Simone Biles Ungkap Perjuangan Kulit Kepala Berdarah: 'Saya Tidak Bisa Hidup Seperti Ini'
Baca dalam 60 detik
- Simone Biles didiagnosis seborrheic dermatitis dan eksim setelah bertahun-tahun mengira hanya ketombe biasa.
- Atlet olimpiade ini mengaku kulit kepalanya berdarah akibat garukan keras, memaksanya mencari bantuan medis.
- Dokter memperingatkan keterlambatan penanganan dapat memicu infeksi dan kerontokan rambut permanen.

Simone Biles, pesenam olimpiade asal Amerika Serikat, mengungkapkan pengalaman pahitnya hidup dengan kondisi kulit yang membuat kulit kepalanya berdarah. Dalam wawancara eksklusif dengan PEOPLE, atlet berusia 29 tahun itu menceritakan bahwa ia didiagnosis seborrheic dermatitis dan eksim setelah bertahun-tahun salah mengira gejalanya sebagai ketombe biasa.
Biles mengaku rasa gatal yang tak tertahankan membuatnya menggaruk hingga luka. “Saya gatal dan mengelupas. Saya menggaruk sangat keras dan menggunakan sisir sampai berdarah,” ujarnya. “Saya berpikir, 'Saya tidak bisa hidup seperti ini. Saya gatal, sengsara, tidak nyaman. Saya perlu menemui seseorang yang bisa memberi saya kelegaan.'”
Kondisi ini mulai mengganggu saat ia berlatih menjelang Olimpiade Paris 2024. Biles menyadari ada rasa gatal dan pengelupasan di sekitar ubun-ubun, tetapi ia sempat menunda mencari pertolongan medis karena jadwalnya yang padat. “Saya selalu di gym, selalu bepergian, jadi saya tidak mengambil langkah itu, tapi akhirnya menjadi sangat parah,” kenangnya. “Di Olimpiade, saya mengelupas di mana-mana, jadi saya takut seseorang akan melihatnya di TV... itulah mengapa saya akhirnya pergi.”
Setelah didiagnosis, Biles kini menggunakan ZORYVE foam untuk mengelola gejala, serta krim ZORYVE pada lengan. Ia juga bekerja sama dengan Arcutis Biotherapeutics, Inc. dalam kampanye “Skin to Believe In” untuk meningkatkan kesadaran tentang kondisi kulit. Dokter spesialis kulit bersertifikat, Dr. Angela J. Lamb, yang bergabung dalam wawancara, menekankan pentingnya penanganan dini. “Keterlambatan diagnosis hanya memperburuk keadaan. Simone seharusnya tidak mengalami pendarahan pada kulit kepalanya. Untungnya ia tidak mengalami infeksi, tetapi terkadang itu bisa terjadi,” kata Dr. Lamb.
Kisah Biles menyoroti pentingnya kesadaran akan kesehatan kulit, terutama di kalangan atlet dan individu dengan aktivitas tinggi. Seborrheic dermatitis adalah kondisi peradangan kulit yang umum, ditandai dengan kulit merah, bersisik, dan gatal, sering terjadi pada area berminyak seperti kulit kepala. Eksim, atau dermatitis atopik, juga menyebabkan kulit kering, gatal, dan meradang. Keduanya dapat memengaruhi kualitas hidup secara signifikan jika tidak ditangani dengan tepat.
Di Indonesia, kesadaran akan kondisi kulit seperti seborrheic dermatitis dan eksim masih rendah. Banyak orang mengabaikan gejala awal dan menganggapnya sebagai masalah kosmetik biasa. Padahal, menurut data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), kasus dermatitis seboroik cukup umum ditemukan di klinik kulit, terutama pada usia produktif. Faktor pemicu seperti stres, cuaca lembap, dan polusi udara memperburuk kondisi ini. Sayangnya, akses ke dokter spesialis kulit masih terbatas di beberapa daerah, sehingga penanganan sering terlambat.
Dr. Lamb menambahkan bahwa penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi serius. “Orang yang tidak mengelola seborrheic dermatitis dapat mengalami kerontokan rambut... jadi Anda benar-benar ingin segera ditangani,” tegasnya. Pesan ini relevan bagi masyarakat Indonesia yang sering mengandalkan produk over-the-counter tanpa konsultasi medis. Edukasi tentang pentingnya diagnosis dini dan pengobatan yang tepat perlu digalakkan, terutama melalui kampanye kesehatan kulit di media sosial dan puskesmas.
Ke depan, kisah Biles diharapkan dapat memicu diskusi lebih luas tentang kesehatan kulit di kalangan atlet dan masyarakat umum. Dengan meningkatnya paparan informasi melalui platform digital, diharapkan lebih banyak orang tergerak untuk mencari bantuan profesional sebelum kondisi memburuk. Apakah Anda sudah peduli dengan kesehatan kulit Anda?



