus meningkat seiring perubahan gaya hidup. Meski studi ini belum final, pesan untuk membatasi asupan daging merah sejalan dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan yang menganjurkan pola makan gizi seimbang dengan porsi protein hewani yang tidak berlebihan. Masyarakat diimbau tidak panik, tetapi lebih bijak memilih sumber protein, termasuk memperbanyak konsumsi ikan, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah penggantian daging merah dengan sumber protein rendah Neu5Gc benar-benar menurunkan risiko diabetes. Fezeu menegaskan bahwa studi substitusi belum dilakukan, sehingga klaim tersebut belum bisa dipastikan. Namun, pedoman diet yang ada sudah lama menyarankan pembatasan daging merah untuk alasan kesehatan lain, seperti risiko kanker dan penyakit jantung. Dengan demikian, temuan ini menjadi pengingat tambahan bahwa apa yang ada di piring kita memiliki implikasi jangka panjang bagi metabolisme tubuh.



