NASA Kucurkan Rp5,6 Triliun untuk Selamatkan Starliner Boeing, Astronaut Baru Terbang 2028
Baca dalam 60 detik
- NASA menggelontorkan dana tambahan US$359 juta (sekitar Rp5,6 triliun) untuk memperbaiki kapsul Starliner milik Boeing yang bermasalah.
- Misi berawak baru dijadwalkan paling cepat 2028, sementara penerbangan kargo tanpa awak akan dilakukan Desember tahun ini.
- Langkah ini krusial bagi NASA yang ingin memiliki dua moda transportasi orbital independen setelah pensiunnya pesawat ulang-alik.

NASA resmi mengucurkan dana segar US$359 juta (setara Rp5,6 triliun) guna membangkitkan kembali Starliner, kapsul antariksa milik Boeing yang sempat mencoreng reputasi badan antariksa Amerika Serikat itu. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Administrator NASA Jared Isaacman pada Senin (14/7), menandai babak baru upaya penyelamatan proyek yang sempat terpuruk akibat serangkaian kegagalan teknis pada 2024.
Starliner sebelumnya menjadi sorotan setelah dua pilot ujinya, Butch Wilmore dan Suni Williams, terpaksa bertahan di Stasiun Antariksa Internasional (ISS) selama hampir setahun. Insiden tersebut kemudian diklasifikasikan NASA sebagai "Type A mishap" โ tingkat kecelakaan paling serius yang membahayakan keselamatan awak. Kini, Boeing ditargetkan dapat menerbangkan Starliner versi perbaikan menuju ISS pada Desember mendatang, namun tanpa awak, hanya membawa kargo.
Penerbangan berawak baru akan dilakukan paling cepat pada 2028, menunggu rampungnya redesain keamanan yang diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Manajer program Dana Weigel menegaskan bahwa tidak ada kompromi soal keselamatan. "Semua pihak harus yakin bahwa seluruh masalah Starliner telah teratasi sebelum astronaut kembali naik," ujarnya.
Keputusan NASA untuk tetap bersama Boeing bukan tanpa alasan. Sejak era pesawat ulang-alik pensiun, NASA memang mendambakan dua penyedia layanan transportasi orbital independen. Boeing dan SpaceX masing-masing menerima miliaran dolar untuk mewujudkan ambisi tersebut. SpaceX dengan Crew Dragon-nya telah sukses mengantar astronaut sejak 2020 dan pekan ini akan meluncurkan misi kru ke-14 untuk NASA.
Namun, SpaceX berencana menghentikan operasional roket Falcon 9 dan kapsul Dragon dalam beberapa tahun ke depan untuk beralih ke Starship yang lebih besar. Starship sendiri terlalu besar untuk bersandar di ISS, sementara Elon Musk lebih memfokuskan perusahaan pada misi ke Bulan dan Mars. Kondisi ini membuat NASA semakin bergantung pada Starliner sebagai alternatif jangka panjang.
"Kami selalu berkomitmen menyelesaikan ini bersama Boeing, dan sekarang kami berada di jalur yang tepat," tegas Isaacman.
Astronaut NASA Woody Hoburg, yang akan memimpin penerbangan Starliner berikutnya, menyatakan rasa hormatnya kepada para pendahulu. "Butch dan Suni adalah pahlawan Amerika, dan saya sangat tersanjung bisa mengikuti jejak mereka," ujarnya.
Meski ISS dijadwalkan pensiun dan dihancurkan pada 2031, beberapa perusahaan swasta Amerika tengah mengembangkan stasiun orbit komersial yang kelak membutuhkan layanan taksi antariksa yang andal. Starliner diharapkan menjadi salah satu penopang ekosistem tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin pentingnya diversifikasi mitra teknologi dalam proyek strategis. Ketergantungan pada satu penyedia โ seperti halnya NASA yang sempat mengandalkan SpaceX โ menyimpan risiko jika terjadi perubahan prioritas. Indonesia yang tengah mengembangkan industri dirgantara dan satelit nasional dapat mengambil pelajaran tentang perlunya kemandirian teknologi dan kemitraan yang seimbang.
Ke depan, pertanyaannya: akankah Starliner benar-benar pulih dan kembali dipercaya, atau justru menjadi beban yang memperlambat ambisi eksplorasi luar angkasa NASA? Waktu yang akan membuktikan, tetapi taruhannya adalah reputasi Boeing dan masa depan transportasi orbital Amerika.



