SpaceX Cetak Rekor Kecepatan ke ISS, Watkins Jadi Wanita Kulit Hitam Pertama Pimpin Misi Orbit
Baca dalam 60 detik
- SpaceX sukses meluncurkan empat astronot ke Stasiun Luar Angkasa Internasional dalam waktu delapan jam, memecahkan rekor kecepatan Amerika Serikat.
- Jessica Watkins mencatat sejarah sebagai wanita kulit hitam pertama yang memimpin kru ke orbit, sementara Joshua Kutryk akan menjadi ayah dari orbit.
- Peluncuran ini menegaskan dominasi SpaceX dalam logistik antariksa komersial, dengan tiga misi dalam sepekan termasuk uji orbit Starship.

Empat astronot tiba di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada Kamis setelah menempuh perjalanan singkat selama delapan jam dari Bumi, sebuah pencapaian yang menandai rekor kecepatan baru bagi Amerika Serikat. Misi yang diberi nama Crew-13 ini diluncurkan oleh SpaceX dari Cape Canaveral Space Force Station, Florida, setelah sempat tertunda tiga pekan akibat kebocoran sistem bahan bakar pada kapsul Dragon.
Komandan misi Jessica Watkins menorehkan sejarah sebagai wanita kulit hitam pertama yang memimpin kru ke orbit. Geolog yang pernah terlibat dalam proyek rover Curiosity NASA itu kembali ke ISS untuk kedua kalinya setelah tinggal dalam periode panjang pada 2022. "Terima kasih atas perjalanan yang luar biasa," ujarnya melalui radio setelah lepas landas.
Kecepatan transit yang luar biasa ini dimungkinkan oleh posisi ISS yang strategis saat peluncuran, sehingga jalur rendezvous menjadi lebih efisien. Meski demikian, awak akan menghabiskan enam bulan ke depan di laboratorium orbit tersebut, menggantikan empat astronot yang telah bertugas sejak Februari.
Selain Watkins, tiga awak lainnya adalah pendatang baru di luar angkasa: Luke Delaney dari NASA, pensiunan Marinir; Joshua Kutryk dari Kanada, kolonel Angkatan Udara Kerajaan Kanada; dan Sergey Teteryatnikov dari Rusia, mantan awak kapal selam. Kutryk akan menjadi pria keempat yang menjadi ayah saat mengorbit Bumi, karena istrinya, Heather, dijadwalkan melahirkan anak ketiga mereka pada akhir November. Badan Antariksa Kanada berjanji memberikan dukungan penuh bagi keluarga Kutryk selama ia bertugas.
"Banyak hal yang mengubah hidup bisa terjadi dalam enam bulan," kata manajer NASA Dana Weigel sehari sebelum peluncuran, seraya menambahkan bahwa pihaknya akan berupaya maksimal menjaga komunikasi Kutryk dengan keluarganya.
Misi ini juga sarat dengan simbolisme angka 13. Kru menaiki Tesla hitam dengan pelat bertuliskan "Lucky 13", dan membawa boneka naga emas rajutan bernama Lucky yang mengenakan kalung semanggi empat daun. "Kami pikir tidak ada salahnya membawa sedikit keberuntungan kami sendiri, tapi jelas kami tidak membutuhkannya," kata Watkins dari orbit, menyebut mereka sebagai "empat manusia paling beruntung di atau di luar Bumi."
Keberhasilan ini menegaskan posisi SpaceX sebagai pemain dominan dalam logistik antariksa komersial. Hanya tiga jam setelah peluncuran Crew-13, SpaceX meluncurkan roket Falcon dari California yang membawa lebih dari 100 satelit mini. Malam harinya, Falcon lain dijadwalkan lepas landas dari Florida dengan satelit rahasia untuk National Reconnaissance Office. Semua ini terjadi dalam pekan yang sama ketika Starship, roket raksasa perusahaan, mencapai orbit untuk pertama kalinya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memperkuat tren akses ruang angkasa yang semakin murah dan cepat. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dapat memanfaatkan layanan peluncuran komersial untuk menempatkan satelit komunikasi, pemantauan cuaca, atau riset. Namun, ketergantungan pada penyedia asing seperti SpaceX juga menimbulkan pertanyaan tentang kedaulatan teknologi dan keamanan data nasional. Indonesia saat ini memiliki beberapa satelit yang dioperasikan oleh Telkom dan LAPAN, tetapi belum memiliki kemampuan peluncuran sendiri.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh komersialisasi ruang angkasa akan mengubah lanskap geopolitik. Dengan SpaceX yang semakin mendominasi, akankah negara-negara lain mempercepat program antariksa mereka atau justru semakin bergantung pada pemain swasta? Sementara itu, kisah Kutryk yang akan menyaksikan kelahiran anaknya dari orbit mengingatkan bahwa eksplorasi ruang angkasa tetap merupakan upaya manusiawi, dengan segala dinamika dan harapannya.



