Misi Crew-13 NASA Siap Meluncur: Riset Kesehatan hingga Pangan Antariksa
Baca dalam 60 detik
- NASA dan SpaceX akan meluncurkan Crew-13 ke Stasiun Antariksa Internasional pada 1 Oktober 2026 dari landasan peluncuran.
- Misi ini membawa empat astronot dari Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia untuk menjalankan penelitian medis dan pertanian di orbit.
- Eksperimen sel punca dan produksi pangan di antariksa berpotensi mempercepat inovasi kesehatan dan ketahanan pangan di Bumi, termasuk Indonesia.

NASA dan SpaceX menjadwalkan peluncuran misi Crew-13 menuju Stasiun Antariksa Internasional (ISS) pada Kamis, 1 Oktober 2026. Roket Falcon 9 dan wahana Dragon telah berdiri di landasan peluncuran setelah melewati uji statis, menandai langkah krusial menuju peluncuran berawak berikutnya.
Misi ini mengangkut empat astronot: Jessica Watkins dan Luke Delaney dari NASA, Joshua Kutryk dari Badan Antariksa Kanada, serta Sergey Teteryatnikov dari Roscosmos. Bagi Watkins, ini adalah penerbangan antariksa keduanya, sementara tiga rekannya akan mencetak debut di orbit. Komposisi kru yang melibatkan Rusia dan Kanada menegaskan bahwa kerja sama antariksa lintas negara tetap berjalan di tengah ketegangan geopolitik.
Crew-13 merupakan bagian dari Program Kru Komersial NASA, kolaborasi pemerintah dengan sektor swasta yang telah memungkinkan kehadiran manusia secara berkelanjutan di ISS. Sejak awal, kemitraan ini tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis SpaceX, tetapi juga membuka jalan bagi lebih banyak misi berawak dengan biaya yang lebih efisien. Keberhasilan misi ini akan memperkuat model kemitraan publik-swasta dalam eksplorasi antariksa.
Selama berada di ISS, para astronot akan menjalankan serangkaian eksperimen yang berfokus pada kesehatan manusia dan ketahanan pangan. Menurut Dana Weigel, manajer Program Orbit Bumi Rendah NASA di Johnson Space Center, kru akan mempelajari jaringan turunan sel punca untuk membantu penanganan penyakit jantung dan Parkinson. Penelitian ini diharapkan memperbaiki pemodelan penyakit dan pengujian farmasi.
"Kru juga akan mengeksplorasi produksi tanaman, yang penting untuk misi durasi panjang, memahami kelainan aliran darah di antariksa, dan menguji peralatan diagnostik baru," ujar Weigel dalam pernyataannya.
Eksperimen tersebut tidak hanya relevan bagi misi antariksa jangka panjang, tetapi juga berpotensi memberikan dampak langsung bagi Bumi. Studi sel punca di lingkungan mikrogravitasi dapat mempercepat penemuan obat dan terapi regeneratif. Sementara itu, penelitian produksi pangan di ruang angkasa dapat menginspirasi teknologi pertanian presisi di negara-negara dengan lahan terbatas, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, partisipasi dalam rantai pasok teknologi antariksa dan pemanfaatan data satelit untuk pertanian serta kesehatan masih terbuka lebar. Meski belum terlibat langsung dalam misi berawak, Indonesia dapat menjajaki kerja sama riset dengan NASA atau mitra komersialnya, terutama dalam pengembangan biofarmasi dan pertanian cerdas. Hilirisasi teknologi antariksa menjadi peluang strategis untuk memperkuat ketahanan pangan dan kesehatan nasional.
Ke depan, keberhasilan Crew-13 akan menjadi tolok ukur bagi misi komersial berikutnya dan mempercepat transisi dari eksplorasi antariksa yang didominasi negara ke era yang lebih inklusif bagi aktor swasta dan negara berkembang. Pertanyaannya, akankah Indonesia mengambil peran lebih aktif dalam ekonomi antariksa yang sedang tumbuh pesat ini?



